14• Bersalah

28 5 0
                                    

Di hari yang sama saat Via menunggu Resa, bel pulang sekolah berbunyi seluruh siswa SMA 3 berhamburan keluar kelas.

"Res, hari ini kerja kelompok di rumah Andre." Ajak Agil.

"Enggak bisa, gue udah ada janji." Jawab Resa.

Andre mendelik, "Lah ini tugas buat besok, lo udah kita ajak beberapa hari yang lalu alesan mulu elah. Kali ini enggak nerima alesan, lo harus kerja kelompok."

Resa akhirnya dipaksa oleh dua curut ini untuk kerja kelompok. Resa bahkan lupa kalau ada tugas karena memang dia sedang banyak pikiran.

"Via nungguin gue enggak ya?" Batin Resa.

Sesampainya dirumah Andre, Resa akan menghubungi Via karena akan membatalkan janji mereka.

"Astaghfirullah, hp gue lowbatt gimana anjir?" Resa bingung.

"Ya di charger ogeb, masa dibuang." Kata Andre.

"Gue enggak bawa chargeran, lagian hp kalian android sedangkan gue I-phone. Gimana elah."

"Ngapain sih emangnya? Panik amat." Kata Agil sambil memakan cemilan.

"Mau ngabarin Bunda." Resa beralasan. Sebenarnya dia ingin mengabari Via.

"Dasar anak Bunda." Ejek Andre.

"Bukan gitu, gue belum bilang ke Bunda kalau gue mau kerja kelompok."

"Heh biasanya aja lo main pulang malem kagak ngabarin Bunda lo." Timpal Agil.

Resa kicep. "Iya juga sih." Batinnya.

"Ayolah kerjain biar cepet selesai."

Mereka akhirnya mengerjakan tugas kelompok mereka. Resa mengerjakan bagian makalah, sedangkan Agil dan Andre mengerjakan proyek yang dibuat.

Entah mengapa hati Resa resah dan pikirannya menuju Via. Dia bingung. Apakah Via menunggunya? Atau kah Via sudah pulang? Resa harus bagaimana?

Dering telpon dari hp Agil membuat mereka bertiga menoleh.

"Siapa Gil?" Tanya Resa.

"Nyokap, bentar ya gue angkat dulu."

Saat Agil sedang berbincang lewat telpon, Resa dan Andre melanjutkan pekerjaan mereka karena tugas ini dikumpulkan besok dan hari sudah mau maghrib.

"Res, Ndre. Sorry banget nih ya gue harus buru-buru balik. Nyokap gue tadi bilang gue harus jemput bokap gue di bandara karena habis kerja di luar kota, jadi mau enggak mau gue harus jemput." Agil merasa bersalah.

"Ah lo mah gitu. Enggak setia kawan." Andre melempar pilus ke arah Agil.

"Heh kutu kupret kagak usah lempar-lempar napa. Ini kasian bokap gue nungguin."

"Ya udah sana kasian, ini tugas gue sama Andre aja yang lanjutin." Resa menengahi.

"Gue enggak enak euy tapi gimana lagi. Ya udah kalau gitu gue pamit ya." Agil pamit kepada Resa dan Andre.

"Dih kan ujung-ujungnya kita yang ngerjain, padahal dia yang ngajak."

"Udah sih Ndre, dikit lagi ini. Makanya lo jangan banyak bacot cepet kerjain."

"Iya iya."

Mereka akhirnya melanjutkan tugasnya. Tak terasa waktu menunjukan pukul setengah delapan malam. Resa akhirnya pamit untuk pulang. Perasaannya tak karuan, begitu juga pikirannya. Satu hal yang saat ini ada di benaknya. Ia merasa bersalah kepada Via.

Motor hitam itu memasuki perumahan dan melewati rumah Via. Resa bingung, apakah dia harus meminta maaf sekarang? Atau menunggu besok?

"Kalau sekarang ganggu enggak ya? Udah malem juga sih. Besok aja kali ya."

Half A HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang