Slide 5

3.3K 557 181
                                        


.

.

Deruan mobil berkecepatan pembalap, berwarna merah darah itu, menyibak jalanan Gangnam yang ramai di pagi hari. Benar-benar Baekhyun dibuat pusing tujuh keliling. Seperti komedi putar yang digerakkan secara terus menerus, Baekhyun rasanya ingin muntah karena mual memikirkan hal sembrono yang diucapkan Kyungsoo.

"Menikah, katanya? " decaknya heran. Secara harafiah Baekhyun memang tidak berhak mencampuri keputusan Kyungsoo. Namun secara naluri, ia sangat menentang. Bagaimana seorang yang baru saja melewati fase hormonal, dapat mengatakan hal yang tak bisa di katakan main-main.

Naluri yang datang karena rasa ingin melindungi Kyungsoo, atau naluri seorang pria yang tak merelakan jika wanita itu mendapatkan kebahagian dengan yang lain, malah bukan bersamanya. Baekhyun rasanya ingin meledakan mobil-mobil, di depannya, yang menghalanginya untuk memacu kecepatannya.

"Dia kira itu adalah manian. Menikah adalah sesuatu yang membutuhkan banyak pertimbangan." runtuknya kembali. Tangan cantik itu menekan klakson mobilnya kencang, dan telapak kakinya semakin menginjak dalam, pedal gas bawah.

Dia melaju begitu kencangnya, setelah lampu berubah menjadi hijau. Dia berpacu, mengalahkan angin yang berhembus sepoi-sepoi di pagi hari. Baekhyun yang masih dalam keadaan kesal, membanting pintu mobilnya, sesaat setelah turun dari mobil Sport keluaran negara pizza itu.
Ia sampai di kantornya lebih cepat dari perkiraan. Berkat kecepatannya melajukan mobil, diatas rata-rata.

Dia berjalan begitu gusarnya, bersamaan dengan detak jantungnya, yang memompa cepat, setiap mengingat kata menikah, yang keluar dari bibir tebal Kyungsoo.

Pandanganya tajam, namun sayang dia tak memperhatikan sekitarnya. Sapaan staf lainnya pun, tak mempengaruhinya. Dia masih setia bergulat dengan pikirannya yang kalut. Wajah manisnya berubah sangar, ketika ia sedang dalam fase berfikir. Jika fase ini sedang berlangsung, maka sudah di pastikan asistennya, Chen, adalah satu-satunya orang yang akan menjadi pelampiasannya.

"Selamat pagi, Baekhyun ku tersayang, " suara merdu dan melengking itu menyambut kedatangan Baekhyun pada ruangannya. Dia adalah asisten pembatu, yang di pekerjakan Baekhyun sebagai kaki tangannya, dalam tugas yang tak bisa dihadirinya.

Chen melantunkan kejahilannya, melihat sebuah guratan aneh yang sudah lama tak terukir lucu di wajah manis atasannya itu.

"Cukup. Kembali bekerja! " Baekhyun mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk Chen, tetap pada mode sunyi. Karena Baekhyun sangat menyukai kesunyian. Kondisi yang sunyi, akan membuatnya fokus pada pemecahan masalah yang sedang ia hadapi. Dan, Chen akan bertugas untuk mensterilkan kondisi, agar tetap sunyi senyap.

Maksud hati menghibur, malah mendapat sebuah tamparan penolakan.
"Kenapa lagi, dia kali ini?" gumam Chen heran, dia melempar pandangan penuh tanya. Setidaknya berikan dia penjelasan arti dari ekspresi Baekhyun saat ini. "Mungkin sarapan ini, akan membuatnya sedikit mereda! " putusnya, lalu meraih kotak kertas di atas mejanya.

Chen memberanikan diri, untuk ikut masuk ke dalam ruang kerja Baekhyun.
"Boss, aku membawa sarapanmu! " Chen membujuk dengan sekotak sandwich, yang di pesannya sebagai sarapan Baekhyun pagi ini.

Baekhyun terlihat bersandar pada kursi kebesarannya, memejamkan mata, dengan rahang yang dikunci rapat dan tangan yang terkepal kuat diatas paha kokohnya. Dia menulikan pendengarannya pada ucapan asistennya.

Merasa tidak dihiraukan, Chen semakin berani melajukan langkahnya mendekati meja yang terletak di depan jendela besar, tepat di belakang Baekhyun duduk saat ini. Chen meletakan kotak kertas , yang berisi sandwich, di atas meja atasannya itu. Chen memiringkan kepalanya, dan menyeritkan alisnya sebelah.

Uncle ByunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang