Chapter 26

3 0 0
                                    

Kami saling berbaris membelakangi dipimpin oleh iko didepan,  mengenggam posisi siap senjata kami di tangan melewati jalan rumput dan duri hutan... Iko,  fitri,, farah,  rama dan dandi dibarisan depan memimpin gagah dengan rompi dan seragam perlengkapan aparat yang lengkap..  Tante dilla,  aku dan yang lain berada di barisan belakang setelah Rama dan dandi..

Rencana iko,  barisan seperti ini dimaksudkan agar aku, tante dilla dan tujuh penulis yang tersisa terlindungi dengan baik dan nanti dapat membantu bila tiba-tiba ada serangan mengejutkan dari depan.  Mengingat,  kami tidak memiliki persiapan atau seragam pelindung apapun seperti iko dan yang lain..  Kami hanya menggunakan pakaian yang kami kenakan dari kemarin yang robek kusut setelah beberapa pertempuran,  senjata tembak jenis Smith & Wesson 500 Magnum dan beberapa granat yang kami dapatkan dari aparat negara...

Dua orang tim medis yang di tugaskan mayjen sur berada di barisan paling belakang dengan persiapan lengkap...

Terus melangkah menembus hutan dengan siaga mengarahkan moncong pistol-pistol kami ke segala arah bersiap...

"Kalo udah sampe sana aku buyarin orang tu! " Rama menyeringai memulai,  sambil tetap dalam posisi siap terus melangkah..

Iko tertawa singkat didepan " Sabar tigo kilometer lagi lop!  " Sahutnya..

" Berani nian dio ngejar yuk sarah,  sesuai kato awak kemaren,  siapopun dolor awak yang kejepet susah,  awak beresin!." Seru Rama tertawa..

Dandi tersenyum menggeleng-geleng pelan, menghela nafas "ha....  Memanglah kau ko..  "

Rama tertawa lagi "lho iyo kan?  Manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi yang lain! "

"Ah iyo! "  Sahut dandi..

Aku memejamkan mata tersenyum mendengar mereka...

Terimakasih...

***

Krrraakk!  Dahan besar pohon melompat jatuh lima belas meter tepat didepan kami dari arah semak-semak...

Langkah kami terhenti bersiap menodong pistol ke arah depan,  kiri dan kanan,  ke arah pohon-pohon besar yang berbaris di samping kiri dan kanan kami.....

Mencoba menatap gelap hutan memperhatikan keadaan yang terjadi, menatap jalan lurus rerumputan memeriksa yang datang..

Keadaan hening sejenak...
Kicauan burung terdengar diatas rindang pohon..  Daun hijau berjatuhan...

"Apa  yang terjadi? " Ani berbisik pada reta..

Reta menggeleng serius menatap gelap hutan....

Iko menatap tajam dahan kayu besar yang tergeletak lima belas meter didepannya..

Tiga detik kemudian..  Kicauan burung makin banyak terdengar, makin nyaring...   Dan tiba-tiba berhenti.
....... 
"Menunduk! " Teriak iko.

Tarrr! Taarr!  Dua suara tembakan meluncur dari dalam gelap hutan.. Kami cepat menunduk menghindar..

Dua tim medis di belakang kami tewas seketika,  darah bermuncratan..

.......

"Apa itu?" Ani tajam menatap dua mayat tewas tanpa daya..

Terdengar nyaring suara seruling Sunda tiba-tiba menggema dalam hutan....

Aku mengerutkan dahi tiga menit lantunan musik khas Sunda itu terdengar,  lalu terhenti....

.......

"Dudududu.... " Dari semak-semak keluar seorang wanita dengan tinggi seratus tujuh puluh centimeter berbadan langsing menggenggam sebuah golok panjang berwarna hitam pekat dari gagang hingga ujung Parangnya...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 06, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

kabutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang