Chapter 8

234 29 0
                                        

haii sori telat update, kemarin wifinya bermasalah XD

happy reading and enjoy! part ini lumayan panjang hehe semoga puas XD

-----

SELAMA hampir tujuh belas tahun tiga bulan statusnya sebagai anak dari seorang profesor, tidak pernah sekalipun dirinya tertarik dengan apa-apa saja yang dikerjakan ayahnya seperti ayahnya yang tidak tertarik dengan kehidupannya. Tetapi hal itu hanya berakhir sampai hari ini saja.

Semua itu terjadi saat dirinya tidak sengaja (ketidaksengajaan memang punya efek yang luar biasa) memasuki ruang penelitian ayahnya di ruang bawah tanah halaman belakang.

Yeah, Faran memang lebih menyukai kata tidak sengaja daripada mengakui bahwa dirinya memang penasaran dengan apa yang ayahnya lakukan selama ini, dan terutama dengan tamu istimewa yang sama itu selalu berkunjung sejak enam bulan terakhir.

Sejauh ini yang dia ketahui tentang ayahnya adalah namanya Prof. Julian, seorang lulusan ilmu teknologi rekayasa genetika. Tubuhnya tinggi, tegap, dan untungnya masih punya rambut hitam yang lebat (umurnya masih kepala empat, omong-omong. Karena Faran adalah anaknya satu-satunya yang masih remaja).

Kebanyakan teman-temannya yang baru mengetahui profesi ayahnya selalu membayangkan ayahnya adalah seorang yang bertubuh kurus jangkung dengan rambut putih dan bagian atas keningnya yang plontos. 

Faran sendiri tidak tahu ide macam apa yang mengaitkan seorang profesor dengan kepala botak. Makanya dia kadang-kadang berharap ingin cepat-cepat melihat penampilan sang Ayah ketika umurnya sudah renta nanti, apakah ayahnya akan botak atau tidak.

Saat itu baru dua puluh menit yang lalu ketika dirinya kembali dari ruang penelitian ayahnya dan sekarang dirinya berada di depan laptopnya, dengan kabel USB dari ponselnya yang dihubungkan.

Karena tidak punya cukup waktu untuk mengintai, Faran memutuskan untuk memfoto segala sudut yang ada di ruangan itu (sayangnya dia tidak bisa menemukan objek penelitian seperti kelinci berkepala tikus atau sebagainya) dan kembali hanya dalam waktu satu menit.

Salah satu cara yang tepat untuk memata-matai ayahnya sendiri, menurutnya.

Kebanyakan dari isi ruangan itu hanya lemari kaca yang berisi banyak tabung-tabung kimia kosong, dan peralatan laboratorium yang masih baru. 

Dus-dus dengan tulisan Stirex (merek dari suatu bahan kimia, menurutnya) dan nama-nama ilmiah yang tidak dia kenal, di sebelahnya terdapat dus-dus yang berukuran lebih kecil bertuliskan TCP yang sempat difoto oleh Faran dari dekat, yang ternyata itu adalah obat bius untuk binatang.

Meja kerjanya penuh dengan buku-buku, kertas-kertas yang tidak bisa dibilang rapi, tidak juga berserakan. Cangkir kopi berada di sebelah kanan meja, dengan sisa cairannya yang mengering. Di belakang meja kerjanya ada rak buku besar yang terbuat dari kayu gelap, setiap buku disusun berdasarkan abjad dan dikelompokkan.

Sementara itu, meja penelitiannya terlihat cukup kosong, hanya terdapat sebuah mikroskop, beberapa botol yang berisi cairan kimia, dan sebuah pembakar bunsen yang hanya diletakkan di sana seperti hiasan seolah ayahnya tahu dia akan memotret ruangannya.

Di sebelah kiri meja kerjanya, terdapat sebuah lukisan besar yang hanya bertuliskan quote: "One's eyes are what one is, one's mouth what one becomes." dan di bawah kalimat itu ada sebuah nama: John Galsworthy. 

Dia membayangkan ayahnya duduk miring di kursinya, menghadap ke lukisan itu sambil memegang cangkir kopi di tangan kanannya.

Faran kembali melihat foto rak buku ayahnya dan memperbesar resolusinya, setidaknya dia juga ingin tahu apa-apa saja yang ayahnya sukai atau kalau bisa, melihat seperti apa dirinya yang sesungguhnya.

Fill in The BlankTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang