Phuket adalah pulau wisata yang terletak di Thailand. Menawarkan pemandangan pantai yang menawan dengan kegiatan menyelam yang menyenangkan. Masih ada banyak lagi sebenarnya, tapi setidaknya hal itulah yang ingin dilakukan Jimi bersama Kalani.
"Laut menjadi tempat terbaik untuk mengalunkan kisah, aku suka kata-kata itu," teriak Jimi.
Ia berusaha suara mengalahkan deru air disekitar speedboat yang sedang mereka tumpangi. Mereka dalam perjalanan menuju pulau kecil bernama Pulau Phi Phi. Melintasi laut biru yang bening dengan sinar matahari yang terik. Beruntungnya Jimi sudah menyiapkan segalanya, seperti biasanya. Ia tak lupa membawa sunblock, Kalani merasa mereka berdua akan sangat gosong setelah pulang dari sini.
Kalani memeluk pinggang Jimi erat. Takut terjatuh dengan kecepatan speedboat. 50 menit kemudian, mereka tiba di pulau yang dimaksud. Mereka disambut sebuah kapal, dimana mereka akan diajari untuk snorkeling."Aku senang kau suka."
"Apa?"
"Kata-kataku."
Jimin tersenyum. "Bukan kah aku memang selalu suka semua yang kau katakan?"
"Kau selalu suka aku. Aku senang"
"Tentu saja," sahutnya. Dia mengecup pipi Kalani. "Kau sudah siap, sweetheart?"
Kalani menganggukkan kepalanya. Selama snorkeling, mereka melihat berbagai macam jenis ikan dan hewan laut. Airnya sangat jernih hingga segala hal yang ada di bawah laut dapat terlihat dengan jelas. Jimi memeluk pinggangnya saat seseorang membantu mengabadikan mereka saat di dalam laut.
Ketika hari mulai semakin siang, mereka kembali ke Phuket. Membersihkan diri di salah satu resort bernama The Shore at Katathani, lalu menyantap makan siang di restoran. Mereka berjalan di sekeliling resort setelah makan. Bergandengan sambil sesekali bermain pasir, membuat keringat kembali berucucuran. Hanya saja Kalani tidak merasa keberatan, selama ia bisa dengan bebas menggenggam jemari Jimi.
"Jim, kau tahu?"
"Apa?"
Kalani tersenyum kecil. Sejak 8 tahun lalu, kami sering melakukan semacam itu. Sederhana, tapi mengingatkan kembali bagaimana hari-hari telah kami lalui.
"Kenapa?" tanya Jimi ulang ketika ia tidak menjawab. "Sepertinya aku tahu apa yang ada di pikiranmu," katanya. "Apa kau ingin bertanya-tanya lagi, bagaimana aku bisa suka padamu? Bagaimana seorang sepertiku suka padamu?"
Kalani tertawa. Sekarang pikirannya sangat mudah ditebak oleh Jimi, mungkin karena ia terbiasa mengatakan semuanya pada Jimi.
"Aku tidak sempurna, aku sangat kekanakan. Kau yang membuatku sedikit lebih dewasa. Kalau bukan karenamu, eyang mungkin akan mengusirku. Aku malas sekali belajar dulu sebelum bertemu denganmu. Bukan kah, aku dan kamu bisa menjadi kita yang saling melengkapi?"
"Apa kau mengingat keseluruhan puisinya?"
"Aku mengingat semua puisi yang kau buat untukku."
Matahari mulai terbenam. Langit seakan membentuk warna hologram. Memotret satu lagi kenangan indah Jimi dan Kalani.
***
Mobil mewah seharga miliyaran milik Jimi digantikan sebuah Mini Cooper S Cabrio berwarna hitam yang terparkir manis di bandara. Seorang supir yang membawakan mobil tersebut keluar dari mobil. Ia menyerahkan kunci pada Jimi lalu pergi.
Kalani mengerutkan keningnya, tidak pernah tahu bahwa Jimi menyukai mobil mungil yang lucu."Kau suka? Sepertinya aku memilih mobil yang tepat."
"Kau tahu, kau tidak perlu mengubah seleramu hanya karena aku tak suka."

YOU ARE READING
XAVIERS - BTS Fanfiction
RomanceCast Jimi Xavier - Jimin BTS Binar Xavier - SUGA BTS Rayi Xavier - RM BTS Zeno Xavier - Jungkook BTS Dean Xavier - J-Hope BTS Erlangga Xavier - Jin BTS Langit Xavier - V BTS Xavier Universe, dimana 7 orang rupawan hidup dan dalam pencarian menemuka...