SAJAK DARI LANGIT - PART 10

444 103 7
                                    

Lift terbuka dan Langit mempersilahkan Kalani keluar lebih dulu. Ia mengeluarkan ponselnya dari kantong jas. Tak butuh waktu lama untuk teleponnya di angkat. Langit menanyakan dimana Jimi. Wajahnya berkerut ketika ia mendengar jawaban dari asistennya.

"Katanya Jimi sedang ada pertemuan. Apakah agendanya tidak dapat ditunda?"

"Kami sudah menundanya 2 minggu."

"Hmmm, apakah kau ingin ku temani?"

"Tidak, tidak perlu," jawab Kalani segera. Ia tidak ingin ada masalah di dekat-dekat waktu pernikahannya ini. "Kalau kau bertemu Jimi di rumah nanti, sampaikan maaf padanya karena aku harus memutuskan cincin pernikahan sendiri. Kalau bisa minta dia beri aku kabar, aku sangat khawatir."

"Kenapa kau minta maaf padahal tidak salah? Jimi yang keterlaluan padamu."

***

Mereka bertengkar keesokan harinya. Jimi datang ke rumah meminta maaf tapi perasaan Kalani masih tidak baik saat itu. Mereka berargumen seperti biasa, tapi pada akhirnya berakhir pada kondisi saling berpelukan. Mereka lalu melihat kembali pilihan Kalani dan membicarakan ulang pada Wina untuk beberapa perubahan sebagai tambahan pendapat Jimi.

"Aku marah, tapi aku mencintainya
Apakah cinta sebuta itu?
Biar dia diam seperti batu, aku akan tetap mencintainya
Biar dia bergejolak seperti ombat di laut, aku tetap mencintainya
Dia layaknya pemilik semestaku
Galaksi bima sakti? Kurasa aku tidak tinggal di sana
Aku tinggal di tata suryanya sendiri
Meskipun begitu, aku tetap mencintainya.
Demikian Sajak dari Langit hari ini, sampai berjumba besok hari."

Begitulah puisi penutup acara radio Kalani hari ini. Puisi yang melambangkan sekali suasana hatinya dalam beberapa waktu menjelang pernikahannya. Kalani terus berpikir positif bahwa kesibukan Jimi hanya sementara dan setelah menikah ia akan lebih sering bertemu Jimi. Ia hanya perlu bersama sebulan lagi.

"Akhir-akhir ini wajahmu muram," komentar Dinda. "Ada masalah?"

Kalani ingin rasanya menceritakan semuanya pada Dinda, tapi tidak bisa. Queisha mengetahui hubungan dengannya juga tidak dapat dihubungi, ia mungkin sibuk mengurus perusahaan barunya. Sesekali saat di mobil ia menyanyi sambil berteriak sendiria. Ia ingin meluapkan emosinya, tapi tidak tahu pada siapa. Saat bertengkar dengan Jimi pun pada akhirnya dia hanya akan merasa bersalah. Wajah lelah Jimi membuatnya tidak bisa marah terlalu lama.

Kalani menggelengkan kepalanya lemas. "Hanya tidak enak badan."

"Masa? Puisimu akhir-akhir ini berubah menjadi seperti orang patah hati."

Mungkin ia memang sedikit patah hati. Ya, patah hati karena Jimi semakin terasa jauh padahal sebentar lagi hari pernikahan.

"Serius, aku baik-baik saja. Hanya kelelahan."

"Ah, kalian berdua kenapa menyembunyikan rahasia dariku. Kau tahu tidak, ada beberapa media mencurigai tunangannya Jimi Xavier."

Kalani tersentak mendengarnya. Ia langsung duduk tegak. Kabar pernikahannya memang tidak dapat disembunyikan dari media, meskipun sampai sekarang identitas dirinya dirahasiakan.

"Dan kau tahu, aku melihat fotonya. Saat melihat ciri-cirinya aku yakin sekali itu adalah Queisha!"

Kalani lebih tidak bisa menyembunyikan keterkejutakannya. Queisha? Berbagai pikiran tiba-tiba muncul di otaknya, tapi ia berusaha menahannya. "Kau tidak salah?"

"Benar kan? Kau juga akan terkejut!" seru Dinda. Ia lalu mengeluarkan ponselnya. "Kau kan tahu aku update sekali soal keluarga Xavier. Saat aku mencari beritanya, aku melihat foto ini. Lalu pada tanggal yang sama Queisa memasang sebuah foto cincin dengan kata-kata "thank you, love", aku tak menyangka Queisha menyembunyikan hal semacam ini dari kira berdua."

Kalani memeriksa foto yang ditunjukkan oleh Dinda. Dia memang yakin sekali laki-laki dan perempuan yang ada di foto adalah Jimi dan Queisha. Mereka berdua sedang makan malam di salah satu restoran bintang lima. Ia dapat melihat Jimi mengenakan jas rapi dan Queisha mengenakan gaun, meskipun wajah keduanya tidak begitu terlihat. Kalani lalu melihat foto cincin yang dipasang Queisha di media sosial. Tertulis di sana tanggal 12 Juni 2018. Sekitar empat hari yang lalu, tepat saat ia harus pergi sendirian untuk memilih cincin pernikahan.

"Kau bilang kedua foto ini pada hari yang sama?"

"Ya, tidak mungkin suatu kebetulan, bukan?"

***

"Langit, bilang padaku siapa yang ditemui Jimi malam itu?" Kalani langsung menanyakannya begitu ia diperbolehkan masuk ke dalam ruangannya.

Langit yang sedang sibuk dengan berkas di depannya langsung berhenti dan mendongakkan kepalanya. "Malam itu?"

"Saat kau melihatku menangis."

"Oh itu," Langit terlihat mengerti. "Aku tidak tahu siapa, asistennya bilang dia hanya sedang ada pertemuan secara privasi."

"Kau bohong, kau pasti tahu."

Langit menghela napasnya. "Kau mungkin bisa tanyakan langsung padanya. Beberapa waktu lalu dia membalas pesanku. Kalau kau menghubunginya sekarang, mungkin ia akan langsung menjawabnya."

Kalani keluar dari ruangan Langit dengan perasaan yang semakin emosional. Tangannya bergetar menahan amarah dan rasa takut. Ia tidak pernah merasa secemburu ini. Tanpa pikir panjang Kalani memutuskan untuk datang ke kantornya.
Sementara itu, Jimi sedang berkutat dengan pekerjaannya ketika asistennya mengetuk pintu. Kalani muncul di belakangnya dengan wajah yang muram. Ia tidak pernah melihat wajah kekasihnya seperti itu.

"Hei, hei, ada apa?" tanyanya begitu asistennya keluar. Ia menarik Kalani duduk di sofa.

"Kau kemana saat kita harusnya memilih cincin pernikahan?"

Jimi mengerutkan keningnya. "Bukan kah kita sudah membahasnya?"

"Jawab saja aku dengan jujur! Kau kemana?" Kalani menanyakannya dengan sedikit berteriak membuat Jimi terkejut.

"Kau tidak biasanya seperti ini, kau kenapa? Aku sudah menjelaskan padamu, aku ada meeting dan ponselku mati. Aku juga sangat menyesal karena membuatmu kecewa. Bukan kah kita sudah menyelesaikannya kemarin?"

"Apa kau meeting dengan cara makan malam romantis?"

"Apa maksudmu?" tanya Jimi yang semakin tidak mengerti. Tiba-tiba ia dituduh selingkuh padahal yang ia lakukan adalah bekerja siang dan malam.

"Aku melihatnya di berita, orang-orang membicarakan tunanganmu tapi sejauh yang kulihat wanita yang makan malam romantis denganmu bukan aku."

"Apa yang kau maksud adalah Queisha? Para media salah paham, aku sudah meminta asistenku untuk menyelesaikannya, aku benar-benar meeting saat itu. Queisha menjadi rekan kerja baruku setelah ia menjalankan salah satu bisnis ayahnya. Akhir-akhir ini kami memang sering bertemu karena sedang ada pembangunan salah satu anak perusahaan baru yang bekerja sama dengan perusahaan Queisha," Jimi berusaha menjelaskan dengan cepat. Ia sendiri panik karena melihat tatapan amarah dari Kalani. Ia tidak suka tatapan tersebut. Bukan tatapan penuh cinta yang selalu ia rindukan.

"Apakah meeting mengenakan jas dan gaun? Aku mungkin bisa mengerti bila kau mengenakan jas, tapi Queisha mengenakan gaun! Dan sejak kapan meeting ada di sebuah restoran romantis? Kau bahkan memberikannya cincin! Apa kau pikir aku akan percaya?" Kali ini Kalani sudah sampai ke puncak. Dia tidak memiliki ketenangan yang biasanya ia dapatkan saat bertengkar dengan Jimi. Tidak ada lagi rasa kasihan.

"Aku juga tidak tahu kenapa ia mengenakan gaun. Lokasi meeting ditentukan oleh perusahaannya, awalnya akan diadakan di perusahaannya miliknya tapi sedang ada renovasi. Aku sudah menawarkan untuk diadakan di kantorku, tapi mereka ternyata sudah melakukan reservasi terlebih dahulu. Lalu apa maksudmu dengan cincin?"

Kalani membuka media sosial miliknya dan melakukan pencarian pada akun Queisha. "Dia memasang ini sesaat setelah kalian bertemu. Kau memberikan cincin pada rekan kerjamu di saat kau harusnya menemani calon istrimu memilih cincin pernikahan?"

XAVIERS - BTS FanfictionWhere stories live. Discover now