HANYA dengan melihat sekali saja interior kamar ini membuat Faran tahu kenapa Runa tumbuh sebagai cewek aneh. Dinding yang tidak dicat, ranjang sempit dan sebuah nakas dekat jendela, serta meja belajar yang nyaris kosong: hanya ada beberapa buku tulis, lalu sebuah excel ungu tua di dekat ranjang. Kamar ini nyaris kosong dan tidak terlihat seperti kamar anak lelaki sekalipun.
Kalau kamarnya terlihat lebih hidup meski terlihat seperti kamar lelaki pun, setidaknya itu akan lebih bisa menjelaskan kalau Runa sedikit tomboi daripada harus mengakui gadis itu memang benar-benar aneh. Seolah perempuan saja bukan, apalagi laki-laki.
"Buku-buku kemanain?" tanyanya sambil menghampiri meja belajar Runa, tangannya menelusuri setiap corat-coret gadis itu di atasnya.
"Buku paket tinggalin di kolong," balas Runa yang sibuk melipat pakaian di atas ranjangnya untuk dimasukan ke dalam ranselnya. "Bawa pulang kalau ada peer aja."
Faran mendengus geli. "Kan yang gitu biasanya cowok."
"Terus cewek gak boleh, gitu?"
"Ya nggak juga sih," katanya. Beralih duduk di hadapan Runa.
"Masih marahan sama Remiel?" tanyanya tiba-tiba.
Runa berhenti sebentar dari kegiatannya. Sampai selesai ujian semester pun Remiel masih belum bicara dengannya, namun dia selalu terlihat pulang sekolah bersama Abel. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit menyadari bahwa sudah hilanglah semua masa-masa menyenangkan yang lengkap bersama Remiel. Dia sudah berkali-kali minta maaf dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja meski mereka tetap bersaudara.
Namun mungkin dirinya memang tidak pernah mengerti perasaan Remiel, atau mungkin dirinya tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain.
"Gak apa-apa," jawabnya. Memasukkan baju terakhir yang dia lipat.
"Gue udah ngerti sekarang," kata Faran lembut. "Gue ngerti gimana posisi kalian sebenernya. Lo, Kharis dan Remiel."
Runa mendengus pelan. "Gue harap lo lupain itu dan jangan pernah bahas lagi," katanya meski tidak yakin seberapa banyak yang Faran tahu atau seberapa mendekati kebenarankah asumsi lelaki itu. Dia hanya sudah lelah membahas semua ini, karena mau dibahas seberapa banyak pun, tidak akan ada yang berubah.
"Gue bakal berenti ngebahas ini sama lo dengan satu syarat." Faran mengacungkan telunjuknya di depan wajah Runa, menyunggingkan senyum khasnya.
Gadis itu baru menyadari satu hal, Faran mempunyai satu lesung pipi di dekat sudut bibir sebelah kanan. Senyumnya sangat manis.
"Plis jangan minta gue jadi pacar lo," balasnya pura-pura memelas.
Faran mencebik. "Akting lo jelek," katanya. "Tadinya sih bukan itu, tapi rasanya usul lo boleh juga."
"Faran ih."
Awalnya dia ingin memutuskan hubungannya dengan Faran juga mengingat perasaan Remiel. Tetapi dirinya sudah terlanjur berkata bahwa Faran tidak perlu menyerah akan dirinya, di sisi lain dirinya juga merasakan perasaan tidak ingin berjauhan dengannya. Perlahan-lahan seolah dia menyukai keterjebakan yang dia lakukan sendiri.
Faran terkekeh. "Nggak ding. Bikin lo jadi pacar gue mah gampang. Gue tau lo sekarang aja udah mulai suka sama gue."
"Serah lo, serah."
"Asalkan lo mau jawab jujur satu pertanyaan dari gue, gue sumpah gak akan pernah bahas apapun lagi menyangkut hal ini."
Runa menurunkan tasnya ke kaki ranjang di bawah. Dia maju sedikit agar lebih dekat dengan Faran. "Lo mau tanya apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fill in The Blank
Ficção Adolescentecompleted✓ Faran sudah menduga ada yang tidak beres dari hubungan kelima orang yang ada di sekolah barunya. Runa, Remiel, Kharis, Ender, dan Abel menyimpan suatu rahasia. Ketika dia mendapat kesempatan untuk dekat dengan Runa, dia mencoba memanfaatk...
