Beberapa jam sebelum Runa dan Faran bertemu di toko bunga:
Hari Minggu pagi yang cerah dengan sesi curhat di jalanan berakhir dengan sampainya mereka di sebuah rumah yang cukup besar, 33 Paradise Street (Zean sering menyebutnya dalam bahasa Inggris, dan semua mengikuti) yang terletak di sebuah perumahan yang sepi. Beberapa belas meter dan beberapa belokan dari gerbang utama perum.
Rumah itu memiliki pagar berwarna hijau tua gelap yang catnya sudah terkelupas dan akan berderit keras jika dibuka, sebuah beranda dengan lantai kayu: lengkap dengan dua kursi kayu tanpa meja.
Pintu utamanya diapit oleh dua pilar berwarna putih pucat, yang memang seluruh bangunan hampir berwarna sama jika saja cat yang mengelupas itu tidak terjadi. Lahan di antara beranda dan pagar hanya terdapat rerumputan yang dibelah oleh jalan ke arah rumah.
Sekilas, rumah itu tampak seperti rumah kosong yang berhantu. Namun tidak begitu ketika melihat dua motor sudah terparkir di depan undakan tangga beranda, dan melihat pintu utama terbuka lebar-lebar.
"Makanan gue mana!" teriak perempuan dari dalam. Dan suara-suara percakapan beberapa orang yang akhirnya diketahui Runa berasal dari TV. Suara radio dan penyiarnya yang berbicara tanpa jeda juga ikut terdengar, suara air keran di kamar mandi dan musik klasik mengalun merdu.
Di dalam rumah yang tampak mengerikan itu seolah diisi oleh puluhan remaja yang sedang kabur dari rumahnya. Suara-suara yang terdengar seolah sengaja menyatukan gelombang mereka untuk menghancurkan telinga.
Mereka berlima masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu ketika seseorang melewat dari arah dapur ke ruang televisi (atau yang sering disebut ruang keluarga), dan ketika hendak pergi menuju dapur lagi, seseorang itu menyadari keberadaan Runa dan yang lain.
"Eh?" katanya. "Zeaaan! Kecebong-kecebongnya udah pada dateng! Serealnya tambah lagi lima mangkok," teriaknya pada seseorang di dapur lalu menaiki tangga tanpa repot-repot menyambut.
Lalu suara radio tidak lagi terdengar. "Hullo!" teriak cowok tinggi dan kurus, muncul tiba-tiba dari dapur. Wajahnya tirus, kulitnya putih, rambutnya sedikit berantakan, kaus superman-nya nyaris seperti pakaian yang dipakai setelah kering di jemuran.
"Sarapan?" tanyanya sambil mengacungkan beberapa mangkuk plastik. Saat itu juga Remiel bergerak maju untuk memasuki rumah.
"Mau, yang banyak," serunya sambil melempar tas ke sofa dan membanting diri di sana. Diikuti oleh Abel dan Kharis (yang tentunya memilih jarak terjauh) lalu Ender dan kopernya, sementara Runa setelah menyimpan tas, langsung menuju ke dapur tempat Zean menyiapkan sarapan.
"Apa kabar lo?" tanya Runa sambil membuka kulkas, kebiasaannya ketika baru sampai di rumah Ersi adalah membuka benda itu untuk menandai beberapa makanan.
"Luar biasa," sahutnya sambil menoleh sejenak untuk tersenyum kepada Runa lalu kembali berkutat dengan sebuah mesin berukuran sedang di depannya.
Lelaki bernama Zean itu memasukan beberapa mangkuk ke dalam mesin itu, menuang sekotak penuh sereal ke vakuola mesin di atasnya, lalu menekan tombol agar mesin itu bergerak.
Bunyi-bunyi bising yang belum bisa dihilangkannya itu terdengar, mangkuk berjalan di dalam mesin dan suara sereal berjatuhan ke dalamnya terdengar, kemudian suara susu yang ditumpahkan ke atasnya.
Setelah lima detik yang nyaris biasa-biasa saja itu, akhirnya sebuah mangkuk lengkap dengan sereal dan susunya keluar dari arah yang berlawanan. Dengan bangga, Zean menyerahkan mangkuk itu pada Runa, dan dua detik kemudian mangkuk lain muncul, begitu seterusnya.
"Ris, bantuin!" panggil Runa. Dengan sigap gadis itu melompat dari sofa dan berlari kecil ke arah dapur tepat ketika cewek yang tadi menaiki tangga muncul lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fill in The Blank
Ficção Adolescentecompleted✓ Faran sudah menduga ada yang tidak beres dari hubungan kelima orang yang ada di sekolah barunya. Runa, Remiel, Kharis, Ender, dan Abel menyimpan suatu rahasia. Ketika dia mendapat kesempatan untuk dekat dengan Runa, dia mencoba memanfaatk...
