3. Dan daripada itu, kamu milikku

1.8K 227 4
                                        

Aku tak pernah memintamu untuk bertahan, tetapi jika kamu mengijinkan,
bolehkah aku memelukmu sedikit lebih lama?

Aku tak pernah memintamu untuk bertahan, tetapi jika kamu mengijinkan,bolehkah aku memelukmu sedikit lebih lama?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*******

Tara berjalan menuruni tangga, celana kain dengan kemeja polos warna navy dengan rambut yang ia biarkan tergerai, menambah kecantikan alami miliknya. Gadis yang baru menginjak usia dua puluh tahun beberapa bulan yang lalu itu menghampiri ayahnya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan

"Pagi ayah!" Sapanya dengan ceria lalu mengambil tempat duduk di depan ayahnya. Di rumah minimalis ini hanya mereka berdua yang tersisa, ibunya? Ibunya sudah tiada sejak ia kelas 1 SMA dan Tara adalah anak tunggal dan satu - satunya putri kesayangan ayahnya. Kadang kala ia merasa kesepian jika harus ditinggal sendirian oleh ayahnya yang memiliki urusan pekerjaan di luar kota.

"Kamu ada kelas pagi?" Tanya ayahnya yang hanya dibalas anggukan oleh Tara—ia masih sibuk dengan roti dan selai coklat yang ada di mulutnya.

"Berangkat sendirian? Keanu nggak jemput?"

Tara diam lama, memikirkan jawaban yang tepat. Sampai sekarang ayahnya belum tahu, jika sejak awal hubungan Tara tidak baik - baik saja.

"Enggak, yah. Keanu ada urusan di kampus, jadi berangkatnya lebih pagi"

"Oh, yaudah. Nanti ayah anter aja, ya?"

"Nggak nggak! Nggak usah, Yah. Nanti ayah harus muter dulu buat ke kantor. Nanti ayah telat, nggak usah. Aku naik bis kota aja"

"Beneran nggak papa?"

"Iya, Ayah. Tenang aja, anak ayah ini udah dua puluh tahun kalau ayah lupa"

Dandi hanya tertawa mendengar itu, putrinya itu masih tetap menjadi putri kecilnya yang lucu.

Keheningan muncul di sela - sela mereka, dua orang berbeda generasi itu sibuk dengan sarapan masing - masing, hingga Ayah Tara tiba - tiba bertanya.

"Ayah penasaran, deh" ucapnya sembari fokus dengan nasi dan telur di piringnya.

"Penasaran apa?"

"Kamu kenapa sih nggak mau bawa motor sendiri atau pakai mobil yang satunya? Kan enak nggak harus nunggu bis dulu"

Tara menghela napas dan meletakkan rotinya yang baru habis setengah.

"Ayah, Jakarta itu udah macet. Nanti kalau aku bawa mobil atau motor sendiri, makin parah macetnya. Makanya, mending naik kendaraan umum, hitung - hitung nambah penghasilan orang. Udah ya, Yah. Aku berangkat. Bye!"

"rotinya nggak dihabisin?"

"Nggak, udah kenyang"

Tara berdiri dan mencium tangan ayahnya, lalu berlari kecil menuju pintu.
Ayah Tara hanya menatap punggung anaknya sembari tersenyum, putrinya sudah dewasa sekarang. Putri kecilnya yang dulu selalu merengek minta digendong ketika ia baru pulang kerja,  Putri yang ia rawat dengan sepenuh hati, kini sudah tumbuh menjadi gadis muda yang mandiri. Dimatanya, Putrinya itu tetap menjadi putri kecil kesayangannya yang lucu, ya walaupun putrinya sudah besar dan memiliki pacar, putrinya tetap akan menjadi tuan putri kecil kesayangannya.

AnagapesisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang