Hanbin datang membawa minuman khas yang di pesan Kim Misoo malam ini. Dengan cengiran khas di wajahnya, Misoo tau bahwa laki-laki ini pasti akan menggodanya.
"Jadi, sahabatku adalah kekasih temanku sekarang?" kata Hanbin sambil menyodorkan gelas red wine itu pada Misoo.
Misoo tertawa sinis, "aku baru tahu kau dan Jimin dulu satu sekolah, dan kenapa tidak beritahu aku sejak awal?"
"Aku kan tidak akan tau jika dia adalah namja yang selalu kau bicarakan"
"Jadi Misoo sering membicarakanku padamu?"
Misoo terkejut kala mendengar suara khas Jimin. Kedatangan Jimin pasti akan berdampak buruk, karena Misoo sudah berjanji pada Jimin untuk tidak minum sendirian lagi.
"Aku bersama Hanbin Jim, tidak banyak minum kok" lirih Misoo yang hanya di sambut anggukan kecil oleh Jimin.
Mendengar percakapan itu, lantas membuat Hanbin tertawa lepas, " hei!! Kenapa Misoo jadi penakut begini sih? Wah wah!"
"Diam kau babi!"
"Owww Kim Misoo pelanggan setiaku akan jarang datang kemari karena takut pada kekasihnya ya? Hahahha"
Bahkan Jimin ikut tersenyum saat melihat kekasihnya itu mulai menahan emosinya, "tidakpapa sayang, aku disini. Minumlah. Kau boleh minum saat bersamaku, hm?"
Misoo mengangguk ragu, pasalnya ini bukan Jimin yang ia kenal. Bukan Jimin yang akan bersikeras melarangnya minum-minuman beralkohol itu. Misoo benar-benar ragu. Gadis itu mengisyaratkan Hanbin untuk meninggalkan mereka berdua.
"Jim, gwaenchana?"
Jimin menatap Misoo disertai senyumannya. Menggenggam lembut tangan Misoo, "kau selalu tau aku sedang tidak baik-baik saja sayang"
Tak ada hal apapun yang tersembunyi diantara keduanya. Semenjak memutuskan untuk berkencan, mereka selalu membicarakan hal pribadi satu sama lain. Jadi Misoo tau, ketika Jimin sedang dalam keadaan tidak baik, maka pria ini akan datang pada Misoo. Begitu juga sebaliknya.
"Ibuku kecelakaan, dan butuh transfusi darah yang banyak. Hanya aku yang bisa menolongnya"
Dengan menggenggam tangan Jimin dan menatapnya lekat, "aku tau ada rasa benci dalam dirimu terhadap ibumu Jim, tapi bagaimanapun juga dia adalah orang yang telah melahirkanmu. Tanpanya aku tidak akan mendapat kekasih paling tampan seperti ini"
Jimin menyunggingkan senyumnya dan memeluk Misoo saat itu juga. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Misoo. Ini yang dia suka dari Misoo, rasa nyaman itu selalu ada saat mereka bersama. Jimin selalu menjadikan Misoo tempat berlabuh saat kegundahan hatinya melanda.
"Ini yang terakhir Jim, berikan darahmu. Jika setelah itu Nyonya Min Young masih melakukan tindakan yang sama, aku tidak akan memaksamu lagi."
"Ini karenamu sayang, kau sudah janji"
✌✌
Oprasi itu berjalan dengan sangat lancar kemarin. Nyonya Park Min Young juga sudah di pindahkan di ruang rawat. Keadaanya sudah lebih baik dari dua hari yang lalu saat dirinya kehilangan banyak darah.
Dalam ruangan serba putih itu, Misoo memberanikan diri untuk mendekati ranjang pasien, "nyonya, terimakasih karena sudah melahirkan Jimin yang sangat tampan. Aku yakin, nyonya juga mempunyai perasaan yang sama denganku, bahkan lebih pada Park Jimin bukan? Aku akan menjaganya untukmu, jadi bukalah matamu dan biarkan mata indah itu melihat buah hatimu yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan"
"Terimakasih," suara itu berhasil menghentikan langkah Misoo dan berbalik kembali menatap ranjang pasien yang menampakan wanita bernama Park Min Young itu tersenyum lemah kepadanya.
Misoo tersenyum senang melihat hal itu. Dan tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka menampakan tuan Park yang ada di kursi roda dengan Jimin yang mendorongnya.
Tuan dan Nyonya Park saling menatap satu sama lain, seolah mengatakan sesuatu yang tak bisa mereka sampaikan satu sama lain.
Sampai akhirnya, Nyonya Park dengan suara lemahnya "mianhae yeobo, mianhae Jimin. Kalian pasti membenciku. aku pantas mendapatkan ini" ( maaf, panggilan suami)
Suasana haru ini membuat Misoo berpikir untuk pergi, tapi Jimin menahannya.
"Eomma, kau harus tahu bahwa gadis ini yang memaksaku untuk mendonorkan darahku untukmu, gadis ini juga yang sering mengingatkanku untuk membawa Appa pergi terapi. Dan aku sangat mencintainya"
"Arrayo, Jimin-ah. Eomma yakin dia gadis yang baik" (aku tahu)
"Dan karena dia juga yang memaksaku untuk memaafkanmu, eomma..." lirih Jimin, dengan sebutir air mata yang mengalir di pipinya.
Kim Misoo mengisyaratkan Jimin untuk lebih mendekat pada ibunya. Dan tanpa disangka, Jimin bergegas memeluk ibunya yang terbaring lemas dengan berderai airmata haru yang membasahi.
"Apa kalian berdua tak ingin mengajakku berpelukan juga?"
Suara bariton itu seketika membuat seisi ruangan tercengang dan sedikit menahan tawa. Dengan sigap Misoo mendorong kursi roda tuan Park agar lebih dekat dengan anak dan istri tercintanya.
Ahh, ini sungguh melegakan. Pemandangan ini membuat Misoo bangga pada dirinya sediri, karena sudah berhasil menyatukan keluarga ini lagi.
✌✌
Sebuah tangan kekar melingkar di perut kecil Misoo saat dirinya tengah menatap deburan ombak di senja ini. Beberapa kecupan hangat juga ia terima di sekitar pelipisnya. Sungguh, ini adalah senja yang luar biasa bagi Misoo. Dia ingin menghentikan waktu untuk sejenak menikmati momen ini dengan mata dan hatinya. Tuhan benar-benar baik hati telah menghadirkan hal-hal yang sangat menyenangkan.
"Aku mencintaimu Kim Misoo"
"Aku juga mencintaimu, Park Jimin"
Mereka tertawa dengan apa yang baru saja mereka katakan satu sama lain.
"Hey kalian! Ayo kemari!" teriak Taehyung dari pinggir pantai sambil melambaikan tangan dan menampilkan senyum kotaknya, dengan Youra dan seluruh member bulletproof yang ada disana lengkap dengan kekasih masing-masing.
Terimakasih Tuhan, ini yang aku inginkan. Oppaku kembali, keluargaku membaik, teman-temanku semakin banyak, dan yang terpenting kekasihku sangat tampan. Hehe...
=The real End=
KAMU SEDANG MEMBACA
SERENDIPITY | PJM ✔
Roman pour Adolescents[FOLLOW DULU] Tidak ada orang yang ingin di tinggalkan bukan? *** 📍BTS Fanfiction | Jimin series Cerita ini sudah selesai, tapi tetap hargai karya orang lain dengan memberikan vote dan comment kalian! Thanks💜
