Prologue: Beginning

1K 153 80
                                        

Bukankah dia tampan? Ya, tapi sayang jahilnya luar biasa. Tampannya mubajir. Wajah tampannya tertutupi oleh kelakuan nakalnya. Pembuat onar. Kurasa tidak... Bukankah masih ada banyak siswi yang berusaha mendekatinya?

Seokmin memutar pandangan. Jengah. Jika dihitung, mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali ia mendengar komentar seperti ini. Seokmin memang tidak mau ambil pusing. Tapi, lama-lama kesal juga.

Senang dibilang tampan? Ya, tentu saja senang. Jika melihat Seokmin tenang, diam, serius, siapa yang bisa menolak pesonanya? Namun, jika Seokmin sudah beraksi, mari kita ucapkan selamat tinggal pada kata tampan.

Masalahnya adalah, Seokmin tidak bisa tenang, diam dan serius. Itu adalah hidup yang membosankan. Bukan gaya Seokmin sama sekali.

Pusing dengan bisik-bisik siswi ekstrakulikuler dance itu, Seokmin melangkah pergi. Meninggalkan ruang tunggu khusus siswa-siswi SMP Hanin Art School. Teriakan Mrs. Hyomin tidak dihiraukannya. Tidak sampai satu jam lagi giliran Seokmin yang tampil. Biarlah. Yang penting, rasa kesal Seokmin segera tersalurkan.

Teorinya adalah, jika cacing dalam tubuh kurus Seokmin menggeliat, itu artinya harus segera salurkan. Jika ditahan, kasihan. Mereka juga pengin hidup bebas. Hidup bersenang-senang. Maka, berilah mereka kesenangan.

Kesenangan seperti apa yang cacing itu minta?

Di luar begitu ramai. Tidak hanya dipenuhi oleh siswa-siswi Hanin Art School, namun juga beberapa alumni terkenal yang secara otomatis menarik perhatian wartawan dan banyak fansite. Memegang kamera besar mereka masing-masing.

Alis kiri Seokmin terangkat. Ada Ren di sana. Gadis yang belum genap berusia 25 itu sudah memiliki segudang prestasi. Yang Seokmin tahu, ia baru saja memenangkan penghargaan bergengsi. Kategori pengisi soundtrack drama terbaik. Berjalan dengan penuh kesan keren, diiringi banyak kamera di belakang. Hati Seokmin memuncah. Suatu hari nanti, ia harus bisa seperti gadis bernama asli Choi Minki ini. Menjadi penyanyi berpengaruh, terkenal, juga dikelilingi kamera besar.

Anak laki-laki dengan seragam sekolah kusut itu melanjutkan langkahnya. Tidak jauh dari gedung serba guna tempat acara pentas seni diadakan, terdapat open space. Danau buatan, serta banyak pondok kecil menjadi pelengkapnya. Pohon tinggi dan tamanan dalam pot tumbuh dengan subur. Tempat kesukaan Seokmin kalau sedang ingin suasana yang tenang. Kaki kecil anak SMP itu berhenti beberapa senti dari danau. Matanya berselancar jeli. Mencari apa saja yang bisa membalaskan dendamnya terhadap beberapa dancer sialan sok cantik tadi.

 Mencari apa saja yang bisa membalaskan dendamnya terhadap beberapa dancer sialan sok cantik tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seokmin berjongkok. Mencelupkan tangannya ke air. Ah, rasanya dingin. Sejuk. Sungguh berbanding terbalik dengan terik panas matahari siang ini. Sesekali Seokmin menoleh ke belakang. Pentas seni semakin ramai. Dentuman musik mulai terdengar. Sebentar lagi grup pembuka akan menampilkan pesonanya. Tamu spesial hari ini. Pristin. Kelompok alumni yang baru saja lulus dua tahun lalu. Seokmin harus cepat, kalau tidak mau mendengarkan ceramah panjang spesial dari Mrs. Hyomin. Terlebih lagi, Mrs. Seunghee. Setan berambut panjang.

Wait Me (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang