Baru bersama Jisoo akhirnya Seokmin merasakan yang namanya baper. Terbawa perasaan, walaupun itu sekadar menghabiskan waktu bersama di Dokseosil. Itu pun tidak hanya berdua. Ada teman-teman Seokmin, juga teman-teman Jisoo. Tapi, yang lain terlihat buram di mata Seokmin. Kalau dalam efek kamera, Jisoo-lah yang menjadi pusatnya. Yang lain dengan sengaja diberi efek buram. Diberi emotikon pula. Efek warna tidak lupa dipakai. Warna merah muda, seperti efek kamera gadis-gadis ulzzang yang cute.
Berkat pesan Jisoo kemarin, meminta segera mendatanginya begitu lulus dari SMP, Seokmin tidak bisa tidur nyenyak dalam beberapa hari. Setiap kali menutup mata, pemandangan Jisoo yang tiba-tiba mendekat lalu mencium pipinya kembali muncul. Membuat Seokmin menjerit tak karuan. Sampai Hansol mengajukan protes lalu mengintrogasi. Seokmin tidak mau menceritakan kejadian itu untuk sementara waktu. Nanti saja. Sepertinya curhat kepada para gadis akan lebih relevan. Minghao dan Seungkwan.
Biasanya kaum perempuan paham betul dengan apa yang seharusnya dilakukan setelah kejadian sakral. Apa yang harus si laki-laki lakukan jika si perempuan maju duluan. Curhat ke sesama laki-laki, apalagi seperti Mingyu, mungkin Seokmin akan disesatkan. Dengan Chan? Seokmin akan disoraki. Bagaimana bisa si perempuan dulu yang mencium laki-lakinya? Meski hanya di pipi, Seokmin merasa malu. Sebagai laki-laki ia terkesan tidak gentle.
Merasa diperhatikan Seokmin terus, Jisoo mendongak. Laki-laki Lee itu langsung buang muka. Membuat Jisoo terkekeh. Hatinya ikut kembang-kempis. Seokmin terlalu lucu untuk diabaikan. Terlihat jelas gelisah. Tak mendengarkan Minghao yang tengah asik menjelaskan pelajaran matematika.
"Aku haus," ujar Seokmin, tiba-tiba menggeser kursinya ke belakang. Menimbulkan suara yang cukup nyaring. Berhasil menarik perhatian beberapa murid lain yang duduk di sekitarnya. "Aku ingin ke kafetaria, beli minuman dingin sebentar."
"Tapi tidak boleh membawa minuman ke sini, Seok," tegur Seungkwan.
"Boleh," Jihoon ikut menyahuti. Menunjuk salah satu papan peraturan yang tertempel di dinding dengan mengandalkan dagunya. "Tapi hanya boleh yang kemasan botol, supaya tidak tumpah."
"Woah! Kalau begitu bisa sekalian belikan aku minuman?" ujar Minghao, sedikit memekik.
Seungkwan tak kalah cepat. Menyahut laju. "Aku juga! Minuman soda yang botol."
Seokmin mengangguk teratur. Berusaha mengingat minuman apa saja yang disebutkan juga oleh Chan, Mingyu dan Hansol. Akan tetapi, Seokmin terdiam sejenak. Jisoo tengah memandanginya dengan tenang. Hati-hati Seokmin menawari. "Jisoo noona juga mau?"
"Hanya Jisoo yang ditawari?" tanya Jeonghan, belum sempat Jisoo menjawab.
Seokmin mendesah pelan. Bahu tegapnya seketika jatuh. Akhirnya pasrah. "Ya, baiklah... Noona dan hyung juga ingin kubelikan sekalian? Tapi tolong nanti ganti uangku. Aku tidak tahu kapan Bibi Jung bisa mengunjungiku lagi."
Dua belas pesanan sekaligus. Tidak ada pilihan lain, selain mencatat semuanya dalam secarik kertas. Kertas yang bahkan ukurannya amat kecil, tak melebihi lebar telapak tangan Seokmin. Digenggamnya kertas itu dengan sangat erat. Namun, tentu saja sambil terus berhati-hati. Khawatir akan merusak tulisan di dalamnya. Tulisan tangan Jisoo. Kecil, seperti tubuhnya. Rapi, seperti penampilannya. Lucu, seperti suara tawanya.
Di lain sisi, Jisoo tidak bisa berhenti memandangi punggung Seokmin yang terus melangkah jauh. Mendatangi anak tangga, naik ke lantai paling atas. Kafetaria Dokseosil. Baru tersadar kala mendapat senggolan dari Jihoon. Menggodanya meski tidak diucapkan secara langsung. Menggunakan tatapan mata pun, sudah sangat jelas kalau gadis Lee itu sedang berucap ciye pada Jisoo.
"Ya... Setidaknya dia lebih gentle dibandingkan tiga laki-laki SMA di sini," ujar Wonwoo, seraya memindah halaman buku yang tengah ia baca. "Tanpa Jisoo minta, Seokmin sudah menawarinya terlebih dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wait Me (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
