Belahan Jiwa

3K 178 6
                                        

Park Jimin POV

Aku sedang membaca buku dikamar, sedangkan Jinhan sedang mengoceh tanpa henti.

Jinhan, kembaranku, belahan jiwaku yang exstrovert, sedangkan aku si kutu buku yang tidak suka keramaian.

Tapi meski seperti itu perbedaan kepribadian kami, anehnya orang tua kami memperlakukan kami dengan berbeda.

Yah orang tuaku lebih menyayangiku bahkan memanjakanku, sedangkan pada Jinhan, mereka sungguh acuh.

Terkadang aku marah dengan sikap kedua orang tuaku, bagaimanapun Jinhan kan juga anak mereka.

...

" Park Jimin, waktunya makan." Teriak nyonya Park Hana. Ibuku yang super cerewat.

" Iya aku kesana." Kataku lalu mengajak Jinhan pergi ke meja makan.

Di meja makan, ada Nyonya Hana, Tuan Park Chanyeol dan Nyonya besar Park Han Yu.

Aku biasa memanggil mereka tuan dan nyonya, karna aku tak suka berinteraksi dengan ketiga orang tak punya hati itu. Jangan tanya kenapa aku membenci mereka, karna aku sendiri tak ingat alasannya.

" Jimin, besok kau sudah masuk kuliah lagi, apa ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Eoma yang tumben saja ingin tahu.

" Uang sakuku masih cukup untuk membeli kebutuhan ku. Lebih baik yang kalian gunakan untuk biaya kuliah Jinhan juga, kasian dia tak kuliah." Kataku dingin.

Mereka bertiga terdiam tak merespon apapun. Aku sendiri malas membujuk mereka.

Setelah makan, aku langsung mengajak Jinhan ke kamar.

" Kau tak perlu seperti itu." Kata Jinhan seperti merasa bersalah.
" Itu karna mereka begitu kejam padamu." Kata ku kesal.
" Tak apa mereka seperti itu, asal kan aku tetap ada disini bersamamu." Kata Jinhan lembut.

Aku tertegun, Jinhan yang biasanya tak pernah bersikap lembut, malah menjadi lembut jika aku membelanya depan orang tua kami.

...

Sudah selama tujuh tahun ini rasanya segalanya menjadi berbeda. Sejak kecelakaan tujuh tahun yang lalu, rasanya tak pernah lagi ada kedamaian di Rumah ini.

Satu-satunya yang masih sama hanyalah Jinhan ku. Orang tua kami sering bertengkar, apalagi kalau aku melawan mereka. Tapi aku hanya ingin membela saudaraku, aku teramat sakit jika saudaraku diperlakukan sebagai orang asing dalam keluarga kami.

" Aku hanya takut dipisahkan denganmu jika kau terus melawan mereka demi aku." Itu kata-kata Jinhan yang membuatku pada akhirnya mengalah.

Aku memang pendiam, tapi marahnya orang pendiam itu lebih menakutkan bukan.

Yah inilah secuplik kisah tentang keluargaku.

Jimin POV End.

...

Author POV

Kampus.

Jimin berangkat ke kampus sendirian, dia merasa sebal karna dia harus pisah dengan Jinhan. Asal ditahu dia dan Jinhan itu tak bisa dipisahkan. Jimin tak habis pikir mengapa orang tuanya memperlakukan mereka dengan berbeda.

Saat tiba Dikelas, ada seseorang yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan.

" Hai, aku Taehyung, Kim Taehyung. Kau siapa?" Tanya pemuda itu. Jimin hanya memperhatikan dari atas sampai bawah penampilan sang pemuda.

" Hei, tanganku lelah seperti ini." Kata pemuda itu lagi yang membangunkan Jimin dari lamunan nya.
" Maaf, aku Jimin, Park Jimin." Kata Jimin lalu menjabat tangan si pemuda yang bernama Taehyung.

Dan Taehyung langsung duduk di sebelah Jimin, Tae tidak tahu bahwa pemuda yang barusan ia ajak kenalan adalah pemuda yang anti sosial. Seseorang yang berkebalikan dengan kepribadian dirinya.

Namun mereka berdua seperti magnet yang saling menarik tanpa sadar.

...

Jimin melangkah masuk kedalam kamar, kamarnya kosong, Jinhan tak ada di kamarnya. Jimin tak mau ambil pusing, mungkin saudaranya butuh udara segar.

Jimin mandi, setelahnya ia tiduran diatas ranjang. Dan entah kenapa dia tiba-tiba teringat pemuda yang bernama Taehyung, Jimin tak mengerti apapun, tapi ada sesuatu dalam diri Taehyung yang membuat Jimin penasaran.

Jimin biasanya malas berbicara atau mendengarkan ocehan orang lain. Jimin selalu bosan mendengar mereka, satu-satunya Omelan yang ia betah dengar hanyalah omelam Jinhan seorang. Namun hari ini berbeda, Jimin merasa biasa saja mendengarkan ocehan Taehyung, bahkan Jimin sesekali tersenyum melihat betapa konyolnya si Taehyung itu.

Suatu hal yang luar biasa bagi seorang Park Jimin, mau mendengarkan ocehan orang yang terbilang asing.

" Kau kenapa tertawa sendiri begitu?" Tanya Jinhan yang tiba-tiba memasuki kamar mereka.

" Ahh aku hanya ingat suatu film konyol yang pernah kutonton." Jawab Jimin berkilah.
" Kau berbohong." Tuduh Jinhan
Jinhan duduk di ranjang sebelah Jimin.

Di kamar mereka ada dua ranjang, satu kamar untuk berdua.

" Aku tak berbohong kok." Kata Jimin, entah kenapa kali ini ia tak ingin jujur.
" Aku tau kau sedang berbohong Park, lanjutkan bohongmu, aku malas melihatmu, aku tidur." Kata Jinhan menghadap arah tembok.

Jimin menghela nafas, iya memang sangat payah, harusnya Jimin sadar bahwa Jinhan akan selalu tahu kebohongan dan kejujuran yang dilakukan oleh Jimin. Bagaimanapun mereka itu belahan jiwa, yang selalu merasakan hal yang sama satu dengan yang lainnya.

" Maafkan aku, jangan marah, baiklah aku akan cerita." Jawab Jimin mengalah.

Dan Jinhan langsung duduk menghadap Jimin.

" Aku siap mendengarkan." Kata Jinhan semangat mendengar saudaranya punya sebuah cerita.

" Aku di kampus sudah mendapat teman." Kata Jimin dengan volume rendah.
" Wah akhirnya Park, kau punya sahabat selainku juga. Apa dia cantik?" Tanya Jinhan antusias. Yah Jinhan memang selalu antusias mendengarkan cerita orang lain, apalagi ini dari seorang Park Jimin, yang anti sosial.

" Ahhh Iyah, dia sedikit cantik." Jawab Jimin jujur. Di matanya tadi memang Taehyung cantik untuk ukuran seorang namja.

" Tapi memangnya ada namja yang cantik?" Tanya Jinhan.
Jimin tersentak bagaimana Jinhan bisa tahu.
" Darimana kau tahu kalau dia namja?" Tanya Jimin heran.

" Kubisa membaca pikiranmu Park." Kata Jinhan sambil tertawa.
" Yah puaskan tawamu, dia memang cantik, namanya Kim Taehyung." kata Jimin lalu merebahkan diri dan membelakangi Jinhan.

" Aku penasaran secantik apa dirinya." Kata Jinhan masih dengan tawanya, namun setelah tawanya reda, dia memandang Jimin yang membelakanginya dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Jinhan tak berbohong soal rasa penasarannya terhadap sosok cantik yang dibilang oleh saudara kembarnya.

...

Ikatan batin saudara itu kuat sekali, apalagi kalau mereka itu kembar. Satu sama lain saling terikat batinnya, dan saling terbagi pikiran dan hatinya.

Begitu pula yang dirasakan oleh si kembar Park.

Jimin diam-diam selalu menangis saat melihat saudaranya terluka dan terluka oleh sikap orang-orang sekitar mereka. Dari kalangan keluarga maupun teman dekat mereka. Tapi Jimin tak memiliki kuasa apapun untuk membuat mereka menerima Jinhan selayak mereka menerima Jimin.

Dan Jinhan pun selalu dengan penuh pengertian akan meminta adiknya untuk membiarkan mereka. Bagi Jinhan cukup Jimin seorang didunia ini yang bisa mengerti seutuhnya dirinya. Hanya Jimin seorang cukup untuk Jinhan.

Author POV End.

...

Uhuuuu akhirnya chapter awal kelar yeee...

Kasian sih yah si Jinhan, hehe, Jimin juga kasian sakit hati Mulu karna merasa terluka melihat orang lain mengabaikan saudara kembarnya.

Untuk Taehyung, dia bakal muncul chapter selanjutnya. Jadi semoga suka yah sama ff baru ini.

Inginku Bersamamu ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang