Taehyung untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Rumah kekasihnya. Tapi masalahnya Park Jimin yang tadi menemaninya harus kembali ke kampus untuk mengumpulkan tugas penting dari dosen.
Dan disinilah Taehyung, sendirian di Rumah sang kekasih. Jimin bilang, Tae boleh berkeliling kemanapun, boleh dianggap rumah sendiri pula. Dan yah, akhirnya Taehyung berjalan keliling di taman milik Jimin. Taehyung sedikit terkejut dengan kebun Daisy milik Jimin. Sebenarnya Taehyung merasa bosan menunggu sendirian, tapi kata Jimin ada sebuah ruang perpustakaan, dan Taehyung pun mencarinya di lantai atas, setelah puas mengamati bunga Daisy yang cantik-cantik.
Ia tak sadar, bunga Daisy itu dulu yang sering ia terima secara diam-diam.
Setelah lama mencari, akhirnya Taehyung menemukan perpustakaan yang dimaksud.
Taehyung tersenyum puas melihat berbagai koleksi buku yang ada, bermacam-macam tipe buku. Namun pandangan Taehyung tertarik pada sebuah buku bersampul ungu yang berada di rak paling atas. Taehyung pun mencari kursi untuk mengambil buku itu.
Setelah menurunkannya, Taehyung membersihkan debu yang membuat buku itu terlihat kotor.
Entah kenapa Taehyung merasakan jantungnya berdebar kencang ketika matanya menatap nama pemilik buku tebal ini, seperti sebuah jurnal, milik Park Jinhan.
Tae ingat, Jinhan ini saudara kekasihnya, sejenak Tae merasa ragu karna berpikir ia telah lancang membuka jurnal ini. Tapi jika jurnal ini penting, tak mungkin dibiarkan berdebu hingga usang seperti ini. Buku ini terlihat seperti dibuang.
Yang namanya Kim Taehyung akan selalu merasa penasaran jika belum mengetahui apa yang ada dalam jurnal ini. Dengan berdoa agar aksinya ini tidak membuatnya ditegur, ia pun memberanikan diri untuk membukanya.
Isi jurnal itu kebanyakan berisi kegiatan harian, foto-foto si kembar.
Taehyung tersenyum memperhatikan kedua kembaran itu, terlihat sama tampan, yang satu tertawa ceria, dan satunya tertawa kalem.
Ia pikir yang tertawa kalem itu pasti Jinhan, beberapa foto selfie mereka berdua, Tae melewatkan curhatan-curhatan kecil Park Jinhan, matanya benar-benar terfokus pada si kembar yang terabadikan dalam lembaran foto.
Namun kebanyakan yang dilihat Tae adalah Jimin yang seolah tidak pernah melihat kamera Dengan jelas.
Dan yang aneh adalah, warna mata kedua kembar itu berbeda, jika Jinhan memiliki dua pasang mata coklat terang, maka milik Jimin terlihat hitam. Padahal seingat Taehyung, mata Jimin berwarna coklat terang seperti mata Jinhan. Dan Taehyung merasa benar-benar penasaran.
Namun ia mendengar Jimin memanggil namanya, dengan segera ia masukkan jurnal itu kedalam tasnya. Taehyung hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya. Ia tak perduli jika akan dimarahi nantinya.
" Kamu disini Tae?" Jimin masuk dengan sumringah lalu memeluk Taehyung yang sedang sibuk berpura-pura membaca sebuah novel.
" Lama sekali?" Tanya Tae yang masih berpura-pura fokus.
" Hehe, macet sayang, ini aku bawain ayam goreng sama jus Strawberry." Kata Jimin sambil mengeluarkan makanan yang telah ia beli untuk kekasih tersayangnya.
" Terimakasih, Rumah ini sepi sekali, semuanya kemana?" Tanya Taehyung sambil menyeruput jusnya.
" Masa kamu tadi nggak ketemu Jinhan?" Tanya Jimin heran.
Kenapa Jinhan tidak menemani Taehyung yah, seingatnya ia sudah menyuruh anak itu untuk menemani kekasihnya. Yah Jimin berharap saudaranya dan kekasihnya bisa menjadi teman. Masa bodoh dengan kemungkinan Jinhan akan menyukai Taehyung nya.
" Saudara kamu ada dirumah?" Tanya Tae yang malah jadi lebih bingung. Seingatnya Rumah Jimin benar-benar kosong. Dan Tae mendadak ngeri saat teringat rumah-rumah berhantu yang bisa ia lihat dari drama. Dan ia benci sekali dengan drama horror, tapi ia lebih benci jika harus sendirian saat Yoongi menonton drama horror tanpanya. Soalnya biasanya Jungkook selalu menemani Jin Hyung bekerja. Anak itu ingin magang di kantor Hyungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inginku Bersamamu ( END )
FanficHidup Park Jimin, bersama sang kembaran, tenang dan damai. Hingga kehidupannya mulai berubah saat hatinya jatuh pada Pemuda Konyol bernama Kim Taehyung. Hingga sebuah rahasia besar, membuat Park Jimin berada diambang batas.
