Beberapa hari latihan, tibalah saatnya Seokmin dan Jisoo nyanyi bersama di atas panggung. Keduanya terlihat begitu serasi. Sama-sama memakai busana bernada putih dan biru. Jisoo menggunakan bando dengan hiasan bunga berwarna biru di atas kepalanya. Tentu Seokmin tak memakai bando. Tapi, bunga berwarna biru itu tersemat indah di kantung kemeja putihnya.
Berlatih bersama membuat keduanya semakin kompak. Saking kompaknya, sampai merasa gugup pun secara bersamaan. Bukan demam panggung. Tentu Seokmin dan Jisoo sudah terbiasa. Keduanya sering tampil untuk acara sekolah seperti ini. Namun, yang membuat keduanya gugup adalah saat mengingat siapa teman duetnya.
Mungkin Jisoo sudah berkaca puluhan kali. Terus memperbaiki tatanan rambut panjangnya, meski tak berubah sedari tadi. Jisoo berdoa dalam hati agar tak melakukan kesalahan. Ia takut. Keberadaan Seokmin membuatnya gugup, entah kenapa. Jisoo khawatir saking gugupnya akan berdampak pada penampilan di atas panggung nanti. Sejak Seokmin mengatakan bahwa dirinya lebih utama dibandingkan Seungkwan dan Minghao, Jisoo merasa tatapan Seokmin padanya perlahan mulai berubah.
Bukan lagi tatapan penuh kemurkaan seperti dulu.
"Hai, cantik," sapa Jun, mengagetkan Jisoo. Laki-laki keturunan China itu bersiul melihat penampilan si gadis Hong. Tanpa sadar mengulurkan tangan. Mencubit pipi tembam Jisoo dengan gemas. "Ingin berkencan denganku?"
Sebuah hantaman mendarat tepat di puncak kepala Jun. Seungcheol mengerang marah. "Baru beberapa menit lalu kamu menggoda Wonwoo!"
Beberapa teman Jisoo masuk ke backstage. Mendatangi Jisoo untuk memberi semangat. Bahkan Jeonghan membawakan Jisoo jus jeruk kemasan yang menjadi kesukaan gadis itu sejak beberapa bulan terakhir.
"Eit, jangan diminum sekarang," tegur Jeonghan. "Turun dari panggung, baru minuman ini resmi menjadi hakmu."
Seokmin merasa disisihkan. Mereka semua asik bercanda, tanpa menghiraukan keberadaan Seokmin di salah satu sudut ruangan. Tak mau kesal terlalu lama, Seokmin mengeluarkan benda kecil andalannya. Earphone. Memutar musik dengan sangat nyaring. Seokmin menutup matanya dengan tenang. Akan tetapi, tiba-tiba saja earphone sebelah kanan Seokmin ditarik hingga terlepas. Ada Jihoon di sampingnya.
"Bagaimana perkembangannya? Sudah sampai mana?"
Pertanyaan Jihoon membuat Seokmin kebingungan. Alis terangkat, tak tahu harus menjawab apa.
Jihoon tertawa pelan. Mengelus pundak Seokmin. Sama persis dengan apa yang sering ia lakukan pada Chan. "Aku sering mengintrogasi Jisoo, tapi dia juga tidak mau buka suara. Aku jadi kesal sendiri. Penasaran. Hubungan kalian sudah sampai mana?"
"Eh?" Seokmin terbelalak. Menggeleng cepat. "Noona jangan bercanda."
Gadis yang juga bermarga Lee itu tersenyum sinis. Memasang earphone Seokmin yang tadi dilepas ke telinganya sendiri. Ikut menyender di dinding. Menunjuk ke arah Seungcheol dan Jun menggunakan dagunya yang sedikit terangkat. "Kamu lihat dua laki-laki itu? Mereka berdua berebut Jisoo. Yah, memang. Selain Jisoo, mereka juga sering menggoda Wonwoo dan Jeonghan. Tapi sainganmu bukan hanya mereka. Jisoo salah satu siswi terbaik di kelas musik. Dia menjadi idola para siswa di sini. Kamu beruntung bisa dekat sejauh ini dengan Jisoo."
"Noona, aku tidak mengerti dan aku tidak peduli," keluh Seokmin. "Apa noona diminta Chan untuk mengatakan ini? Katakan pada Chan kalau aku..."
Jihoon berdecak sebal. Memotong ucapan Seokmin. "Kenapa kamu malah menuduh adikku? Dasar bocah!"
"Aku sudah dewasa!" Seokmin berteriak keras. Saking nyaringnya, berhasil menarik perhatian seluruh orang yang berada di belakang panggung. Menatap Seokmin dengan raut wajah berbeda-beda. Terkejut, bingung, aneh. Tapi, Jisoo malah menunjukkan ekspresi yang berbeda. Gadis itu terkekeh kecil. Sudah lama ia tidak mendengar Seokmin melafalkan kalimat itu. Rasanya kangen juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wait Me (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
