SAJAK DARI LANGIT - PART 15

369 79 11
                                    


Jimi jatuh pingsan ketika pulang kerja. Tepat ketika ia akan naik tangga dan Binar di  belakangnya. Mereka segera memanggil ambulan. Dokter bilang ia terlalu lelah dan stress. Pola makan dan tidurnya juga tidak teratur sehingga tubuhnya tidak bisa menerima. Ia harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

"Kalau yang begini sih penyakit mala rindu," celetuk Rayi saat mereka menjenguk bersama ke rumah sakit keesokan harinya.

"Langit, kau tau kemana dia pergi?"

Langit sebenarnya agak sedikit kesal dengan Jimi. Ia merasa Jimi memang agak keterlaluan. "Besok dia akan kembali ke kantor."

"Bisa kau beritahu padanya kalau aku di sini?"

"Aku akan berusaha membujuknya datang, tapi tidak janji ia akan menurutinya."

***

Kalani memantapkan hati ketika ia masuk ke dalam rumah sakit. Ia telah mengambil keputusan. Keputusannya sangat bulat dan ia tidak akan berubah pikiran hanya karena kasihan. Ia menarik napas sekali lagi.

Ketika ia datang, eyang ada di dalam kamar bersama kedua orang tuanya. Kakinya terasa seperti jeli tiba-tiba. Ia mungkin akan jatuh bila tidak berpegangan pada gagang pintu. Segera ia memberi salam pada mereka.

"Kalani, akhirnya kau datang, Jimi sudah menceritakan pada eyang apa yang terjadi. Eyang memarahinya seharian."

"Pi, mereka perlu bicara, ayo kita pulang."

Eyang dan kedua orang tuanya pergi meninggalkan mereka berdua. Jimi tersenyum kecil melihat Kalani. Ia sangat merindukannya. Mungkin Rayi benar, ia sakit karena sangat merindukan Kalani. Ia mencoba meraih lengan Kalani untuk menariknya ke dalam pelukan. Tetapi, Kalani justru memundurkan diri.

"Maaf, Jim. Aku datang ke sini memang untuk menjengukmu, tapi ada hal yang ingin ku bicarakan."

"Benar, kita belum bicara. Aku ingin kita bicara dengan baik sekarang. Aku –"

"Jim, kita putus saja."

Tubuh Jimi tiba-tiba membeku. Dadanya seakan dihantam ribuan ton beban. "Apa?" tanyanya karena tak yakin dengan pendengarnnya.

"Kita putus saja."

Jimi mengerjapkan matanya beberapa kali. Pandangannya terasa kabur. Ia mencoba menahan dirinya agar tidak tumbang. "Aku telah sadar bahwa aku keterlaluan. Aku benar-benar bodoh. Tapi, apakah kau serius ingin putus?" Jimi gelagapan. Ia panik dan tak tahu apa yang harus ia bicarakan.

"Ya, aku ingin putus."

"Tidak, Kalani. Jangan bercanda, kita akan menikah bulan depan."

"Kerenanya hentikan saja sekarang. Sebelum kita benar-benar menikah."

"Apa kau tidak mencintaiku lagi?"

Kalani tak tahu jawaban dari pertanyaan Jimi. Bahkan memandang dirinya yang sekarang sakit saja hatinya tetap terasa hampa. Ia tahu tidak mungkin perasaan cintanya tiba-tiba saja lenyap. Ia masih merasakan sakit yang luar biasa beberapa hari lalu. Tetapi, mungkin itu adalah pertahanan diri. Mungkin karena ia terlalu mencintai dan terlalu terluka sehingga sekarang justru perasaannya kosong.

"Aku tidak ingin putus, Kalani. Kita bukan sekali saja bertengkar, kenapa kau seperti ini sekarang? Kita bahkan belum bicara dengan benar."

Kalani kembali memundurkan dirinya ketika Jimi berusaha menggenggam tangannya. Bila Jimi menyentuhnya, mungkin ia tak akan bertahan untuk tidak menangis. Sebelumnya ia juga tak menyangka akan mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.

"Jim, aku mengajakmu bicara sejak awal, kau pikir aku juga ingin kita berakhir seperti ini? Aku bisa menerima bila kau sibuk. Aku tahu kau lelah. Hanya saja kau selalu mengakhiri pembicaraan kita tanpa memperbaiki apapun. Kau bilang aku perlu waktu untuk berpikir dan kau benar. Sekarang aku sudah berpikir dan kupikir hal terbaik untuk kita sekarang adalah mengakhirinya."

Jimi terdiam. Lidahnya seakan membeku. Ia tahu telah salah memperlakukan Kalani. Ia pikir kemarin keadaan akan membaik bila Kalani lebih tenang karena biasanya seperti itu. Setiap kali Kalani marah, ia akan pergi tidur dan saat bangun Kalani akan menghubunginya.

"Queisha bukan satu-satunya teman kerjamu, Jim. Kau selalu bicara padaku bila kau harus pergi dengan perempuan lain karenanya aku tak pernah cemburu padamu, bahkan ketika kau harus pergi kerja di luar negeri dengan rekan kerja wanitamu. Aku tak tahu apakah kau benar-benar selingkuh dengannya atau tidak, aku tak tahu kau bohong atau tidak padaku. Hanya saja dari sudut pandangku, kau keterlaluan, Jim. Kau biarkan aku gelisah setiap hari, membayangkan kekasihku mungkin benar-benar berkencan dengan wanita lain. Sementara pernikahan semakin dekat dan aku mengurusnya sendirian. Kalau kau ingin kita bicara sekarang, kurasa sudah terlambat. Aku mungkin merasa lebih tenang dari beberapa hari lalu, tapi perasaanku telah kosong," Kalani bicara panjang lebar.

"Kau benar-benar ingin kita berakhir?" tanya Jimi sekali lagi. Ia mulai pasrah, rasanya seperti tidak ada jalan keluar untuk merubah pikiran Kalani lagi.

Kalani menganggukkan kepalanya. Ia melepaskan cincin dari jemarinya lalu mengeluarkan kunci mobil. "Ku kembalikan cincin dan mobilmu beserta barang-barang yang kau beri padaku dan keluargaku. Semuanya ada di dalam mobil."

"Apa yang kau lakukan? Apa sekarang kau benar-benar memutuskan kontak juga? Apa kau tidak akan datang ke rumah dan aku tak boleh ke rumahmu?"

Kalani terdiam sebentar. Keluarga Jimi sudah seperti keluarganya, begitu sebaliknya. 8 tahun adalah waktu yang sangat lama. "Aku akan bertemu dengan keluargamu bila memang ada kesempatan. Kuharap begitu juga denganmu."

"Kalani, aku tak tahu seperti apa hidupku tanpamu."

Kalani tersenyum miris. Hatinya mulai bergetar. Dadanya kembali terasa sesak tiba-tiba. Ia harus pergi segera. "Maaf, Jim. Aku pergi. Selamat tinggal."

Jimi semakin gelagapankarena Kalani ingin pergi meninggalkannya. Ia berusaha berdiri, tapi sebelum iasempat membawa Kalani ke dalam pelukannya, wanitanya telah lebih dulu lari.Jimi berusaha mengejarnya, tapi karena keadaannya masih lemah, ia terjatuh.Kepalanya menyentuh lantai rumah sakit. Kesadarannya menghilang seketika.

***

~ Juli 2018

Putusnya hubungan Kalani dengan Jimi cukup mengejutkan kedua keluarga. Eyang marah besar, terutama pada Jimi. Kedua orang tua Kalani yang tahu lebih dulu pun juga sedikit merasa kecewa akan keputusan dari anaknya meskipun mereka mendukung apapun keputusannya sejak awal. Para sepupu beberapa kali menghubunginya, memastikan pada Kalani apakah dia benar-benar serius.

"Iya, Ga. Aku juga sudah menghubungi Wina untuk membatalkan semua pesanan," Kalani menjawab pertanyaan Erlanggan di teleponnya. Wina sendiri adalah kekasih Erlangga selama 5 bulan ini. "Aku tahu biaya yang dikeluarkan cukup besar, aku menyesal itu terjadi sekarang."

"Hei, jangan bicarakan biaya. Jimi yang sangat bodoh itu memang harus menanggungnya. Apakah kau baik-baik saja sekarang? Aku menghubungimu karena khawatir, kurasa sepupuku yang lain juga."

Kalani mencoba mengeluarkan tawa kecil meskipun itu terdengar seperti suara burung gagak, menyeramkan. "Langit terus menanyakan apakah aku baik-baik saja setiap hari. Binar menghubungiku seminggu lalu. Dean sekitar dua hari yang lalu. Bila Zeno dan Rayi menghubungiku juga, berarti kalian benar-benar khawatir padaku," ia berusaha bercanda.

"Tentu saja kami khawatir. Jimi tidak pulang ke rumah setelah keluar dari rumah sakit, dia terus di kantor. Kalau dia saja seperti itu, bagaimana denganmu?"

"Aku tidak yakin, tapi aku bekerja dan bertemu teman kantorku, jadi kurasa aku baik-baik saja."

"Baiklah, kalau perlu bantuan kau bisa mengubungiku."

"Ada apa dengan kalian? Binar juga mengatakan hal yang sama padaku. Terima kasih atas tawarannya."

XAVIERS - BTS FanfictionWhere stories live. Discover now