19• Sembab (2)

13 5 0
                                    

"Kenapa mata lo sembab?"

Lelaki jangkung yang mengenakan baju kaos biru dongker tiba-tiba ada di hadapan Via yang sedang melamun. Resa baru pulang dari rumah Tante nya Nadine. Via tak menyadari bahwa mobil Resa dari tadi berada di sebelahnya.

Resa memegangi tangan mungil Via, sedangkan Via malah menghempaskannya begitu saja.

"Lepasin." Ucap Via dingin.

"Lo kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Resa hati-hati.

Via hanya diam tak mau menjawab karena bingung harus menjawab apa. Sedangkan Resa bingung dengan sikap Via sekarang.

Tiba-tiba Via meneteskan air mata dan dengan cepat ia langsung menghapus cairan bening itu di pipinya lalu langsung pergi meninggalkan Resa dengan sejuta tanya di kepalanya.

Resa diam. Tak mengejar Via yang sudah meninggalkannya sendiri. Ia bingung kenapa Via bersikap aneh. Karena ia belum mengetahui yang sebenarnya terjadi kepada Via.

"Via, lo... kenapa?" Lirih Resa.

Dan tiba-tiba hujan mulai turun, Resa hanya berjalan menuju rumahnya sambil ditemani hujan. Ia melewati rumah Via dan hanya bisa menatapnya dari kejauhan.

Kini, semesta ikut bersedih bersama Via dan Resa. Dua insan yang sebenarnya saling menginginkan tetapi kenyataan seakan memisahkan.

Via segera masuk ke dalam rumahnya, kebetulan Reva sudah pulang dari butik dan bingung mengapa mata Via bisa sembab.

"Kak, are you okay?" Tanya Reva.

"Hm? Via ke kamar dulu ya, Via capek." Jawab Via.

"Kamu kalau ada masalah cerita aja sama Ibu, siapa tau Ibu bisa bantu."

"Nanti ya Bu, Via masih pengen nenangin diri dulu."

Reva hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Via berlari kecil menuju kamarnya.

Via merebahkan badannya di atas kasur. Hari ini sangat melelahkan bagi Via. Via menutup matanya dan mengeluarkan air mata lagi. Menangis memang tidak akan membuat masalah selesai, tetapi bagi Via menangis seolah sedikit meringankan pikirannya yang dipenuhi masalah.

Sedangkan Resa ia sedang membilas badannya di kamar mandi karena tadi terkena hujan. Ia masih memikirkan sikap Via yang tak seperti biasanya.

"Via kenapa kayak gitu ya ke gue? Dia lagi ada masalah atau gimana? Atau jangan-jangan..."

Semua pikirannya sudah membuatnya tidak tenang. Berbagai macam prasangka seolah membuat dirinya merasa bersalah. Memangnya apa yang terjadi dengan Via? Ia bahkan masing bingung.

Setelah mandi dan dengan pikirannya yang tak karuan, Resa menghampiri Ibunya yang sedang duduk di toko kue.

"Eh Resa, udah selesai mandinya?" Tanya Nala sambil menghitung uang hasil dari penjualan kuenya hari ini.

"Udah."

"Oh iya, Bunda belum sempet cerita ke kamu nih."

"Cerita apa?"

"Kemarin Via beli kue terus nyariin kamu katanya udah lama enggak ketemu nah Bunda jawab kalau kamu lagi jemput Nadine dan dia ngira Nadine saudara kamu terus Bunda jelasin aja kalau Nadine pacar kamu yang tinggal di Singapura dan rencananya Bunda mau ngenalin ke Via eh Via malah kayak buru-buru pulang." Nala menjelaskan kejadian kemarin saat Via membeli kue di tokonya.

Badan Resa menjadi kaku, lidahnya terasa kelu. Jadi ini yang membuat Via bersikap seperti tadi kepadanya? Jadi Via sudah tau semua? Ah, bodoh sekali Resa.

Half A HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang