Keesokannya Dika berangkat ke sekolah bersama Adit menggunakan motor ninja karena motor matic yang semalam digunakan Dika pergi ke rumah Devi tiba tiba mogok tidak bisa menyala. Saat Dika dan Adit sampai di parkiran, mobil Riki pun datang dan ternyata Devi pun datang bersama Riki. Dika yang melihatnya pun langsung merasa kesal, tangannya mengepal kencang sampai urat tanganya terlihat. Ia langsung ingin menghampiri Riki, namun di tahan oleh Adit. Adit langsung menghalangi jalannya dan mendorong tubuh Dika supaya tidak menghampiri Riki dan Devi.
"Dik Dik sabar, lo nggak boleh emosi. Emosi nggak akan nyelesaiin masalah, nanti yang ada Devi makin marah sama lo. Tahan Dik tahan!" Adit menahan tubuh Dika yang kekar itu. Dika pun langsung pergi ke kelas meninggalkan Adit sendirian di parkiran. Tak lama kemudian Devi masuk kelas bersamaan dengan Riki. Devi pun terlihat biasa saja, ia tidak merasa takut Dika akan marah, ia terlihat begitu cuek terhadap Dika. Malah ia terlihat bahagia bersama Riki, ia masuk kelas dengan wajah yang berseri seri diiringi oleh tawaan bersama Riki. Dika pun berusaha untuk biasa saja.
"Kamu keliatan bahagia banget ya sama dia. Mungkin emang selama ini bukan aku orang yang bisa bikin kamu bahagia. Kalau emang kamu lebih bahagia sama dia, aku bakal ikhlasin kamu untuk pergi. Aku rela sakit melihat kamu bahagia dengan orang lain. Aku bahagia melihat kamu bahagia walaupun bukan bersama aku" batin Dika saat melihat Devi tertawa bahagia bersama Riki
Akhirnya Dika lebih memilih keluar kelas membawa tasnya dibanding harus melihat kebersamaan mereka.
Dika tidak kembali ke kelas saat jam pelajaran sudah dimulai, sepertinya ia bolos lagi. Sampai di jam istirahat pun Dika tidak terlihat sama sekali. Devi jajan di kantin bersama Riki, Risa, dan Adit. Posisi Dika pun kini tergantikan oleh Riki.
"Dit, Dika kemana sih? Bolos lagi?" tanya Devi
Adit pun hanya menaikkan bahunya, ia tidak tahu menau Dika kemana.
Devi pun mencoba menghubungi Dika, namun nomornya masih belum bisa dihubungi sampai sekarang.
"Dika kenapa sih? Masih nggak bisa dihubungin terus. Handphonenya rusak atau gimana sih Dit?"
Adit dan Risa pun saling bertatapan "Itu kemarin si Dika handphonenya kecemplung ke air katanya, makanya rusak" ucap Adit berbohong
"Terus nggak dibenerin apa? Nggak mau gue hubungin lagi gitu?"
"Ya lo nya aja sekarang deket banget sama Riki" ucap Adit
"Maksud lo apa ngomong gitu? Gue nggak boleh gitu deket Devi?" ucap Riki
"Ya lo seharusnya tau diri dong, Devi kan udah punya cowok"
"Udah dong ngapain sih ribut segala" Devi menjauhkan Riki dan Adit supaya tidak terjadi perkelahian
Di tengah obrolan mereka, tiba tiba saja handphone Adit berdering dan saat dilihat ada panggilan dari Boim teman nongkrong Adit dan Dika.
"Halo Im" Adit mengangkat telponnya
"Halo Dit, ini gue Dika. Gue cuma mau bilang doang, gue langsung cabut kagak masuk kelas. Gue mau langsung kerja aje dari pagi, dari pada gue di sekolah ngeliat Devi sama cowo sialan itu mending kerja ya kan? Tapi lo jangan bilang Devi tentang masalah gue ini, awas lo kalau sampe bocor"
Adit pun mulai menjauh dari Risa, Devi dan Riki "Lo serius? Lo yakin mau ngebiarin Devi berduaan sama Riki terus di sekolah?" ucap Adit berbisik bisik
"Ya sebenernya gue nggak ikhlas, tapi yaudahlah biarin aja. Gue liat Devi juga bahagia kok sama Riki, sekarang gue sih terserah dia mau kayak gimana. Lagian sebentar lagi ulang tahun Devi, gue mau kerja keras biar dapet uang banyak. Gue mau beliin dia hadiah, ya walaupun nggak bisa barang barang yang harganya mahal tapi yang penting bisa berarti buat dia. Masih sebulan lagi sih cuma ya harus dari sekarang gue mulai nabung" ucap Dika
"Ya ampun Dik lo usah sampe segitunya juga, Devi aja sekarang udah nggak peduli sama lo"
"Nggak apa apa, gue tetep mau ngasih yang terbaik buat dia. Udeh dulu ye, nggak enak gue nih nanti pulsa Boim abis. Sekarang kan gue nggak ada uang buat gantiinnya haha" Dika tertawa dengan leluconnya sendiri
"Oke, good luck bro" Adit langsung mematikan teleponnya dan kembali ke Risa, Devi dan Riki
"Siapa yang nelpon?" tanya Devi
"Si Boim, biasa lah urusan laki laki" ucap Adit berbohong
Jam istirahat pun selesai, semua murid mulai memasuki kelas dan kembali memasuki jam pelajaran lagi.
Selepas pulang sekolah Riki mengajak Devi untuk jalan jalan dan berniat ingin mengajaknya dinner. Sebenarnya Devi sudah bersih keras menolak ajakannya tersebut, namun Riki memohon mohon dengan wajah memelasnya sehingga Devi pun terpaksa harus menerima ajakannya tersebut.
Sampai di acara dinner nya, tiba tiba saja Riki menyatakan perasaannya kepada Devi.
"Vi, aku mau ngomong sesuatu boleh?" Riki menatap Devi yang sangat terlihat cantik malam ini
"Yaudah ngomong aja" ucap Devi tanpa menatap kembali Riki
Riki meraih tangan Devi yang berada di atas meja, ia menggenggamnya "Sebenarnya aku masih sayang banget sama kamu, aku pindah ke Jakarta sebenarnya karena ingin mencari kamu. Aku udah lama pindah ke sinih, setelah 2 minggu kamu pergi ke Jakarta, aku langsung nyusulin kamu. Aku keliling Jakarta buat nyariin kamu biar bisa ketemu sama kamu, dan saat itu kamu nggak sengaja nabrak aku waktu di mall kamu tiba tiba lari dan pergi dari aku. Kamu ingat? Kamu waktu itu lagi sama Dika ya? Saat itu aku bener bener sakit ngeliat kamu jalan sama cowok lain, aku—" belum selesai Riki bicara namun langsung dipotong oleh Devi
"Stop! Cukup ya Ki. Aku bilang beberapa kali, kita sahabatan aja. Aku nggak bisa nerima kamu, kita dari kecil udah temenan, aku nggak mau nantinya kalau kita pacaran dan tiba tiba hubungan kita putus di tengah jalan nantinya kita akan jadi orang asing. Aku nggak mau itu terjadi"
"Itu nggak akan terjadi. A janji kalau aku bisa jadi pacar kamu, aku nggak akan putusin kamu, aku nggak akan ninggalin kamu, aku nggak akan selingkuhin kamu, percaya sama aku" Riki menggenggam tangan Devi semakin erat
"Maaf aku bener bener nggak bisa Rik, aku sayang sama kamu cuma sebagai sahabat nggak lebih. Lagian aku udah punya pacar, aku sayang sama Dika" Devi melepaskan genggaman tangan itu
Devi berusaha beranjak berdiri untuk pergi namun ditahan oleh Riki "Oke kalau kita bener bener nggak bisa untuk pacaran, aku nerima untuk sahabatan aja nggak apa apa"
"Bener?" tanya serius Devi
Riki menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Oh ya teman teman, aku mau bikin cerita baru judulnya Tata Surya. Yang penasaran tunggu aja yaaa hehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Abu Abu
RomanceDikisahkan sebuah cerita tentang anak remaja, lebih tepatnya anak SMA. Dimana masa masa SMA adalah masa masa paling indah, dimasa itu lah terjadi kisah percintaan, persahabatan, permusuhan, perdebatan, dan banyak lagi. Karena itu lah, cerita ini ber...
