Sepanjang perjalanan mengantar Jisoo pulang, ponsel genggam Seokmin menerima notifikasi beberapa kali. Mingyu mengirimkannya pesan melalui aplikasi chatting. Seokmin mendapat banyak kontak perempuan yang tadi sempat ditawarkan, juga tiga gadis lainnya yang tak ia tahu bagaimana rupanya. Tapi, Mingyu menjamin bahwa semua gadis itu memiliki kualitas terbaik. Pintar dan cantik. Laki-laki Kim itu tidak bercanda rupanya. Memang berniat untuk menghadiahkan Seokmin beberapa gebetannya.
"Dasar mucikari," desah Seokmin. Dengan suara pelan, namun sayangnya dapat didengar jelas oleh Jisoo. Gadis itu segera menoleh ke arah Seokmin. Tak menanyakan. Membiarkan Seokmin meraung sendiri.
Dilihatnya jari-jari panjang Seokmin menari di atas layar ponsel. Begitu lincah. Jisoo dapat melihat kalau Seokmin tengah sibuk membalas pesan. Tapi ia tidak bisa lagi mendengar racauan Seokmin, padahal sangat penasaran dengan apa yang laki-laki Lee itu bahas. Terlebih lagi dengan racauan Seokmin tadi. Mucikari.
"Seokmin, kamu baik-baik saja?" tegur Jisoo, pada akhirnya.
Memberi jawaban melalui sebuah anggukan, Seokmin mengunci ponselnya. Menyimpan aman di dalam kantung jaket. Menoleh ke kiri. Jalanan sedang padat.
Sejenak Jisoo teringat dengan pembicaraan Seokmin dan Mingyu saat berada di Dokseosil tadi. Seokmin bilang sedang proses mencari kekasih, sampai minta saran pada Mingyu. Minta dikenalkan dengan beberapa gebetan Mingyu dan akan dihibahkan secara sukarela. Begitu kejam menyebut mereka dengan kata hibah. Tapi, lebih kejam lagi Mingyu yang mengoleksi mereka semua.
Sebenarnya Jisoo ingin menanyakan banyak hal tentang itu. Ingin tahu apakah Seokmin sungguhan sedang proses mencari pacar atau tidak. Tapi, sepertinya menanyakan hal sensitif seperti itu untuk sekarang ini adalah waktu yang kurang tepat. Beberapa kali Seokmin berusaha menutup kepalanya dengan kepala jaket. Menyembunyikan kedua tangannya pula di dalam kantung. Seokmin nampak gelisah. Sepertinya kurang nyaman. Risi. Jisoo jadi tidak enak hati. Berprasangka bahwa rasa tidak nyaman Seokmin berasal dari keberadaan dirinya.
Mereka turun di tempat pemberhentian bus yang terdekat dengan rumah Jisoo. Berhenti sejenak di sana. Jisoo sungguh tidak mau membuat Seokmin gelisah seperti sekarang. "Kamu langsung pulang saja, aku tidak apa."
Terlihat Seokmin menimbang sejenak. Sampai melirik ke kiri dan ke kanan entah mencari apa. Lalu, beralih ke jam tangan usangnya. Terdengar desahan pelan yang Seokmin semburkan.
"Ini sudah larut malam," ujar Seokmin, seraya mengambil alih tangan kanan Jisoo. Digenggam erat. "Aku tidak tahu apakah noona sengaja melakukannya atau tidak. Aku sudah mengatakan kalau posisi noona berada di paling depan. Jadi jangan bertindak sesuka hati dan membuatku serba salah."
Alis Jisoo terangkat naik. Tidak mengerti dengan ucapan Seokmin. Ingin menanyakan apa maksudnya, Seokmin terus mengoceh tak jelas. Jisoo semakin tidak mengerti. Tapi, semua ucapan itu seperti angin lalu. Angin dingin dan dihangatkan dalam sekejab. Seokmin menyimpan tangan Jisoo dengan aman masuk ke dalam jaket. Bukan hangat jaket Seokmin yang Jisoo rasakan. Akan tetapi, desiran hangat telapak tangan Seokmin. Jisoo khawatir kalau ia ikut bicara, Seokmin akan melepaskan genggaman tangan mereka. Jadi, untuk sekarang, lebih baik diam.
"Rumah Minghao tidak jauh dari sekolah. Aku bisa mengantarnya pulang dan kembali ke Dokseosil kurang dari setengah jam. Aku pikir noona pasti bisa menungguku. Itu tidak terlalu lama. Tapi noona malah bilang juga ingin pulang. Aku jadi pusing," keluh Seokmin.
Ucapan Seokmin semakin tidak bisa dimengerti. Jisoo sudah tidak peduli dengan tangannya yang kemungkinan akan dilepaskan oleh Seokmin. Ia harus minta penjelasan sekarang juga. "Jangan bicara terlalu berbelit, aku tidak mengerti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wait Me (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
