Seokmin benar-benar masuk ke dalam perangkap yang dibuat khusus oleh Chan. Anak SMP berhidung bangir itu memang selalu menampakkan penolakan. Namun, tiba-tiba menjadi anak penurut jika yang berbicara adalah seorang gadis SMA. Seperti seekor anak ayam yang menurut pada induknya. Bukan sembarangan gadis, hanya gadis yang telah mengajari Seokmin di Dokseosil kemarin. Hong Jisoo.
Sebenarnya tidak juga. Seokmin masih saja melempar penolakan keras terhadap Jisoo. Juga sesekali memaki dan mengucapkan kata kasar. Namun, sepertinya omelan itu tidak mempan. Malah dengan lancangnya Jisoo memegang pergelangan tangan Seokmin. Menahan kepergian adik kecilnya itu. Meruntuhkan pertahanan yang sudah Seokmin bangun sedari dulu. Menerobos tembok pembatas garis aman antara Seokmin dan perempuan.
Mungkin, inilah sebabnya kenapa Chan memilih Hong Jisoo untuk menjadi perantara misi perubahan perilaku buruk Lee Seokmin. Gadis itu begitu penyabar dan memiliki sikap yang manis.
"Kamu tidak ikut ke Dokseosil? Kamu sudah kelas sembilan, Seokmin-ah... Perlu belajar banyak untuk persiapan ujian."
Chan senyum-senyum sendiri melihat bagaimana manisnya seorang Hong Jisoo membujuk Seokmin agar mau ikut ke Dokseosil. Pura-pura tidak tahu apa-apa begitu mendapat tatapan mata super tajam oleh Seokmin. Seolah semuanya ini bukanlah bagian dari rencananya. Padahal, Chan lah yang mengatur waktu sedemikian rupa agar keduanya tak sengaja bertemu.
"Aku bisa belajar sendiri di rumah," bantah Seokmin. "Noona tidak usah repot-repot mengurusi nilai ujianku. Aku tidak lulus pun, bukan urusanmu."
"Aish! Memangnya kamu mau tidak lulus? Tidak malu? Ayo ikut kami, belajar di Dokseosil. Bukunya lengkap, juga ada banyak orang yang siap mengajari kamu kalau mengalami kesulitan."
Bertambah satu kata lagi yang begitu cocok untuk menggambarkan sosok perempuan. Setelah cerewet, penggosip, dan yang lainnya, sekarang mari kita sambut kata pemaksa. Ternyata, perempuan sama sekali tidak mau dibantah.
Seperti menginstruksikan seorang anak kecil, Jisoo mengikuti langkah Seokmin saat mengambil buku pelajarannya. Gadis Hong itu menyarankan agar Seokmin kembali mengambil buku Bahasa Inggris dan Matematika. Dua pelajaran yang sempat ia ajarkan saat Seokmin pertama kali mendatangi Dokseosil kemarin. Karena dua pelajaran itu akan masuk menjadi mata pelajaran yang akan diujikan, tentu saja. Dan lagi, Seokmin begitu kalut untuk menyerap dua materi tersebut.
"Makanya, jangan bolos terus," Jihoon mencibir.
Dengan tanpa rasa bersalah, Seokmin merebut buku yang dipegang oleh Jihoon. Menjatuhkannya. "Ups, maaf. Sengaja," ujarnya, lalu berlalu begitu saja. Mendatangi kursinya.
Jihoon geram. Memasang raut wajah hendak segera melayangkan pukulan. Namun, ditahan oleh kekehan Jisoo. Geleng-geleng kepala. Kekehan itu membuat Jihoon semakin kesal. "Hebat sekali kamu berhasil menjinakkan anak beringas itu."
Jisoo mendekat. Mencondongkan badannya ke arah Jihoon, menyentuh pipi tembam gadis Lee itu. "Jika kamu menunjukkan kasih sayang, maka akan dibalas dengan kasih sayang juga. Itu adalah teorinya."
Tangan Jisoo segera ditepis. Kesal. "Awas, dia masih SMP. Jangan sampai jatuh cinta pada Seokmin. Kamu lebih tua dua tahun!"
"Ei, aku hanya ingin membantunya belajar, supaya bisa lulus dengan nilai yang bagus," bantah Jisoo, sambil terkekeh lagi. "Itu tidak mungkin terjadi, Jihoon-ah... Sudah sewajarnya kita membantu adik kelas."
Proses mengajari Seokmin tentu saja tidak pernah berjalan mulus. Selalu ada saja hal yang menakjubkan terjadi. Dokseosil yang biasanya menjadi tempat membosankan bagi Seungcheol, Jun dan Soonyoung pun, malah berubah menjadi sedikit lebih menyenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wait Me (✓)
Fanfiction[Seoksoo GS Fanfiction] Ini bukan cinta. Hanya sebuah perasaan yang timbul berkat ketidakberdayaan, dan membutuhkan seseorang untuk bangkit. Namun, kebutuhan semakin lama menjadi ketergantungan. Seokmin dan Jisoo merasakannya. Hanya saja, menunggu d...
