Chapter 12: Bernyanyi Sepenuh Hati

689 133 101
                                        

Seluruh murid SMP yang berstatus sebagai anggota ekskul musik dikumpulkan dalam satu ruang. Dari kelas tujuh hingga kelas sembilan. Gedung besar itu menjadi penuh. Riuh beberapa anak asik menggosip dan melakukan hal-hal tak penting lainnya. Seokmin tidak mengerti. Dia baru kembali dari acara membolos mata pelajaran Ekonomi. Begitu memasuki gerbang, langsung diteriaki Mrs. Hyomin. Seokmin tak bisa kabur karena satpam terus mengikuti langkahnya hingga ke pintu masuk aula.

Melihat Seungkwan, Seokmin segera mendatangi.

Apa bedanya Seungkwan dengan gadis-gadis lainnya? Gadis gembul itu pintar membaca situasi. Ia hanya ribut jika suasana hati Seokmin sedang baik. Namun, jika melihat asap kelabu di sekitaran Seokmin, ia hanya diam. Atau yang lebih bermanfaatnya, mojok bersama Hansol. Berbeda dengan gadis lain yang malah semakin ribut, membuat kepala Seokmin pening.

Bagaimana dengan Minghao? Selain pintar dan tenang, Minghao adalah gadis yang istimewa karena perbedaannya. Tidak menjerit melihat laki-laki tampan lewat. Tidak marah-marah, setiap kali kedatangan tamu bulanan. Juga tidak menggosip jika sedang bersama Seokmin.

Selama hidupnya, Seokmin hanya merasa nyaman dengan Seungkwan dan Minghao. Bersama Ibunya pun Seokmin merasa tidak nyaman. Terus diteriaki tanpa alasan yang jelas. Namun, tentu Seokmin masih menyayangi beliau. Jika tidak, mana mungkin ia kabur saat tahu sang Ibu telah dibunuh. Pasti Seokmin akan melakukan highfive dengan sang Ayah, lalu melenggang nyaman tanpa merasa bersalah. Membiarkan Ibunya membusuk di dalam kamar.

"Untuk apa kita dikumpulkan seperti ini?" tanya Seokmin, begitu mendaratkan bokongnya di kursi kosong tepat di samping Seungkwan.

Gadis Boo itu hanya mengangkat bahunya sekali. Menyambut kedatangan Seokmin dengan mengambil alih camilannya yang tadi diletakkan di kursi sebelah, diambil Seokmin agar ia dapat duduk. "Kata yang lain, sekolah akan mencari satu orang murid perwakilan SMP untuk acara penyambutan minggu depan."

"Acara penyambutan?"

"Investor asing. SMA juga, dikumpulkan seperti ini untuk dipilih satu orang. Tidak seperti SD yang dibentuk menjadi paduan suara."

Seokmin mengangguk paham. Acara berlangsung setelah lebih dari sepuluh menit lamanya Seokmin menunggu. Ia sama sekali tak menikmati acara. Fokus pada pemandangan di luar jendela. Hanya sesekali melirik panggung, giliran siapa yang menampilkan bakat menyanyinya.

Ini adalah hari ketiga setelah pertengkaran ia dan Jisoo kemarin. Hatinya berkecamuk tak karuan sejak itu. Minghao sempat memberi saran. Minta maaf saja, katanya. Tentu Seokmin tidak mau. Ia tak merasa bersalah. Hanya saja, Seokmin menyesal sudah membuat gadis itu menangis. Meski Jisoo-lah yang sudah mempermainkannya, harusnya tidak sampai membuat dia menangis. Jika sudah seperti ini, apa bedanya Seokmin dengan sang Ayah? Sama-sama jahat.

Tentu bukan Seokmin yang bercerita. Tiba-tiba saja semua temannya tahu tentang pertengkaran itu. Chan memang selalu gatal mulut.

Syukurnya perasaan Seokmin sudah jauh lebih membaik setelah acara membolos hari ini. Suasana open space memang selalu berhasil menyejukkan hatinya. Semua beban terasa luntur.

Terlalu asik mandangi langit cerah melalui jendela, Seokmin jadi tak sadar jika namanya disebut dengan lantang. Acara melamunnya berakhir begitu menerima sikutan dari Seungkwan.

"Cepat, giliranmu," ujar Seungkwan.

Kening Seokmin mengerut. Bahkan ia tidak melakukan persiapan apa pun. Tak memikirkan lagu apa yang akan dibawakan. Juga tak melakukan pemanasan yang seharusnya. "Aku juga? Tapi aku tidak mendaftar."

Wait Me (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang