Salon... Aku belum juga pergi dari sini, duduk di bangku kemarin , merenung perkataan tante dilla, bagaimana bila benar terjadi...
"Arghh! " Suara perempuan tersungkur dihadapan mataku didorong oleh pria besar menjambak rambutnya..
Airmata tersiksanya menetes deras membuat basah pipinya, aku bangkit berdiri...
"Anak anjing lu, babi! Ga pernah bikin seneng bapaknya, memek! " Bentak pria besar itu mendorong kepala gadis yang sepertinya masih usia SMA empat tahun dibawah ku...
"Gua ga mau peler... " Lirih gadis itu..
"Apa lu bilang? Anjing! " Pria besar dengan perut besar dan perawakan tinggi itu melesatkan tinju ke kepalanya...
Gadis itu bangkit berdiri menangkap pergelangan tangan lelaki botak yyang sepertinya ayahnya ini, memelintir pergelangan tangan nya.. Dengan mudahAku agak sedikit kaget dengan kekuatannya... Mengingat besar lawannya yang mencapai tinggi mungkin seratus sembilan puluh centimeter dan badan yang mungkin beratnya lebih dari seratus kilo
Sadar dengan perbuatannya gadis ini melepas perlawanannya, menunduk,
" Maaf ayah... "
Aku makin terkejut mendengar pria itu ternyata memang ayahnya... Makin murka, pria botak besar itu kembali bersiap meninju anak gadisnya yang tampak cantik dengan gamis biru panjangnya, tampak jelas gadis ini awalnya memakai jilbab.. "Mati lo bangsat! " Pria itu melesatkan tinju..Aku maju menendang dagunya hingga kepalanya mendongak keatas terpental ke meja kasir dua meter di belakangnya..
Aku melangkah pelan menuju pria itu yang duduk bersandar tak berdaya pada meja, "bukan begitu caranya membuat anak membahagiakan mu ....."Orang-orang didalam salon berlari ketakutan keluar dari tempat busuk itu..
"Uhk! " Pria batuk mengeluarkan darah "anjing lu.. "
Aku jongkok didepannya "bukan begini,, dengan cara yang baik jalan yang baik, maka hasilnya pun baik dan akan datang dengan baik... "
Pria ini mencengkram bahu ku, membanting badan ku meja kasir "aaarrrghhhh anjing! "
Punggung ku tersentak, tinjunya bersiap menghantam wajah ku "babi! " Ku raih vas bunga diatas meja..
Pukulannya melesat, aku cepat menghantam kepalanya dengan vas bunga "darr! " Pria itu mundur berapa langkah ke belakang memegang kepalanya yang bercucuran darah...
Anak gadisnya lari keluar dari salon, aku mengejarnya..
Pria tadi tergeletak di lantai...
***
Di sebuah warung makan kecil...Aku duduk berhadapan dengan gadis itu menikmati teh hangat untuk menghangatkan tubuh sehabis terkena hujan dan menghangatkan keadaan yang dingin berselimut awan mendung yang menjatuhkan deras airnya...
Aku tatap gadis ini menunduk masih tenggelam dalam takutnya.. Aku menghela nafas... "Tadi itu ayah mu? "
Mengangguk pelan, lalu mengangkat kepala menatap ku...
Aku tersenyum iba melihat wajahnya... "Kamu sudah aman... " Mengelus rambut nya...
Kami tidak saling bicara menunggu hujan reda... Tetapi gadis cantik ini, salma namanya.. Sudah mengambil janji dariku untuk selalu menjaganya...
......
Hujan sudah mulai reda, kami pun bangkit berdiri hendak pergi dari warung kecil itu mencari tempat yang setidaknya layak untuk kami tempati sementara karena mengingat hari pun sudah sore....
Samar-samar ku dengar sekilas obrolan berapa orang di meja makan belakang ku...
"Sudah dua bulan kita cari indra yon... " Suara lelaki yang lumayan besar tertawa....
Indra? Aku tak terlalu memperdulikan, mungkin bukan indra yang ku kenal..Suara berapa orang wanita tertawa "hahaha dimanalah ya , sudah tiga tahun lalu dia menghilang kabarnya sih ada disini... "
Lelaki pertama tadi tertawa, satu orang lelaki lain menyambung dengan nada nasihat "apa salahnya nyari sebentar. . Indra dulu pernah jadi bagian kita kan? Mumpung ada informasi... Dia juga pernah menolong berapa dari kita dalam kejadian tak terduga tiga tahun lalu? Fina? Rion? Meski hanya setahun dia dekat dengan. Kita... "
Matahari senja menembus awan.. aku dan salma keluar dari warung itu kembali mengukur jalan...
"Kisah ini akan membawa mereka tau siapa yang mereka cari, sebuah tokoh abu-abu "
***

KAMU SEDANG MEMBACA
kabut
Acciónkehidupan membuatnya telah terjatuh pada kegelapan yang merusak seluruh cahaya hidupnya... kini semesta memberikan buah perbuatannya, membuat jiwanya melahirkan penyesalan dan ingin kembali pada hidup yang damai dan penuh cahaya.. keluar dari dun...