"Kalian diramal oleh kembaranku?" Tanya Minho.
Ya, Jeongin dan Hyunjin memutuskan untuk berkunjung sebentar ke kabin Minho sehabis dari kabin Minhee.
"Iya." Jawab Hyunjin. "Hyung tolong tuangkan nektarnya dong!"
Minho menuangkan nektar yang ia dapat dari tempat Changbin ke dalam gelas. Changbin–si direktur karantina- itu memang mempunyai banyak stok nektar dan anggur.
"Apa aku boleh coba nektar juga? Sepertinya enak." Gumam Jeongin yang didengar oleh para hyung-nya.
"Tentu tidak. Maksudku belum. Kau belum diperbolehkan meminum ini, Yang Jeongin." Hyunjin menggerakan jari telunjuknya.
"... nektar adalah sojunya kami. Kau masih dibawah umur. Jadi kau belum boleh minum ini."
"Coba lagi tahun depan." Gurau Minho.
Jeongin menatap kedua hyung-nya yang sibuk tertawa.
"Minhee noona bilang akan ada anggota baru pengikut Artemis." Kata Hyunjin setelah tawanya mereda.
"Apa hal itu ada hubungannya denganmu? Kenapa Minhee bilang seperti itu?" Minho mengerutkan alisnya.
Hyunjin mengedikan bahu. "Entahlah. Minhee noona bilang bahwa aku harus berhati-hati agar tidak jatuh cinta pada pengikut Artemis."
"Kau tidak akan jatuh cinta kepada mereka kan?" Minho menatap Hyunjin ragu.
"Tentu tidak. Lagipula sampai sekarang aku masih sulit melupakan Aera.*"Ucap Hyunjin percaya diri.
Minho mengangguk mengerti. Ia menyaksikan seberapa hancurnya Hyunjin ketika Aera memilih untuk mati.
"Ramalan Minhee jarang akurat. Kau tidak perlu takut." Minho menenangkan. "...dan bagaimana kau, Jeongin? Apa yang dibilang kembaranku padamu?"
Jeongin awalnya ragu menceritakannya kepada Minho. Tapi Hyunjin meyakinkan Jeongin.
"Minhee noona bilang bahwa Jisung hyung akan keluar kabin untuk menemuiku."
Sontak Minho membulatkan matanya.
'Jisung mau keluar kabin untuk menemui Jeongin? Yang benar saja!"
"Hyung?" Panggil Jeongin karena tidak ada sahutan dari Minho.
"Yasudah. Kalian jangan sepenuhnya mempercayai ramalan Minhee."
Baik Jeongin dan Hyunjin mengangguk.
"Minho-hyung, kenapa nomor kabinmu 026? Bukannya ulang tahunmu itu 25 Oktober?" Jeongin penasaran.
"Ah aku bertengkar hebat dengan Minhee karena hal kecil itu." Minho menertawai dirinya sendiri.
"Mereka bertengkar sampai membakar ruang makan." Hyunjin menambahkan.
——
Jeongin dan Minho berlatih pedang bersama. Minho yang dasanya sudah lumayan lihai dalam berpedang-pun mengajarinya.
"Kau harus cepat. Musuhmu tidak pernah menunggu." Saran Minho.
Jeongin kewalahan menerima serangan-serangan hyungnya. "Hyung tolong pelan-pelan." Pintanya
Minho tentu saja tidak menganggapi permintaan Jeongin. Ia tetap menyerang Jeongin dengan bertubi-tubi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Demigod || Stray Kids
Fanfiction[Au -Stray Kids] Apa terlahir seperti ini adalah sebuah malapetaka? ©gaezelly, 2019 starts : 190119 #1 in demigod
