1.3 Dream

2K 423 30
                                        

"Mau kemana?" Felix mencegat Seungmin yang tanpaknya tergesa-gesa.

"Hm?" Jawab Seungmin tidak fokus.

"Hei, kau kenapa?" Tanya Felix khawatir setelah melihat mata Seungmin yang berkaca-kaca.

"Teringat mimpi semalam." Seungmin menjawab jujur sambil menyeka air matanya yang sudah mulai turun satu-persatu. Ia memang tidak pernah bisa berbohong kepada Felix.

"Mimpi buruk, ya? Kalau begitu jangan diingat-ingat lagi." Saran Felix.

"Aku berusaha melupakan mimpi itu, tapi rasanya mimpi itu seperti sebuah pertanda."

Felix meneguk ludahnya. Ia melihat wajah Seungmin yang lesu. "Apa kau bersedia menceritakan mimpimu padaku?"

Seungmin mengangguk sekali. "Temani aku ke kabin Jeongin. Mimpi itu berkaitan dengannya."

"Baiklah. Lagipula aku belum pernah bertemu dengan Yang Jeongin."

Akhirnya Seungmin dan Felix pergi ke kabin Jeongin yang terletak tidak jauh dari Pantai Tritte.

Kriett...

Pintu terbuka setelah Felix mengetuknya tiga kali. Tampak Jeongin masih memakai piama bergaris-garis berwarna biru. Anak itu sepertinya baru bangun.

"Seungmin hyung? Ada apa pagi-pagi kem—" Ucapan Jeongin terpotong karena tiba-tiba Seungmin memeluknya.

"Syukurlah kau baik-baik saja." Kata Seungmin dalam pelukan tersebut.

Jeongin mendengar isakan kecil dari hyung-nya itu. Ia akhirnya membalas pelukan Seungmin walaupun bingung.

"Ayo masuk." Jeongin mempersilakan yang lebih tua masuk kabinnya. "...maaf berantakan. Lita–harpy yang suka membersihkan kabinku tidak datang 1 minggu. Aku juga belum sempat bersih-bersih."

Baik Seungmin dan Felix memaklumi.

"Hyung mau minum? Aku punya americano sachet. Beberapa hari yang lalu Sam-ahjussi memberikannya padaku karena ia tau aku sangat suka kopi."

Felix mengangguk semangat. Ia jarang sekali minum kopi karena tidak pernah sempat membelinya. Ya, pria blesteran itu adalah orang yang sibuk.

"Tidak perlu. Aku cukup air putih saja." Seungmin menolak dengan halus. "...aku belum sarapan dari tadi. Tidak baik meminum kopi sebelum sarapan."

"Aku juga belum sarapan. Kalau begitu aku akan ambilkan sarapan dari kantin dan kita sarapan bersama disini. Sebentar." Jeongin bergegas memakai sweater-nya.

"Kau disini saja. Biar aku yang ambilkan." Tukas Felix. "...Seungmin ingin membicarakan sesuatu padamu."

"Aku tidak mau merepotkan. Bagaimanapun aku ini tuan rumah." Jeongin merasa tidak enak kepada Felix karena mereka baru saja bertemu.

"Tenang saja. Aku senang direpotkan." Felix tersenyum. "...oh jika kau masih merasa tidak enak padaku, tolong buatkan aku american dan beri aku beberapa sachet!"

Felix pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Jeongin.

"Yasudah. Aku akan ambilkan air putih dan membuatkan kopi untuk Felix hyung. Tunggu sebentar ya!" Kata Jeongin setelah Felix pergi.

Seungmin mengangguk. Di benaknya terpikir bagaimana cara mengatakan mimpinya kepada Jeongin.

"Hoi!" Felix membuyarkan lamunan Seungmin. Di tangannya terdapat nampan yang berisi 6 lapis roti panggang dengan macam-macam selai. Felix juga menggigit selapis roti di mulutnya.

"Kau membuatku kaget." Seungmin mengelus dadanya. Felix hanya terkekeh.

Tak lama kemudian, Jeongin membawa segelas air putih dan dua cangkir americano. Harum americano yang khas mulai tercium memenuhi ruangan.

"Makan dulu rotinya walaupun cuma segigit. Biarkan perutmu terisi dulu." Seungmin menepuk tangan Jeongin karena yang lebih muda itu hampir menyeruput kopinya.

Jeongin langsung nurut. Ia takut membuat Seungmin marah.



















"Aku tau mempercayai mimpi adalah hal yang bodoh. Tapi entahlah mimpiku semalam sangatlah nyata." Seungmin membuka ceritanya.

"Di mimpi aku melihat bumi menjadi arena perang. Olympus hampir runtuh. Ebola dan Wabah penyakit menyerang siapapun, tidak pandang umur." Seungmin mengambil nafas.

"Kita semua berperang. Entah berperang untuk apa. Aku sangat merasa bersalah mengatakan ini. Woojin-hyung menangis melihat ayahnya mati dibunuh, Minho-hyung melawan serigala betina yang membesarkannya di hutan, Hyunjin dan Han melawan Tritton. Keadaan sangat kacau. Dan aku hanya menyaksikan perang itu tanpa melakukan apapun." Seungmin menutup sebagian wajahnya dengan tangan.

"Felix, aku melihat Pegasusmu— demi apapun aku tidak sanggup mengatakannya. Aku minta maaf." Seungmin menunduk.

Jeongin dan Felix langsung menangangkan Seungmin.

"Tidak masalah. Itu hanya alam bawah sadarmu." Felix mengusap punggung Jeongin. Berusaha memberikan efek tenang.

Fyuhh. Seungmin menenangkan dirinya sebentar. Ia merasa bahwa dirinya harus menceritakan ini kepada Felix dan Jeongin. Supaya ketakutannya sedikit berkurang.

"Pegasusmu... mati. Ia bersimbah darah. Kakinya patah." Kata Seungmin ragu.

Felix terdiam. Ia tidak bisa berekspresi. Bagaimanapun Felix sangat menyayangi Pegasusnya sebagaimana Hyunjin dan Seungmin menyayangi Kkami dan Binjhi.

"...dan Jeongin. Aku melihatmu terbunuh."

Berbeda dengan Felix, Jeongin penasaran dengan cerita mimpi Seungmin. Ia berpikir bahwa mimpi Seungmin itu seperti anime-anime yang suka ia tonton. Pemikiran yang terlewat polos.

"...kau mati dibunuh oleh Apollo. Ayahku."

Setelah mengatakan itu Seungmin menunduk lebih dalam. Air matanya mulai jatuh.

Jeongin tidak tega, ia memeluk Seungmin erat. "Hyung tidak apa-apa. Itu hanya mimpi buruk. Kalau masih takut hyung boleh tidur di kabinku."

"Benar. Kau boleh tidur di kabin Jeongin, atau kabinku, atau Hyunjin, atau siapapun. Mereka pasti mengerti." Felix menambahkan.

"Terimakasih sebelumnya. Tapi bukan masalah itu..." Seungmin menggantung kalimatnya.

"Kalian tau kan? Para dewa suka berbicara dengan kita melewati mimpi?" Seungmin mengulum bibirnya.
























——

Maaf late update dkfklf aku lagi minggu minggu uts 🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️

btw aku kok makin merasa kalo ceritanya tambah gajelas ya? padahal bari 2/9. menurut kalian gimana?

Demigod || Stray KidsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang