Chapter 14

146 21 0
                                        

iya, alurnya memang selow...enjoy XD

tolong siapin hati yang kuat buat baca chapter ini, rahasia terkuak XD


-----


SEJAK kejadian kemarin, Remiel sama sekali tidak menampakan batang hidungnya di depan Runa. Dia bahkan menghindarinya di kelas. Grup-chat mereka pun sepi dari komentar Remiel yang terkesan asal bicara itu. 

Setiap kali wajah Remiel muncul di benaknya, dia hanya sibuk menerka-nerka apa gerangan yang terjadi pada lelaki itu.

Berbicara dengan Kharis tidak banyak membantu, bahkan tidak membantu sama sekali. Dengan mata berbinar-binar yang bodoh, dia berkata bahwa Remiel cemburu: suatu hal yang benar-benar mustahil. 

Kalau itu tidak akan menyakiti hati Kharis dan terasa kejam, Runa pasti sudah mengatakan bahwa gadis itu gila dan pantas berada bersama ibunya sekarang.

Karena hanya Kharis, Ender, Remiel, dan Abel yang sebayanya serta lingkungan mereka yang sama, Runa tidak pernah berbicara tentang suatu hal dari hidupnya kepada yang lain seperti Lyn, Zean, apalagi Davis.

Sekarang, satu-satunya yang bisa diajaknya bicara adalah Ender, namun dia hanya mengatakan kalau Remiel cuma banyak gaya, atau mungkin dia sedikit sensitif saja. Katanya, lama-kelamaan akan bersikap biasa lagi dan yang harus Runa lakukan adalah membiarkannya.

Dan hal itu masih diturutinya sampai sekarang, sabtu sore yang sejuk di bawah pohon rindang. Bau hujan masih terasa meski sudah lama berhenti. Dia duduk sendirian di bangku semen yang berada di pinggir lapangan kompleks rumahnya.

Melihat banyak anak-anak kecil yang bermain bisbol di sana, juga ada satu remaja gemuk yang terlihat lebih kecil darinya sedang mengatur permainan yang berlangsung.

Laki-laki gemuk itu tampak berteriak-teriak kewalahan karena sepertinya para bocah itu tidak mengerti cara bermain bisbol, atau barangkali lebih tidak mengerti apa yang dia katakan.

Runa duduk bersila di atas bangku itu, menjadikan tangan kanannya sebagai penyangga pipi dan menahan ke paha kanannya. Imajinasi liarnya mulai bermain ketika dia menonton pertandingan kecil yang hangat itu, dia membayangkan melihat Ersi di sana:

Memelototi Remiel yang balas melotot, memarahi Kharis yang terus-terusan mengeluh, mengejar-ngejar Abel yang memainkan pemukul sambil tertawa setan, meneriaki Ender yang menggiring pasukan keamanan keluarganya, atau meneriaki dirinya untuk menangkap bola yang tak dihiraukan karena saking cueknya dia.

Lalu ada Lyn yang bermain dengan peraturannya sendiri, Zean yang memakai baju zirah dengan fitur teknologi canggih, serta Davis yang lebih memilih diam di pinggir lapang.

Senyumnya terbit begitu saja, tanpa dia sadari. Lalu dirinya bertanya-tanya, apakah ... apakah Ersi mampu menghadapi mereka semua? Dengan semua sikap dan sifat mereka yang terkesan random dan setengah gila.

Dirinya menemukan jawaban setelah tiga detik, bahwa kenyataan Ersi tidak pernah menemui mereka lebih dari tiga puluh menit adalah karena dia tidak bisa menghadapi mereka semua.

Tiba-tiba, seseorang mendorong tangan Runa yang sedang menyangga pipinya, membuat kepalanya terantuk. Runa menggeram pelan lalu menoleh ke belakang dan mendapati Remiel berada di sana sambil terkekeh pelan.

"Jailnya itu-itu mulu. Bosen tau," kata Runa yang sempat tertegun melihat Remiel sudah terlihat kembali seperti biasa, sesuai yang Ender katakan.

Remiel melompati bangku semen plester itu dan segera menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Runa, tangannya bergerak naik untuk merangkulnya. 

Fill in The BlankTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang