"Kau langsung pergi saja," pinta Kalani pada Arya.
Sesuai janjinya Arya juga mengantarnya pulang. Tetapi, Chevrolet Camaro RS hitam terpakir di halaman depan rumahnya yang kecil dan ia tahu pemiliknya pastilah Jimi. Ia tidak ingin pertengkaran terjadi di rumahnya, terutama di depan kedua orang tuanya. Jimi hari ini tak hentinya mengiriminya pesan dan bila ia melihat Kalani datang bersama Arya, sudah pasti bukan sesuatu yang menyenangkan.
Arya lebih dulu turun dari mobil dan membukakannya pintu. "Aku akan jadi pengecut bila menghindarinya. Bukan kah hubungan kalian sudah berakhir? Aku bebas mendekatimu, bukan?"
Arya mengulurkan tangan kanannya. Jantung Kalani berdetak kencang saat ia menerima uluran tangan tersebut. Ia berusaha tidak melepaskan tangan Arya saat Jimi sudah berada di depannya dan menatapnya dengan tajam. Beruntungnya sepertinya ayah dan bunda sedang tidak ada di rumah karena Jimi menunggu seorang diri di teras rumah.
"Aku akan pulang sekarang," kata Arya begitu mereka di depan pintu. Ia sengaja meletakannya tangannya di atas kepala Kalani dan mengelusnya pelan.
"Hati-hati –"
Belum sempat Kalani menjawabnya, Jimi telah lebih dulu menarik tangan Arya yang ada di kepalanya dan meninjukan kepalan tangan di wajah Arya. Kalani menjerit terkejut meskipun ia tahu hal seperti ini akan terjadi bila Arya nekat turun dari mobil. Jimi tidak bisa mengendalikan diri bila sudah cemburu.
"Apa kau pikir Kalani benar-benar akan menyukaimu? Brengsek!" Jimi lagi-lagi meninjukkan kepalan tangannya. "Dia hanya sedang marah padaku, jadi jangan coba-coba menyentuhnya."
Kalani mendorong Jimi menjauh dari Arya. Ia memberikan tamparan ke pipi Jimi untuk menyadarkannya. "Kalau kau ingin menghajarnya lagi, kau harus melukaiku! Pulang lah, aku tidak ingin bicara padamu lagi!"
Jimi sepertinya terkejut karena Kalani menampar pipinya. Dia memegangi pipinya yang terasa terkena sengatan listrik. "Tidak, bukan aku yang harus pulang sekarang."
"Kalau kau tidak pergi sekarang, aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu lagi seumur hidupku."
Jimi akhirnya mengalah, ia tahu hanya akan memperparah hubungannya dengan Kalani bila ia bersikap kekanakan. Ia tadi lepas kontrol karena tidak tahan melihat mereka berdua secara langsung. Rasanya jiwanya terguncang seketika. Ia lalu memegangi kedua pundak Kalani, ia menatap lurus ke arah bola mata Kalani.
"Kumohon, hubungi aku," pintanya sebelum pergi.
Setelah Jimi pergi, Kalani segera masuk ke dalam rumahnya mencari obat-obatan dan beberapa peralatan untuk membersihkan luka di wajah Arya. Ia merasa bersalah karena Arya harus terluka karena sikap Jimi yang kekanakan. Dengan sepenuh hati dia mengobati Arya.
"Aku baik-baik saja, berhenti lah memasang wajah bersalah," ucapnya saat Kalani selesai mengobatinya.
"Kau harusnya pulang saja. Kau tidak seharusnya terluka karenaku," jawab Kalani. Ia merasa sebentar lagi akan menangis.
Arya mendekatkan dirinya pada Kalani. Ia merangkul pundaknya. "Hei, jangan menangis. Aku baik-baik saja. Aku tahu menghadapi keluarga Xavier agak sulit, tapi kalau kau mendukungku, kurasa aku akan baik-baik saja."
Kalani terdiam tak menjawab.
"Kalani, menikah lah denganku."
Kalani lagi-lagi terdiam.
"Aku tahu kau masih bingung. Jadi pikirkan lah permintaanku. Mungkin aku tidak sesempurna Jimi, tapi aku mencintaimu."
Setelah mengucapkannya Arya pamit pulang. Membiarkan dirinya diselimuti kekalutan yang mendalam. Menikah? Dengan Arya? Bahkan hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya dengan Jimi saja belum berlalu.
Sebuah pesan masuk dalam ponselnya. Beri aku kesempatan, bicaralah denganku. Pesan dari Jimi semakin menambah kekalutannya.
***
~Juli 2018
Jimi tidak berhenti sampai di malam ia bertengkar dengan Arya saja. Kalani merasa ia sekarang diikuti kemana pun ia pergi. Bodyguard yang dipekerjakan oleh Jimi kini dengan terang-terangan mengikutinya, terutama ketika ia pergi bersama Arya. Jimi juga terus menghubunginya dan hampir setiap hari setelah pulang kerja datang ke rumahnya.
"Kalani," panggil bunda dari luar kamar.
Kalani segera bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk bunda. "Kenapa, bunda?" tanyanya.
"Bunda ingin bicara denganmu."
Bunda masuk ke dalam kamarnya dan mengajaknya duduk di pinggiran kasur. Bunda menggenggam kedua tangannya. "Orang tua Jimi menghubungi ayah tadi, mereka bermaksud untuk memperbaiki hubungan kalian kembali."
Kalani terdiam. Eyang juga menghubunginya kemarin. Langit mengatakan padanya, eyang sekarang dalam kondisi tidak terlalu baik setelah pembatalan pernikahan. Ia tahu eyang memang menyayanginya dan ia pun menyayangi eyang. Tetapi, untuk kembali dengan Jimi, ia masih tidak begitu yakin.
"Bunda tahu Jimi membuatmu sangat terluka dan kau sekarang berusaha untuk melupakannya. Kau juga sedang dekat dengan Arya. Tetapi, kalau boleh bunda memberi saran, coba pikirkan ulang sekali lagi. Jimi anak yang baik, keluarganya pun begitu padamu. Semua orang bisa berbuat salah, begitu juga Jimi."
Kalani menarik napas dalam. "Kalani tidak tahu, bunda. Jimi bukan orang yang sama setelah ia menjadi direktur utama."
Bunda tersenyum. "Kau sebenarnya merasa terluka karena Jimi tidak menjadikanmu yang terpenting lagi, kan? Kalani, kalau Jimi tidak menganggapmu penting, dia tidak akan datang setiap hari untuk membujukmu."
"Bunda tidak suka dengan Arya?"
"Apa kau benar-benar suka dengan Arya? Kalau kau suka, maka ayah dan bunda pasti suka."
Kalani terdiam lagi. Tak yakin.
"Jangan sampai kau menjalin hubungan dengan orang lain hanya karena kau marah pada Jimi. Arya tidak bersalah dalam hubungan kalian, jangan lukai dia lebih dalam. Kalau kau memang tidak suka, kau harus mengatakannya."
***
"Apa kau sekarang menggunakan jabatan untuk mengancamku?"
Jimi menghirup kopi panas yang dibawakan asistennya. Kakinya disilangkan dan pundaknya menyentuh sofa di belakangnya. "Aku memberikanmu radio milikmu sendiri, apa aku mengancammu?"
Arya menatap Jimi tajam. Harga dirinya terasa terguncang. Tadi pagi Langit masuk ke dalam ruangannya dengan wajah muram. Ia berkata tidak bisa membantu karena secara struktural Jimi adalah pimpinannya dan keputusan Jimi untuk memindahkan Arya ke radio lain sudah mutlak. Ia bahkan sudah membeli radio baru yang ada di daerah bandung. Sepertinya sepupu sahabatnya ini sudah gila.
Jimi meletakkan cangkirnya ke atas meja. Ia lalu berdeham. "Tapi, kalau kau merasa terancam juga tidak masalah. Aku memang bisa menghancurkanmu."
"Kalau kau membicarakan tentang Kalani, kenapa tidak tanyakan sendiri padanya siapa yang ia pilih?"
Jimi mengangkat sebelah alisnya. "Apa kau percaya Kalani akan memilihmu daripada aku?"
Kali ini Arya tertawa kecil. "Tentu saja."

YOU ARE READING
XAVIERS - BTS Fanfiction
RomanceCast Jimi Xavier - Jimin BTS Binar Xavier - SUGA BTS Rayi Xavier - RM BTS Zeno Xavier - Jungkook BTS Dean Xavier - J-Hope BTS Erlangga Xavier - Jin BTS Langit Xavier - V BTS Xavier Universe, dimana 7 orang rupawan hidup dan dalam pencarian menemuka...