haii sesuai yang aku bilang, aku mau share bab 1 setelah followers 950 hehe dan mungkin sekalian bab 2 jugaa
happy reading and enjoy!
---
Chapter 1
KAMERA itu dipegang oleh seorang lelaki berambut hitam dengan jambul di atas kening, mengarahkan lensanya ke arah dirinya sendiri.
Dia tersenyum lebar sampai-sampai bibirnya hanya berupa garis panjang yang menghubungkan kedua pipinya. Lelaki itu membuat kedua bola matanya mengarah ke atas, seolah-olah sedang berusaha melihat alisnya sendiri.
"Ya!" teriak lelaki itu setelah lima detik bodoh yang merekam wajah konyolnya, lalu mengubah senyumnya hingga menampilkan sederet giginya yang tampak putih. Lalu wajahnya berganti lagi menjadi setengah normal.
"El di sini, seperti biasa akan meliput kegiatan makan siang yang paling membosankan di sekolah tercinta kita, HB High School! Wuu huu!"
Tahun lalu, ketika pertama kalinya cowok itu membuat video tentang HBHS dan mengunggahnya ke YouTube, respon orang-orang cukup baik, yang mana sampai sekarang hal ini masih dilakukannya (siswa kelas sebelas) cukup membuktikan bahwa dia mendulang popularitas yang lumayan besar di seantero kota. Meski dengan wajah bodoh, maksudnya.
Lelaki itu kemudian membalikan kameranya, kemudian wajah seorang perempuan muncul di sana. Pipi yang tirus, rambut hasil rebonding yang lurus seperti spageti belum direbus, dan bando merah polkadot melingkar dari telinga ke telinga yang lain: memagari poni rata sealisnya agar tidak kabur ke kumpulan rambut lurus di seberangnya.
"Halo, Kharis!" sapa cowok yang mengaku bernama El tersebut. Kharis, yang sedang menyuapkan beberapa potong kentang goreng sekaligus tidak merasa terganggu dan malah tersenyum lebar sambil mengunyah.
"Halooo!" katanya senang, lalu membuka mulutnya lagi untuk berbicara, namun El mengalihkan kameranya tepat disaat Kharis mungkin saja akan mengambil durasi videonya terlalu lama.
Kali ini seorang lelaki yang muncul di depan kamera. Rambut cokelat, poni bergelombangnya disisir jari ke belakang, warna mata yang senada dengan rambutnya, bibir merah alami dan senyum menawan: wajah kedua ini mungkin lebih masuk akal kenapa video El selalu laris di mata publik.
"Gimana makanannya, Der?" tanya El seperti seorang wartawan. Ender, nama lelaki itu (iya, dia keturunan blasteran) hanya tersenyum sambil bergumam 'enak!' lalu hendak menyambar kamera itu, namun lagi-lagi El lolos dan mengarahkan kamera itu ke meja di seberangnya.
El bangkit dari tempat duduknya, berkelana untuk mewawancarai setiap meja, setiap orang yang ada di dalamnya. Dia merekam bagaimana Farhan (senior kelas dua belasnya yang hobi makan) menghabiskan semangkuk penuh mie dalam waktu satu menit sambil berkata "Jawara kantin HB yang tidak pernah tergantikan, sayangnya mau lulus. Huhu."
Dia merekam semua siswa yang berebutan kripik pedas di salah satu penjual kantin ketika kurirnya baru saja sampai dan meletakan dus kripik ke lantai. Si Kurir menjauh dengan refleks dan menatap ngeri ke arah anak-anak yang menyerbu dus itu.
"Nah, anjing-anjingnya udah pada kelaparan!" kata El, lalu dia menyorot kameranya ke arah si Kurir yang tidak berdosa sambil berkata, "Lain kali jangan telat, kalau ikut dikeroyok gimana?" El terbahak, sementara lelaki kurus dengan topi bisbol hijau itu buru-buru lari meninggalkan kantin.
El memutar-mutar kameranya ke seluruh sudut kantin, berulang-ulang. Sampai-sampai Kharis yang sedari tadi menyilangkan tangannya di atas kepala sambil melompat-lompat (meminta direkam) akhirnya berteriak keras, "Remiel, gue dong, guee!"
Tetapi kamera El belum mau berhenti, setiap kamera itu melewati sekelompok gadis-gadis, mereka melambaikan tangan sambil tersenyum genit.
"Yang gue cari belum ada nih," kata El sambil terus mengarahkan kameranya untuk mencari.
Lalu tiba-tiba, seorang gadis muncul tepat di depan layar kamera yang sedang dilihatnya. "Nyari gue ya!" teriak cewek itu. El melompat ke belakang dengan cepat sebelum hidung dan mulut cewek itu terekam secara closeup lebih dari dua detik di videonya.
"Wah, Princess HBHS datang!" serunya jahil. Beberapa detik dia habiskan untuk merekam seorang cewek kelas dua belas yang memakai seragam kekecilan dan bando polkadot seperti milik Kharis.
"Aksi dulu dong, Dian!" seru seseorang yang duduk di meja kantin tepat di samping Diandra sambil memiringkan tubuhnya agar ikut terekam. Dengan raut wajah gembira, Diandra mulai melakukan beberapa pose seolah-olah El adalah seorang fotografer majalah porno (posenya memang menjijikan, tapi setidaknya dia masih pakai baju).
El tertawa keras, begitu pun orang-orang di sekelilingnya, lalu beberapa detik kemudian kameranya direbut seseorang.
Orang itu mengarahkan kameranya kepada El yang sedang mengumpat. "Wuu huu! Ini dia dibalik video-video HBHS tercinta kita, Remiel si Ganteng!" seru lelaki itu tetap bersemangat meski wajah El tampak tidak suka.
Namun karena disebut ganteng, El akhirnya tersenyum terpaksa, membuat suara 'pak' dengan bibirnya sambil membentuk jarinya menyerupai pistol yang ditembakkan ke arah kamera.
Setelah itu El menyingkir, membiarkan kameranya diambil alih salah seorang temannya (meski tidak yakin apa orang itu benar-benar temannya atau bukan). El kembali duduk di kursinya yang tadi dan disuguhi wajah marah Kharis.
"Runa mana?" tanyanya tanpa menghiraukan ekspresi gadis di hadapannya. Dia kembali mengedarkan pandangannya, banyak orang yang juga diam-diam merekam dirinya dengan ponsel mereka masing-masing. Dan sekarang kamera ponsel mereka sedang mengarah ke seseorang yang tadi merebut kameranya.
"Tau!" balas Kharis galak, kedua tangannya disilangkan di depan dada, membuat baju olahraganya yang sudah sempit itu makin terlihat sempit di area sana. Remiel mendecih, lalu menatap Ender meminta jawaban.
"Paling juga dipanggil Padus. Bentar lagi kan acara amal," jawab Ender. Remiel mengangguk, untung saja masih ada orang waras di meja ini. "Lo kan sekelas sama dia, gimana sih," lanjut Ender namun tidak ditanggapi oleh El.
Kemudian matanya bertemu dengan sepasang mata bening milik seorang gadis yang duduk menghadapnya di meja depan. Mata bulat, bibir merah dan kulit wajah yang begitu mulus, El bahkan tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika gadis bernama Marsha itu tersenyum duluan kepadanya.
Remiel memutuskan kontak mata itu dengan cara menarik piring berisi kentang milik Kharis yang masih banyak, lalu memakannya. Kharis tidak berbuat apa-apa ketika makanannya direbut seperti itu dan masih teguh dengan posisi ngambeknya. Ketika baru saja Remiel akan menyuapkan dua iris kentang terakhir, bunyi berdebum keras itu terdengar.
Dia sempat memandang mata Kharis yang mencari-cari, lalu sedetik kemudian membulatkan matanya sampai-sampai terlihat mencuat keluar.
Suara gaduh dan teriakan kaget mulai saling bersahutan. Remiel berdiri lalu berbalik untuk melihat apa yang terjadi tepat ketika beberapa anak cowok mulai tertawa keras.
Di sana, di depan pintu masuk kantin, Remiel melihat Runa berbaring telungkup di lantai. Bungkusan makan siangnya masih ada di tangannya namun isinya sudah melompat keluar.
"Runa!" teriak Kharis dan buru-buru menghampiri gadis malang itu. Tetapi masalahnya bukan ada pada Runa. Remiel, sebagai seorang lelaki bagaimanapun ikut merasakan jantungnya berhenti berdetak beberapa detik ketika melihat apa yang sedang dipegang Runa di tangannya yang lain.
Celana.
Celana basket seorang cowok, yang sekarang bokongnya tengah terekspos beberapa pasang kamera.
"Astaga," seru Ender tepat di belakang kepalanya. Remiel sendiri hanya bisa terdiam menyaksikan hal itu terjadi.[]
-----
Gimana? vote dan komen yaah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Fill in The Blank
Teen Fictioncompleted✓ Faran sudah menduga ada yang tidak beres dari hubungan kelima orang yang ada di sekolah barunya. Runa, Remiel, Kharis, Ender, dan Abel menyimpan suatu rahasia. Ketika dia mendapat kesempatan untuk dekat dengan Runa, dia mencoba memanfaatk...
