Slide 7

2.9K 496 144
                                        

.

.

.

Gurihnya aroma roti yang di panggang, membuat seisi dapur menjadi menggiurkan. Perpaduan yang sangat pas, dengan tajamnya aroma kopi hitam, yang sedang meluncur dari mesin kopinya, yang dapat menggugah keceriaan sang peracik. Pagi ini, Baekhyun sengaja bagun lebih awal dari biasanya. Dari saat ia ditinggal Kyungsoo ke Amerika. Kebiasaan lamanya telah kembali lagi.

Dulu sebelum ditinggal wanita bermata bulat itu, ialah yang paling pertama terjaga di pagi hari. Menyiapkan sarapan, lalu mengatar Kyungsoo ke sekolah, barulah ia berangkat kerja. Itu selalu dikakukannya selama dua tahun lamanya.

Pernah suatu hari, setelah kepergian Kyungsoo ke Amerika. Ia tanpa sadar, dengan keadaan yang ada, lalu bangun pagi, dan membuat sarapan. Sekonyong-konyongnya, ia mengetuk pintu kamar yang ditempati Kyungsoo, hendak membangunkan gadis itu, untuk segera sarapan. Bodoh bukan? Namun setelah hari itu berlalu, ia perlahan mulai bisa menerima keadaan, jika Kyungsoo telah pergi meninggalkannya. Jauh, untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.

Rasa perhatian, dan sebuah tanggung jawab yang besar, atas kehidupan seorang gadis remaja, membuatnya menjadi sedikit berubah waktu itu. Jika biasanya ia akan bekerja dari pagi hingga menemui pagi lagi, tapi setelah kedatangan Kyungsoo, kebiasaan itu berubah total.

Ia akan berkerja sedikit agak siang, dan kembali sebelum sore, karena harus menjemput Kyungsoo, di sekolah. Pria tampan itu, tak membiarkan Kyungsoo menaiki bus, atau pun taksi. Dan terpenting tidak pulang bersama Daniel. Teman sekelasnya. Tidak akan, dan selama dua tahun, itu tidak pernah terjadi.

Dan setelah lima tahun lamanya, kini kebiasaan itu sudah terulang kembali. Dia yang sedang menata roti lapis untuk sarapan pagi ini. Meletakkan daun selada, lalu tomat, telur, ham dan keju. Serta ditangkup lagi dengan roti. Tak lupa memberi olesan mayones dan mastard di setiap sisi dalam roti, yang telah di toast terlebih dahulu. Ia juga menyiapka segelas susu untuk Kyungsoo, dan secangkir kopi hitam untuk dirinya sendiri.

Hal yang aneh kini, bukanlah ia yang tiba- tiba membuat sarapan, namun senyum sumringah itu. Senyum yang tak pernah terlihat selama ini. Namun pagi ini, terlihat sangat manis. Mata sipitnya juga ikut mendukung wajah manisnya. Dia pria yang terihat tampan dan juga manis dalam satu waktu.

"Tak mungkin dia menolaknya. Sandwich ini adalah kesukaannya, bukan? " gumamnya seperti orang gila, yang berbicara sendiri. Yakin dengan hasil buatannya, lantas ia menyajikannya di meja makan, yang tertata secantik kemarin pagi. Saat ia mendapati Kyungsoo membuat sarapan untuk mereka berdua.

Belum sempat ia menggagumi hasil karya penataan mejanya, seketika ia terusik dengan bel pintu rumahnya yang berdenting nyaring.

"Siapa yang datang pagi begini? "

Ia berjalan mendekati pintu, lalu membukanya cepat, ingin mengumpat pada tamu yang berkunjung disaat jam belum menunjukan pukul tujuh.

"Selamat pagi tuan, saya mengantarkan bunga untuk, nona Do Kyungsoo. "

Baekhyun menyerit, alisnya naik sebelah dengan mata elang. "Siapa yang mengirimkannya? "

"Atas nama, Kang Daniel." katanya sambil memeriksa sebuah kertas kecil yang berwarna merah, senada dengan warna bunga mawar itu. "Bisa saya bertemu dengan, Nona Do Kyungsoo, untuk memberikan bunga ini, tuan? "

"Letakkan saja disana! " Baekhyun menunjuk meja kecil yang berada di depan teras rumahnya, serasi dengan dua kursi kayu yang menemani kesendirian meja itu. "Nona Do, sedang mandi. Tidak mungkin ia ku suruh kemari, kan? "

Wajah pria pengantar bunga itu sedikit memerah, mendengar penyataan Baekhyun. "Ahh, begitu rupanya. Baik saya akan letakkan disini saja. Terimakasih, tuan. " ucap pria pertengahan umur empat puluhan itu. Ia meninggalkan buket besar mawar itu, diatas meja kecil. Bahkan meja itu tak tampak lagi, karena ditutupi buket, yang jumlahnya mungkin mencapi seratus tangkai.

Uncle ByunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang