Mrs. Minhyun dan guru SMA yang belum Seokmin ketahui siapa namanya itu terus asik bicara berdua. Sesekali terdengar rayuan yang membuat Seokmin mual. Melupakan dua murid yang juga berada di dalam sana, kalau saja Seokmin tak berdehem dengan nyaring. Guru SMA terbatuk. Kembali ke topik yang seharusnya. Mendiskusikan proses latihan.
Seokmin nampak gelisah. Di sampingnya Jisoo malah duduk amat tenang. Seperti tak menganggap ada orang lain di sana. Mengutak-atik senar gitarnya.
Setelah beberapa saat, Mrs. Minhyun meninggalkan ruangan. Berpesan agar Seokmin tak bertingkah selama berada di lingkungan SMA. Guru SMA tertawa. Tahu hal apa saja yang harus ia waspadai selama Seokmin berada dalam pengawasannya. Mrs. Minhyun pasti menceritakannya sebagai bentuk antisipasi. Tanpa Seokmin jawab pun, beliau sudah melesat. Pintu ruangan ditutup dengan rapat. Seokmin kehabisan oksigen. Ruangan jadi kedap udara dalam hitungan detik. Aneh. Jisoo dan guru SMA itu malah terlihat biasa saja.
"Halo, Seokmin, namaku Lee Jaehwan. Biasanya murid-murid memanggilku Ken. Terserah kamu saja ingin memanggilku apa. Dan... Wah! Sepertinya kalian berjodoh. Kalian sudah saling mengenal, kan? Mrs. Minhyun bilang kalian sangat dekat."
"Ya, dulu," sahut Jisoo.
Mulut Mr. Ken membulat sempurna. Seperti mengucapkan kata 'wow' tanpa mengeluarkan suara. Pernyataan Jisoo membuat Seokmin tercekik di tempat duduknya. Ingin menoleh, tapi juga enggan. Serba salah. Wanita memang selalu menyusahkan. Seokmin menyesal sempat merasa bersalah saat membuatnya menangis. Dengan kejadian ini, bukankah harusnya Seokmin menjadi lega? Gadis satu ini tidak kalah menyebalkan dari gadis lainnya.
"Oke, aku tidak tahu masalahnya apa, tapi kalian harus bisa menyelesaikannya. Karena ini lagu duet, kalian tidak mungkin menyanyikannya dalam keadaan bermusuhan, kan?"
Sunyi sejenak. Mr. Ken menutup mulutnya dan berpikir. Menyusun rencana, mungkin. Seokmin tak mau ambil pusing. Diam saja dengan kepala menoleh ke samping kiri. Pemandangan open space terpapar jelas dari sana. Indah. Baru beberapa jam lalu Seokmin bolos di sana. Sekarang ia rindu tempat itu lagi.
"Aku yakin kalian berdua sudah sama-sama dewasa meskipun belum legal," ujar Mr. Ken sambil mengangkat dua jarinya saat menyebut kata legal. "Kasus kalian berdua beberapa minggu lalu cukup menggemparkan sekolah. Aku yakin kalian sangat dekat sebelum acara saling diam seperti ini terjadi. Jadi, aku tinggalkan kalian berdua untuk beberapa saat. Cobalah untuk berdamai dan pilih salah satu lagu yang kalian inginkan."
Mr. Ken meletakkan sebuah buku musik di atas meja tepat di hadapan Seokmin. Meninggalkan ruangan, lalu menutup pintu dengan rapat. Untuk sesaat Seokmin lupa bagaimana caranya bernapas.
"Oh, ya... Seokmin, aku diperingatkan Mrs. Minhyung agar tak lengah saat menjagamu. Jadi aku minta maaf kalau ruangan ini dikunci dari luar. Jika kamu ingin ke toilet, ada di bagian belakang sana. Aku harus berjaga-jaga agar kamu tidak kabur ke open space," ujar Mr. Ken lagi, menyembulkan kepala di balik pintu.
Seokmin dan Jisoo tercengang dengan ucapan tadi. Di dalam ruangan hanya berdua, dengan pintu yang terkunci dari luar. Sungguh situasi yang aneh. Seokmin semakin panik begitu melihat Jisoo mengambil alih buku musik yang tadi diberikan. Membolak-balikkan halaman, asik sendiri.
Biarlah. Seokmin tak mau ambil pusing. Bangkit dari kursinya, mendatangi jendela. Membukanya dengan sangat lebar. Mempersilakan angin agar masuk ke dalam. Seokmin sedang butuh oksigen yang banyak.
Nyatanya, angin yang masuk tidaklah membuat Seokmin tenang. Malah semakin kalang kabut berkat tak sengaja melihat ke arah belakang. Rambut Jisoo terbang. Kalau di video klip yang biasanya ia tonton, musik yang tengah mengalun adalah lagu remaja bertema jatuh cinta. Seokmin menelan ludah. Berpaling. Ingin memuntahkan pelangi yang ada di dalam perutnya ke luar jendela. Seokmin sudah tidak tahan. Ia harus cepat-cepat keluar dari ruang penyiksaan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wait Me (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
