SAJAK DARI LANGIT - PART 21

332 52 1
                                    

Jimi lalu menatapnya tajam. Ia memajukan badannya. "Arya, aku tahu keluargamu membutuhkanmu. Bukan kah perusahaan ayahmu sedang bangkrut sejak tahun lalu? Itu alasanmu kenapa kau harus kembali ke Indonesia, benar kan? Radio hanya satu-satunya pendapatanmu untuk membiayai ibu dan adikmu? Apa kau rela menukarkannya dengan Kalani? Bila iya, aku akan dengan sukarela mencabut semua hakmu atas radio milik Langit maupun radio yang baru saja kuberi padamu. Lalu akan kupastikan satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah mengemis padaku untuk bisa bekerja."

Arya berusaha menjaga dirinya agar berada di jalan yang waras. Laki-laki di depannya sejak awal bukan saingannya. Hanya saja ia tidak tahu bisa segila ini. Ibu dan adiknya adalah ancaman terberat untuk dirinya. Tidak ada yang bisa ia tukarkan bila itu berhubungan dengan keluarganya.

"Apa kau yakin menyingkirkanku akan membuat Kalani memilihmu?" arya bangkit dari tempat duduknya. "Aku juga jadi penasaran."

Jimi tidak menyahut. Ia sejujurnya tidak bisa yakin pada perasaan Kalani sekarang. Dia juga bertanya-tanya, apakah Kalani masih mencintainya? Apakah Kalani akan memberikannya kesempatan? Meskipun ia tidak yakin, ia akan terus memperjuangkannya dengan cara apapun.

"Kalani hanya untukku, Arya. Kau seharusnya mendengarkan Langit sebelum mendekatinya," bisik Jimi pelan sebelum Arya beranjak dari ruangannya.

Jimi menghembuskan napas dalam begitu ia keluar. Tubuhnya terasa lemas. Ia tahu telah melakukan hal bodoh lain. Tetapi, akhir-akhir ini hubungan Kalani dengannya semakin dekat sehingga ia harus melakukan cara kotor untuk menjauhkan keduanya.

Terdengar ketukan di pintu dan beberapa saat setelahnya Zeno masuk ke dalam ruangan. Wajahnya memar di bagian sudut bibir. Langit sepertinya memberikannya pelajaran karena telah memberikan Jimi ide bodoh yang ia lakukan sekarang. Padahal dia hanya bermaksud bercanda ketika makan malam dua hari yang lalu.

"Langit masih marah?" tanyanya pada Zeno.

"Tentu saja, kau benar-benar sudah gila. Kurasa eyang akan menghukummu bila ia melaporkannya."

Jimi sama sekali tidak peduli. Kewarasannya telah hilang sejak tahu Kalani dekat dengan laki-laki lain. Hanya pekerjaan kantor yang bisa menghalanginya bertindak lebih parah untuk terus mengikuti Kalani kemana pun ia pergi.

"Aku akan bicara dengannya di rumah. Ia akan mengerti."

***

Kalani terkejut karena Dinda tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dengan heboh. Ia memukul-mukul lengan Kalani pelan dengan tempo cepat, seakan ia sedang kebingungan harus mengekspresikan perasaannya sekarang. Kalani berusaha menenangkannya. Ia memberikannya segelas air putih.

"Kenapa? Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Kalani yang jadi ikut panik melihat sahabatnya.

"Arya dipindah tugaskan ke Bandung! Barang-barangnya sudah tidak ada di kantor. Orang-orang bilang terakhir ia terlihat bertengkar dengan langit, lalu ia pergi sementara beberapa orang membereskan barang di ruangannya!" Ia menjelaskan panjang lebar.

Kalani segera pergi keluar ruangan. Ia mengetuk pintu ruangan Arya, tapi tidak ada sahutan. Ia membuka pintunya dan di dalamnya benar-benar kosong. Dia mengambil ponsel di ruangannya kembali dan menghubunginya, tapi nomornya sudah tidak aktif.

"Bagaimana?" tanya Dinda.

Kalani menggelengkan kepalanya. "Kurasa aku harus bertanya pada Langit. Apa dia ada di kantor?"

"Tidak. Sejak tadi pagi ia juga sudah pergi, katanya ia pergi dengan wajah muram sekali. Mungkin mereka bertengkar hebat."

Kalani mencari kontak Langit di ponselnya. Ia segera menghubunginya dan tak lama kemudian sudah tersambung. Suara berat Langit terdengar menyapanya.

"Kau pasti sudah mendengar kabarnya. Bukan aku yang bertanggung jawab, Jimi melakukan hal gila. Arya juga marah sekali padaku."

"Jimi?" tanya Kalani heran.

"Zeno bercanda soal menjauhkanmu dari Arya dan Jimi menanggapinya dengan serius."

"Dimana kau sekarang?" Kalani ingin bicara secara langsung. Ia ingin tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi.

"Karena ulah Jimi, aku harus mengurus beberapa hal hari ini. Kalani, kau mungkin harus benar-benar mengajaknya bicara. Dia sudah tidak waras."

Langit menutup sambungan telepon setelahnya. Tangan Kalani terasa lemas setelahnya. Dinda segera memberikannya tempat duduk dan air minum. Meskipun tidak mendengarkan langsung, Dinda sudah mengerti yang terjadi.

"Apa kau tidak ingin mencoba menghubungi Arya sekali lagi?"

Kalani merasa ia ingin menangis sekarang, tapi tak tahu menangis untuk alasan yang mana. "Nomornya tidak aktif, Din. Dia pasti membenciku sekarang."

Dinda berusaha menenangkannya dan memeluk Kalani. "Kurasa kau lebih baik bicara dengan Jimi. Setelah urusanmu dengan Jimi benar-benar selesai, kau bisa mencarinya. Kalau ternyata kau benar-benar menyukainya, mungkin lebih baik bila kau bisa menjelaskan pada Jimi lebih dulu."

Kalani memeluk erat balik Dinda. Menyembunyikan kepalanya di pelukan sahabatnya. Air matanya keluar membasahi baju Dinda yang hari ini berwarna merah muda. Dinda mengelus pundaknya pelan sampai Kalani menjadi lebih tenang.

***

Kalani menekan bel rumah yang sekitar dua bulan tidak pernah ia datangi lagi. Seharian ia berpikir dan rasanya bicara pada Jimi adalah keputusan paling baik untuk sekarang. Jimi tidak akan berhenti sampai ia memberikan pengertian untuknya. Ia juga tidak akan bisa untuk maju seperti saran Dinda sebelumnya karena Jimi terus menghantui hidupnya. Terutama demi hubungan baik antara kedua keluarga mereka.

Pelayan segera membukakannya pintu. Semua orang di rumah baik pelayan atau penjaga sudah mengenalnya seperti keluarga Jimi yang lain. Sebenarnya Kalani bahkan diberikan akses untuk masuk dengan sendirinya ke dalam rumah.

"Long time no see, sister," sapa Binar yang kebetulan juga baru datang. Ia baru saja keluar dari Porsche merah kesayangannya. "Kau datang karena dia membuat kekacauan?"

Kalani tidak sedang dalam kondisi ingin bercanda, jadi dia hanya memaksakan seulas senyum. "Bisa kah kau katakan padanya aku ada di ruang tamu?"

"Tidak perlu, dia datang sendiri," Binar menunjuk Jimi yang keluar dari pintu rumah. "Aku masuk lebih dulu. Pastikan kau mengembalikan kewarasan sepupuku, sister. Kami sudah mulai kewalahan."

Binar masuk ke dalam rumah. Sementara Jimi tanpa aba-aba memeluk Kalani erat. "Akhirnya kau datang," bisiknya.

Kalani melepaskan pelukan Jimi segera. "Kau akan membuat kekacauan lebih parah bila aku tidak datang, bukan? Jadi mari bicara sekarang."

Jimi menggigit bibirnya. Ia tahu Kalani marah, tapi ia juga sangat senang karena akhirnya Kalani mau bicara dengannya. Ia membawa Kalani ke bagian lantai 2, ke bagian santai dekat kolam renang. Hari sudah malam meskipun masih belum larut. Saat malam hari bagian kolam renang atapnya tertutup dengan kaca bening memperlihatkan langit malam yang sayangnya untuk malam ini tidak bertaburkan bintang. Hanya ada satu bulan sabit di atas sana. Cahaya diterangi oleh lampu-lampu di sekitar taman dan kolam renang. Jimi mengajak Kalani duduk di salah satu sofa di sana.

"Katakan lah yang ingin kau katakan dengan cepat," kata Kalani dingin.

Jimi berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan bicara dengan Kalani lagi. "Apakah kau bisa melihatku tanpa tatapan dingin itu? Aku sangat gugup sekarang."

"Apa kau ingin aku pulang saja?"

"Tidak, kumohon tidak. Baiklah, aku akan bicara sekarang. Jadi tolong dengarkan aku baik-baik."

XAVIERS - BTS FanfictionWhere stories live. Discover now