Extra - after the wedding

20.2K 1.8K 157
                                        

Selesai acara resepsi, Jun dan Rere hanya bermalam sehari saja di hotel setelahnya mereka pulang ke rumah. Mereka sepakat menunda bulan madu karena ingin merapikan isi rumah yang belum sempat tersentuh saat mereka terlalu sibuk dengan persiapan menikah dan juga pekerjaan.

Sejauh ini, walau terasa berdarah-darah saat mempersiapkan pesta, segala sesuatu berjalan lancar. Dekorasi yang cantik dan perut tetamu yang kenyang saat selesai acara adalah sebuah patokan keberhasilan. Setidaknya tamu-tamu mereka terlihat sama gembiranya ketika mereka pulang.

Jun mendapati Rere duduk di karpet ruang keluarga, membuka berbagai macam bingkisan. Dia masih mengenakan gaun tidur yang semalam, rambutnya juga masih belum menyentuh sisir.

Jun membelai lembut puncak kepalanya, lalu ikut duduk di sebelah Rere, memerhatikan benda-benda yang sudah terbuka dari bungkusnya.

"Banyak bangetttttt!" keluh Rere. "Aku lagi catat dari siapa aja supaya kita bisa kirim thank you note sebelum pergi," tambahnya lagi.

Jun hanya manggut-manggut. Walaupun di surat undangan mereka menuliskan, tidak menerima sumbangan dan hadiah dalam bentuk apa pun, tetap saja mereka masih kebanjiran hadiah dari rekan kerja, teman dekat, dan keluarga. Mulai dari perlengkapan rumah, dapur, sampai jam tangan berpasangan.

Dia mulai bergerak juga memilah-milah barang. Gemma memberikan mixer KitchenAid warna merah sementara hadiah tambahan dari Al tak lain tak bukan, hanya Coffee maker. Sepertinya sudah menjadi ciri khas dia memberikan mesin itu pada kerabat yang menikah. Grace, Shane, dan sekarang Jun, bahkan mendapat Coffee maker merk yang sama!

Jun mengangkut set peralatan memasak serta peralatan makan dari Grace dan merapikannya ke lemari dapur. Kakaknya memang luar biasa baik hati. Padahal sebelumnya dia sudah membelikan kompor tanam, oven, dan juga lemari es sebagai hadiah. Dia juga mendapat set kamar tidur dan sofa baru dari Shane. Itulah salah satu keuntungan punya kakak kandung yang masing-masing menikahi billionaire.

Walau hadiah yang paling membuatnya terkesan adalah dari ayahnya. Tak hanya membantu Jun untuk dana pesta pernikahan, kemarin sebelum mereka pulang ke rumah, ayah memanggilnya untuk bicara empat mata. Saat itu dia menyodorkan amplop coklat besar ke Jun. Ketika dia lihat, ternyata isinya beberapa buku tabungan dan juga kartu ATM. Tabungan yang ayahnya buka atas nama Jun dari sejak Jun belum memiliki KTP.

Jun tertarik melihat saldo di tiga buku terakhir. Isinya semua yang sudah dia bayarkan ke ayahnya dulu. Uang cicilan motor serta uang cicilan saat dia mengambil spesialis bedah.

Ayahnya hanya berkata singkat. "Tabungan kamu, Dek. Ayah simpan sampai kamu siap berkeluarga. Jangan sampai menantu ayah merasa kekurangan saat bersama kamu."

Jun terharu, nyaris saja dia mencium ayahnya, namun mood-nya drop seketika ketika ayahnya menambahkan. "Nah, berhubung modalnya udah ada, lunasin sana cicilan rumah ke Daddy Zain!"

Duhhhh, Ayaaaahhhh. Padahal mau dipakai buat modal jalan-jalan pas honeymoon! Biaya resepsi benar-benar membuat tabungan dia nyaris tersisa limit terakhir saja!

Hampir seharian mereka membereskan barang-barang lalu akhirnya terkapar setelah mengirimkan email ucapan terima kasih ke masing-masing pemberi hadiah.

Keesokan harinya, Rere sibuk membereskan isi lemari pakaian. Menyusun tas, sepatu, sampai ke koleksi parfumnya. Dia menaruh dengan hati-hati set perhiasan yang diberikan oleh ibu mertua ke dalam brankas.

"Ini kita harusnya kerjanya cuma bikin kasur berantakan kalau baru nikah. Ini kenapa malah pegel ototnya gara-gara bebenah, sih?" protes Jun yang cemberut saat merapikan kemeja-kemejanya di lemari. Tadi dia sempat protes kenapa hanya diberi tiga laci untuk jatah pakaiannya sementara Rere membajak nyaris dua lemari.

Kang JunedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang