BRAK! BRAK!!
Suara pintu apartemen Kyle dipukul begitu kencang hingga Kyle terbangun dari tidurnya. Hari sudah pagi. Kyle melihat ke arah jam dinding diatas televisinya, pukul delapan pagi. Dawn berada didepannya, tertidur menghadap padanya sambil memeluk lehernya. Mereka tertidur diatas sofa dengan selimut ditubuh mereka. Ia juga dapat mendengar suara hujan dari jendela luar dan sekali lagi ia mendengar suara gedoran pintunya yang kencang dan kali ini Dawn terbangun.
"Fuck... siapa yang datang awal begini?" tanya Kyle sambil bangkit duduk.
"Mmm..." Dawn mulai membuka kedua matanya dan saat itu juga Kyle turun dari sofanya sambil mengambil celana jeansnya dan ia memakainya.
"Kembalilah tidur, Dawn." Katanya sambil berjalan ke arah pintu.
Kyle langsung membuka pintu apartemennya dan ia langsung terlihat kecewa dengan siapa yang ia lihat. Ia langsung menghela nafas panjang sambil melipat kedua lengannya. Seorang wanita sektiar 40 tahunan lebih, rambut hitam panjang yang ditata keriting yang besar, kedua mata yang agak besar dengan bola mata berwarna biru, wajah yang oval dan ia memiliki tubuh yang proposional dan ia memakai mantel hitam panjang. Dan dibalik mantelnya yang terbuka, Kyle dapat melihat dress pendek berwarna violet dan sepatu boots berhak tinggi berwarna hitam. Riasan wajah wanita itu agak luntur karena hujan dan rambutnya juga agak basah. Ia sambil menghisap rokoknya dan menghembus asapnya.
"Hey, Kyle." Sapanya.
Fuck. Dia datang. Aku tidak menyangka kalau ia benar-benar datang. Kory. Dan aku secara muak mengatakan kalau ia adalah ibuku. Ia bahkan masih dengan sikapnya yang membuatku ingin muntah. Gaya berpakaiannya juga masih sama. Sekali lihat, kau tahu bahwa ia seorang pelacur. Aku tidak percaya kalau ia berdiri didepanku sekali lagi. Terakhir kali ia datang, semuanya tidak berjalan dengan baik dan aku masih ingat ketika ia dan Rachel berdebat hebat didalam apartemen ini hingga para tetangga datang dan pemilik apartemen hampir mengusirku. Sekarang ia datang lagi dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti, Kory adalah pembawa masalah.
"Kory." Panggil Kyle langsung memutar kedua bola matanya.
Dawn langsung bangkit duduk sambil menggunakan selimtunya sebagai penutup tubuhnya yang telanjang,"Siapa itu, Kyle?"
"Ohh, kau sudah memiliki perempuan sekarang." Kata Kory sambil melihat ke arah Dawn dengan wajah yang sedikit berseri. Ia langsung masuk ke dalam apartemen Kyle dengan Kyle yang menutup pintunya.
"Dawn, ini Kory." Kata Kyle sambil memperkenalkan ibunya itu.
Aku benci melihat Dawn dengan Kory. Yang ada dikepalaku hanyalah seribu kata-kata bahwa Kory adalah manipulator dan aku takut Dawn akan termakan perkataannya.
"Kory?" tanya Dawn sedikit terkejut,"Oh... aku—lebih baik aku memakai pakaianku dulu." Ujarnya panik.
"Dawn. Nama yang cantik untuk perempuan yang cantik." Kata Kory sambil memegang sedikit pipi Dawn dan ia menggeser wajah Dawn ke kiri dan ke kanan,"Terlalu cantik untuk Kyle, huh? Kau pasti bukan perempuan biasa. Bukan pelacur. Bukan perempuan jalanan. Bukan perempuan klub. Dan tidak ada tato."
Tentu saja. Kalau ia pikir Dawn adalah salah satu dari perempuan itu, aku mungkin sudah menarik Kory keluar dari apartemenku. Tetapi, perkataan Kory membuatku sadar. Aku tidak iongat kapan terakhir kali aku bersama perempuan seperti Dawn. Selama ini hanya perempuan menjengkelkan yang sok tahu dengan sikap mereka yang membuatku ingin muntah seperti Rachel. Dawn? Dawn berbeda.
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Kyle sambil melihat ke arah Kory yang mulai menghisap rokoknya sekali lagi.
Kory langsung menghembuskan asap rokoknya ke udara dan ia melihat ke arah Kyle,"Aku hanya ingin melihatmu, itu saja. Sudah lama aku tidak melihatmu, Kyle." Suara Kory mulai berubah dan ia terdengar lebih pelan,"Apakah kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu."
"Aku sudah mengirimkan uangnya, kan? Untuk apa kau kemari lagi?" Tanya Kyle dengan nada suara yang sedikti marah,"Pulanglah."
Jujur? Aku tidak ingin melihat Kory disini. Pikiranku tidak bisa lurus. Aku ingin ia kembali ke Ohio. Tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu didepan Dawn. Aku tidak pernah percaya dengan reaksinya yang selalu terlihat kasihan didepanku. Akubukan tipe yang besimpati atau bahkan berempati dengan orang lain. Mungkin kasus Dawn berbeda. Tapi pada Kory? Tidak sama sekali.
"Baiklah kalau kau ingin aku pergi." Kata Kory dengan nada suara yang pelan dan ia perlahan bangkit berdiri dari sofa yang ia duduki disebelah Dawn.
"Tunggu." Dawn langsung menarik tangan kanan Kory,"Kau bisa tinggal disini."
"Dawn." Panggil Kyle terlihat kesal.
Apa yang dia pikirkan?
"Biarkan dia tinggal." Kata Dawn sambil menarik Kory untuk duduk kembali dengannya,"Aku sangat ingin... berbicara dengan Kory dan ia adalah ibumu, Kyle."
"Itu benar." Ujar Kory dengan nada suara yang pelan menyetujui perkataan Dawn dan ia sambil melihat ke arah Kyle dengan tatapan yang penuh kasihan.
"Ok, terserah." Jawab Kyle memutar kedua bola matanya,"Aku melakukan ini karena Dawn yang memintanya. Aku tetap tidak setuju." Katanya sambil berjalan pergi ke kamarnya meninggalkan Dawn dan Kory.
Aku marah. Aku tidak percaya kalau Dawn akan membiarkan Kory disini setelah ia mengetahui seluruh ceritaku. Aku tidak bisa melihat mereka berdua untuk saat ini. Aku tidak ingin melihat momen ini. Yang aku butuhkan saat ini adalah air dingin untuk kepalaku. Aku perlu menenangkan pikiranku dari ini semua dan shower adalah selalu pilihan yang terbaik. Ketika ait menghantam kepalaku, semua itu terasa jauh lebih baik dibandingkan berhadapan dengan Kory. Rasanya seperti pikiranku dibuat tenang sebentar dan aku bisasedikit berfikir lebih jernih.
"Kyle." Panggil Dawn sambil masuk ke dalam area shower,"Kau baik-baik saja?"
Suara lembut yang memanggil namaku itu selalu membuatku mengantisipasi apa yang akan ia katakan selanjutnya. Tetapi, kali ini aku tidak tahu apa yang ingin Dawn katakan mengenai. Aku tifak ingin mendengar apapun yang dikatakan Dawn mengenai Kory. Lebih tepatnya, aku belum siap.
"Ya. Iya.... tentu saja." Jawab Kyle ragu.
"Aku tidak melihat Kory sebagai ancaman." Kata Dawn sambil memegang tangan kanan Kyle,"Ia terlihat baik."
"Aku tidak tahu, Dawn. Aku tidak bisa memproses semua ini."
Dawn hanya memperhatikan Kyle sebentar dan saat itu juga ia langsung mendekatinya dan menciumnya. Dengan cepat Kyle langsung mengambil alih. Ia langsung memutar tubuhnya, mendorong Dawn ke tembok sambil menciumnya. Ia memegang kedua tangan Dawn ditembok dan ciumannya mulai turun ke dadanya dan ia langsung mengangkat kedua kaki Dawn ke pinggangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVING DAWN
RomanceLoving Hard is Dawn's story. This is Kyle's. Cerita ini adalah POV Kyle (Point of View berdasarkan Kyle Larson)
