SELURUH meja di kedai ini hampir penuh. Kalau saja Runa dan Kharis terlambat beberapa detik saja mungkin mereka tidak punya kesempatan menikmati semangkuk es krim di sore hari yang entah kenapa masih terasa panas. Nanti malam pasti akan turun hujan yang sangat lebat.
Dan hari ini pun mereka terpaksa duduk sudut terdalam kedai cake and ice cream 104 Kind of Sweet' yang tidak kebagian jendela, hanya ada kipas angin usang yang berputar ringkih juga dekat dengan konter pemesanan.
Kharis berdiri dengan malas setelah berlari bersama Runa untuk memburu tempat untuk melangkah ke konter.
"Mas saya pesen serbet semangka satu," kata Kharis, pelayan itu tampak mengerutkan kening.
"Sherbet, dodol." Runa membuka suara.
"Iyalah apa pun itu. Lo mau apa, Kerdil?"
"Gelato cokelat as always," jawab Runa, tidak keberatan dengan ejekan Kharis, karena suaranya pasti langsung serak (karena tadi dispen Padus) jika sekarang dipakai untuk marah-marah.
Ketika Kharis kembali duduk, dirinya memandang Runa lekat-lekat. Runa yang sedang mengecek pesan masuk itu menangkap pandangan Kharis, jadi dia bertanya. "Apa?"
Wajah Kharis yang serius berubah konyol. "Ciee yang semalem abis kencan sama Faran," godanya yang tidak mampu memastikan dia benar-benar menggoda atau iri.
Runa mendengus. "Pasti Ender yang bilang," katanya tepat sasaran karena Ender sudah memberitahunya duluan. Kharis memang mengetahui cerita ini, tapi dia meyakinkan bahwa Kharis tidak mengetahui apa-apa soal tujuan mereka yang sesungguhnya.
"Jadi ngapain aja?"
"Makan aja," jawab Runa acuh. Ingat-ingat kejadian semalam, dirinya malah kesal karena gagal memaksa berkunjung ke rumah Faran.
Padahal dia sudah mempermalukan diri karena pura-pura sakit perut dan hendak buang air besar, namun tidak suka melakukannya di tempat umum sehingga meminta Faran mengajaknya ke rumahnya (Runa sengaja memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah Faran dibanding rumahnya).
"Masa? Kok bisa?"
"Gue sakit perut mendadak."
Setelah menolak tanpa belas kasihan, Faran benar-benar mengajaknya pulang begitu saja dan tidak memperdulikan kalau-kalau Runa tidak bisa menahannya di atas motor.
"Nothing special? Without hug? Kiss?" tanya Kharis beruntut membuat Runa memelototinya.
"Gue baru kenal dia, elah."
"Kok lo bisa suka sama dia?"
Runa terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun kemudian kejadian yang terjadi saat mereka di jalan membuatnya punya sedikit alasan sekaligus pengalihan.
"Karena dia lucu aja–"
"Lucu?" Kharis mengerukan kening. "Faran suka ngelawak gitu? Di kelas aja pendiem."
"Dengerin dulu," kata Runa. "Masa semalem gara-gara gue sakit perut terus dia ngebut buat balik. Eh gak taunya ada polisi yang ngejar."
"Trus?" Kharis mulai tertarik.
"Dia gak berenti lagi, padahal udah gue teriakin tapi dia bilangnya polisi bukan ngejar kita. Akhirnya polisi nyusul motor Faran dan dia berenti. Pas ditanya 'kamu tau kan saya ngejar motor kamu?' Faran jawab iya tau. Kata polisinya lagi 'Trus kenapa kamu gak berenti?' Lo mau tau si idiot itu jawab apa?"
"Apa?"
"Dia jawab: 'Oh, saya kira Bapak mau balapan' kan sad Ris ...," kata Runa memasang wajah frustrasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fill in The Blank
Teen Fictioncompleted✓ Faran sudah menduga ada yang tidak beres dari hubungan kelima orang yang ada di sekolah barunya. Runa, Remiel, Kharis, Ender, dan Abel menyimpan suatu rahasia. Ketika dia mendapat kesempatan untuk dekat dengan Runa, dia mencoba memanfaatk...
