Ia membasahi bibirnya sebelum bicara, "Pertama, aku telah melakukan banyak kebodohan dalam beberapa waktu. Aku membuatmu kecewa dan sangat melukai dirimu. Jujur saja pada awalnya aku juga sedikit merasa terluka karena kau tidak percaya padaku. Aku tak pernah sekali pun melihat wanita lain, aku hanya mencintaimu dan tak pernah ingin sedikit pun berpaling darimu. Lalu kau tiba-tiba datang dan menuduhku selingkuh. Aku tidak menjelaskan padamu karena kurasa saat itu aku tak perlu melakukannya. Aku benar-benar tidak selingkuh dan aku mencintaimu sepenuh hatiku.
Lalu aku mengerti ketika kau pergi saat ulang tahunku. Aku menunda bicara padamu sampai pada titik kau benar-benar kehabisan kesabaran. Kau menghilang begitu saja dan saat kau kembali, kau memutuskan hubungan kita."
Jimi berhenti sebentar karena ia merasa tercekat. "Aku tidak tahu kau bisa semarah itu. Aku sadar kalau aku melakukan hal yang benar-benar bodoh. Kau selalu sabar menghadapi rasa cemburuku, kau selalu menungguku bila aku sibuk bekerja, kau selalu mengerti dengan kondisiku. Hingga aku lupa kalau kau juga bisa marah dan kecewa. Kau juga bisa lelah menungguku."
"Jim –"
"Kumohon biarkan aku bicara," Jimi memotong. "Hari ini aku tahu telah melakukan hal bodoh lain dan membuatmu kembali kecewa. Tapi, aku tidak bisa melihatmu dengan laki-laki lain. Aku tak akan sanggup bila kau terlanjur jatuh cinta padanya. Apakah aku sudah mengatakannya? Aku benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku hanya ingin kau kembali di hidupku."
Kalani kebingungan mencari kata-kata untuk menjawab Jimi. "Jim, aku tidak tahu. Kurasa aku tidak bisa menerimamu lagi."
Kalani tidak datang ke sini untuk menyiapkan hatinya menerima Jimi kembali. Dirinya hanya ingin Jimi berhenti mengganggu kehidupannya. Selain itu, dia sungguh tidak memahami perasaannya sekarang. Arya ada bersamanya ketika ia kalut. Arya menghiburnya, membuatnya tertawa. Menerima Jimi sekarang baginya adalah kejahatan untuk Arya.
"Kenapa?" tanya Jimi dengan tatapan sendunya.
Bagi Kalani tatapan Jimi seperti sebuah sayatan. Kedua kalinya hari ini Kalani menangis. "Aku takut kalau aku sudah benar-benar jatuh hati padanya."
Jimi memegang kedua pundak Kalani, memaksanya untuk menatap dirinya. Ia menatap kedua bola mata Kalani dalam. "Bukan jawaban itu yang kuharapkan darimu, Kalani," bisiknya.
Ia lalu menarik Kalani mendekat. Kalani berusaha menjauhkannya tapi Jimi menangkap kedua tangannya dengan tangan kanannya. Tangang kirinya bergerak memegang tengkuknya, ia mendorong kepala Kalani pelan untuk mendekat. Bibir mereka bersatu dengan lembut meskipun Kalani berusaha memberontak. Kalani berhenti berontak setelah beberapa waktu Jimi tidak berhenti menciumnya, membuatnya masuk ke dalam pusaran kenangan lama. Kalani sekali lagi memberontak tapi ia tak punya kuasa. Tubuhnya seakan mengalah karena sentuhan Jimi. Jantungnya berdebar-debar, perasaan yang sama persis 8 tahun yang lalu saat mengetahui Jimi mencintai dirinya.
Jimi melepaskan ciumannya ketika ia sudah lebih tenang. Ia menatapnya dalam. "Kau masih mencintaiku, benar kan?" bisiknya lagi. Tatapan sendunya masih tak berubah. Seakan memohon Kalani untuk menyutujui ucapannya.
Kalani kehilangan napasnya, terutama karena otak dan jantungnya sama-sama tidak bisa bekerja dengan baik sekarang. Jimi kembali menariknya ke dalam pelukan. Ia seakan tahu mengenai detak jantung Kalani yang tak karuan sekarang, seakan berusaha untuk menenangkannya melalai pelukannya.
"Kau hanya bingung, benar kan?"
Kalani tetap terdiam. Kehabisan kata-kata. Dia juga masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang iramanya kacau balau akibat ciuman Jimi yang tak terduga.
Jimi kembali mendekat. Kali ia memeluk Kalani erat dan menenggelamkan kepalanya di bahu Kalani yang tertutupi rambutnya. Ia kembali berbisik, "Beri aku kesempatan seminggu saja. Pergi lah denganku selama seminggu. Aku akan menghilangkan kebingunganmu."
***
Kalani merasa déjà vu saat ia menaiki tangga pesawat. Jimi berdiri di sampingnya sambil menggenggam jemarinya erat. Ia memasang senyum lebarnya seakan dua bulan ini benar-benar tidak terjadi apapun dan sekarang mereka sedang pergi kencan seperti sebelumnya.
Kalani tidak bisa menolak ajakan Jimi untuk pergi. Langit memberikannya cuti kembali selama seminggu. Jimi sendiri sepertinya juga meminta izin pada eyang untuk menghentikan aktivitas di kantor. Pagi-pagi sekali mobil Jimi sudah terparkir di halaman rumahnya, ia meminta izin kepada kedua orang tuanya yang entah bagaimana langsung memberikannya izin.
"Kau mau sarapan?"
Kalani menggelengkan kepalanya. "Aku masih kenyang," jawabnya. Lebih tepatnya ia merasa perutnya mulas tak karuan, seperti ada yang mengaduk-aduk. Dia terlampau gugup untuk makan.
Bagaimana tidak? Jimi terus menggodanya sejak mereka menaiki mobil. Kalani tak memungkiri kalau ada perasaan kupu-kupu yang bersarang di dirinya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum atau menanggapi godaan Jimi seperti saat mereka berkencan dulu. Hey, Kalani tidak ingin semurah itu. Kemarin dia baru saja menolak laki-laki di sampingnya ini dan berkata menyukai orang lain.
Jimi tersenyum geli menggodanya. "Kenapa kau terlihat seperti pertama kali kita berkencan?"
Kalani tidak menjawab. Ia menolehkan kepalanya ke jendela. Ia takut Jimi melihat pipinya memerah. "Jimi, kemana kita pergi?"
"Aku senang mendengarmu memanggil namaku," katanya sebelum menjawab. "Tapi, aku lebih senang kalau kau memanggilku sayang lagi," tambah Jimi menggoda kesekian kalinya.
"Kau benar-benar tidak menyerah ya," ucap Kalani ketus.
Jimi tersenyum simpul. Ia memperhatikan Kalani yang sibuk memandangi jendela dengan pipi bersemu merah. "Aku akan menjawab kalau kau memanggilku sayang."
Kalani kali ini mengalihkan pandangannya. "Terserah, aku tak peduli."
"Kalau begitu kuculik saja sekalian. Kalau aku membawamu lari ke pulau terpencil, kita bisa hidup bersama-sama kan? Kurasa orang tuamu tidak akan khawatir karena yang menculikmu adalah aku."
"Sepupumu benar, kau sudah gila."
Jimi tertawa kecil mendengarnya. "Aku gila karenamu."
Kalani lagi-lagi mengabaikan Jimi. Ia memilih memejamkan matanya. Ia mendengar Jimi kembali berucap, "Santorini, aku ingin mengajakmu bulan madu ke sana. Tapi kupikir kita bisa pergi ke tempat lain nanti."
Jimi memperhatikan Kalani yang terlelap. Ia bersyukur Kalani masih memberikan kesempatan padanya. Rasanya jantungnya hampir terlepas dari tempatnya ketika Kalani menolaknya. Hampir sama seperti ketika ia tahu Kalani menyukai Langit dahulu, bahkan rasanya lebih lagi karena Kalani benar-benar adalah hidupnya sekarang.
"Kau bilang tidak memimpikanku sebelumnya, apakah sekarang kau memimpikanku?" bisik Jimi pada dirinya sendiri.
Jimi lalu perlahan memindahkan kepala Kalani yang awalnya bersandar pada jendela pesawat, disandarkan ke bahunya. Ia juga melingkakarkan tangannya memeluk Kalani. Tangan lainnya membelai wajah Kalani lembut.
"Aku tidak bisa kehilanganmu. Tolong kembali lah," bisiknya lagi lalu mengecup kening Kalani perlahan.
***

YOU ARE READING
XAVIERS - BTS Fanfiction
RomanceCast Jimi Xavier - Jimin BTS Binar Xavier - SUGA BTS Rayi Xavier - RM BTS Zeno Xavier - Jungkook BTS Dean Xavier - J-Hope BTS Erlangga Xavier - Jin BTS Langit Xavier - V BTS Xavier Universe, dimana 7 orang rupawan hidup dan dalam pencarian menemuka...