Segala sesuatunya tak akan pernah sama lagi.
Begitulah anggapan Jun saat dia menatap jauh lampu-lampu ibukota dari balkon apartment AJ.
AJ sengaja mengumpulkan mereka semua yang tercerai-berai karena kejadian penuh duka ini, terutama untuk mendamaikan Gemma dan Jun.
Saat pulang dari pemakaman, mereka semua berkumpul di rumah Rasya sesuai permintaan Cassie yang ingin anak laki-laki satu-satunya diurus jenazahnya di rumah masa kecilnya dan Grace menyetujuinya.
Kak Grace....
Jun menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk bernapas normal karena supply udara seakan berhenti setiap kali dia memikirkan kakaknya.
What happened with his sister? Setiap ucapan belasungkawa yang datang dari pengunjung yang membludak ditanggapi dengan senyum. Bahkan saat rekan-rekan kerja yang dekat dengan Azha tak kuasa menahan tangis, dia memeluk mereka, mengusap punggung untuk menenangkan.
Dunia seperti terbalik. Malah dia yang sibuk mengatakan, semua akan baik-baik saja, dia sudah tenang sekarang, dia akan bahagia di sana.
Kakaknya yang anggun, kuat, dan tegar.
Itu yang ada di pikiran semua orang sampai ketika Jun diminta kembali ke RS untuk memeriksakan diri.
Setelah mengetahui jika dia sudah bisa beraktifitas lagi, dengan gamang dia berkeliling RS entah untuk apa namun langkahnya terhenti di depan ruangan Azha yang pintunya terbuka sedikit, membuat dia agak penasaran dan melihat siapa yang ada di dalam sana.
Dia tertegun mendengar suara orang yang tersedak, meratapi benda di tangannya.
Jun sering mendengar raungan orang saat dia harus mengabarkan berita duka. Tapi suara yang dia dengar saat ini melebihi semua yang pernah dia dengar.
Putus asa, takut, sedih, marah, semua emosi yang akhirnya tertuang. Sesuatu yang Jun tak ingin dengar lagi sepanjang hidupnya.
Gina ada di sebelahnya memeluk erat Grace yang kehilangan semua ketenangannya.
"He... He... He kept it... He kept it, Gina" tangan Grace mengacungkan test pack.
"I found it in his desk... He kept it!! And now I lost both of them...
Whyyyy... Whyyy... Am I done something wrong?? Why they chose to leave without me... Why??? God, please why??"
Gina sama sekali tak berusaha menghentikan tangisan Grace, dia memeluk semakin erat, membiarkan bajunya basah oleh airmata Grace yang menangis meraung-raung.
"Life is cruel, Grace.... Life is not fair.... I know... You just need to let everything go. Di sini kamu bisa menangis, meratap, memaki, mengumpat, you can do whatever you like. I'm gonna be here to listen and promise you.... You'll never be alone," bisik Gina yang wajahnya juga sudah bersimbah airmata.
"I can't do this, Gin. How can I survive with this? How can I survive without him?" isakan Grace semakin keras.
"No you won't... But you will be... You will be, Grace."
Jun tak bisa bergerak. Hanya diam di sana seperti orang bodoh yang kehilangan arah.
Dia penyebab semuanya.
Saat kesadaran itu menghantamnya dia berlari kencang, mengabaikan peraturan tak boleh berlari di RS. Melewati Rere yang terkejut memanggil-manggil namanya.
Jun tak berhenti. Dia tetap berlari, membuka pintu tangga darurat dan mendaki sampai ke ujung. Saat dia tiba di atap, melihat ke arah matahari yang bersinar terik seakan tak peduli, dia marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kang Juned
General Fiction"Soon, you will find a man who will ruin your lipstick, not your eyeliner." -Jun Ryuji Hamizan, si calon dokter bedah.- Cover by : CurioCherry
