[Seoksoo GS Fanfiction]
Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
Seokmin tidak tahu kalau Dokseosil akan sepadat ini. Bahkan hampir kehabisan kursi kosong untuk ditempatinya bersama Chan. Selama bertahun-tahun sekolah di Hanin Art School, jangan tanya apakah Seokmin sudah pernah masuk ke sana atau belum. Kalau sudah, tidak mungkin ia tercengang melihat padatnya gedung berlantai lima itu.
Mulut Seokmin terbuka lebar hendak mengajukan protes. Minta ganti hari. Terlalu padat. Percuma saja belajar. Tidak akan masuk otak akibat terlalu banyak orang. Meski terlihat jelas semua murid sibuk belajar, tetap saja terdengar beberapa anak berbisik dengan nyaring.
Tapi, Chan malah tersenyum sinis sambil menggeleng pelan. Setelahnya, ia menarik tangan Seokmin kuat-kuat. Mendatangi tangga. Naik ke lantai tiga.
Dokseosil Hanin Art School layak disebut sebagai mall khusus buku. Penampilannya memang sangat mirip dengan pusat perbelanjaan. Namun bedanya, benda yang tersedia adalah buku-buku khusus anak sekolah. Mulai dari SD di lantai dasar, hingga SMA di lantai atas. Terbagi berdasarkan lantai tidak serta-merta membuat setiap jenjang terpisah. Tidak jarang murid SMA malah menempati lantai utama. Begitu pula sebaliknya. Mereka semua berbaur tanpa sekat.
Keduanya mendatangi satu meja besar melingkar yang sudah ditempati oleh beberapa anak berseragam SMA. Ada dua kursi kosong di sana. Persis di samping tangga. Mereka semua menunduk, membuat Seokmin tidak mengenali siapa saja yang sudah duduk. Lagipula, Seokmin memang tidak kenal satu pun anak SMA. Selain noona-nya Lee Chan, tentu saja.
Dengan cerianya Chan mendatangi mereka. Sungguh berbanding terbalik dengan Seokmin yang malah mematung sejenak. Firasatnya berkata buruk. Mulai menyadari jebakan anak bungsu ini. Belum sempat Seokmin kabur, Chan sudah berbalik arah untuk kembali menarik makin tangan Seokmin.
"Noona!" pekik Chan, ceria dan pelan. Menepuk pundak salah satu anak SMA yang duduk di samping dua kursi kosong.
Panggilan itu secara otomatis menarik perhatian anak SMA lainnya. Melihat ke arah Chan, lalu tersenyum untuk menyambutnya. Seokmin memperhatikan mereka semua satu per satu. Bercampur aduk. Lelaki dan perempuan. Mereka adalah murid yang berkumpul di lapangan bersama Jihoon dan Chan seusai pentas seni kemarin. Seokmin berhasil mengenali salah satunya, kekasih Jihoon. Ciri khasnya sulit dilupakan. Pipi memenuhi muka dengan mata yang tertutup rapat meski tidak sedang tidur. Lelaki itu segera mengangkat tangan, melakukan highfive dengan Chan.
"Letakkan tas kalian dulu, baru cari buku," perintah Jihoon.
Chan mengangguk cepat. Mendorong tubuh Seokmin agar mendatangi kursi kosong satunya. Dengan penuh rasa kesal Seokmin melakukannya. Sungguh risi dengan tatapan beberapa anak SMA ini. Ia merasa diperlakukan seperti orang asing. Diperhatikan karena baru kali ini terlihat.
Akan tetapi, biarlah. Seokmin sudah terlanjur masuk ke sana. Akan sangat memalukan jika langsung keluar. Lagipula kejadian seperti ini hanya akan terjadi satu kali. Jangan harap Seokmin mau melakukannya lagi begitu perjanjian dengan Chan telah terpenuhi. Meski beberapa hari menjelang ujian kelas tiga sekalipun.
"Aku tahu ini pertama kalinya hyung masuk ke sini. Pasti tidak tahu di mana letak buku-buku kelas sembilan. Ayo ikut denganku," ujar Chan, seraya berjalan mendahului.
Kalau tidak ingat dengan keberadaan Jihoon, mungkin Seokmin sudah melayangkan sebuah pukulan ke kepala anak bernama lengkap Lee Chan ini. Ia seolah sedang mengatai Seokmin tidak pernah belajar. Ya, memang benar. Tapi, haruskah dijelaskan senyaring tadi?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.