2.1. Mereka Yang Selalu Ada

589 42 33
                                        

Suara rintikan hujan yang berjatuhan tepat di atas atap ruangan kelas memecahkan keheningan. Semua siswa tengah fokus dengan coretan-coretan membingungkan diatas kertas.

Lembaran demi lembaran terus dibuka oleh seorang gadis yang duduk di bangku belakang kelas. Pensil yang dipegang terus memukuli kepalanya pelan, layaknya orang yang sedang berpikir.

Setelah lama berpikir, gadis itu mencoretkan pensil di atas lembar jawaban kerjanya. Dengan cepat, ia mengumpulkan hasil ujiannya tepat ke meja pengawas.

Semua pasang mata di ruangan tersebut tertuju pada gadis yang tengah mengumpulkan hasil ujiannya sepuluh menit sebelum waktu habis. Sungguh, tidak dapat diragukan lagi jika ia berhadapan dengan semua yang berbau bahasa inggris.

"Bagus Thalitha. Kamu mengumpulkan hasil ujian sebelum waktu habis." ujar seorang pengawas berjenis kelamin perempuan dan sepertinya dia sudah berkepala tiga.

"Iya bu. Saya permisi keluar."

Thalitha melangkahkan kakinya keluar kelas. Hujan masih belum berhenti. Sepertinya hujan pun mengerti, di hari terkahir ujian dia turun dan membuat otak-otak yang panas jadi normal kembali.

Ia duduk di koridor depan kelas. Jemarinya memainkan sebuah benda pipih yang dipegangnya.

"Gimana ujiannya?"

Suara yang dikenal baik oleh Thalitha membuat dia menghentikan aktivitas dengan benda pipih yang dipegangnya. Dia melihat di sampingnya sudah ada laki-laki yang sangat ia kenal.

"Beres." Thalitha mengangkat kedua bahunya.

"Lo ga bawa mobil kan? Raka bilang dia gabisa pulang bareng lo. Jadi gue yang mau anter lo pulang."

"ck kebiasaan si kampret."

Jari-jemari Thalitha kembali memainkan handphonenya.

Laki-laki disampingnya terus memperhatikan Thalitha yang tengah asik dengan handphonenya.

Ting. Sebuah notifikasi masuk di handphone Thalitha. Dengan tidak sengaja, laki-laki itupun melihatnya.

Devan

Pulang sekolah jadi kesini kan Tha?

Jadi ko, tunggu ya.

Close.

"Lo mau kemana?"

"Devan sakit, gue mau jenguk dia ke rumah sakit."

"Ga boleh! Lo ga boleh ketemu dia!"

"Apaan si Rey?! Devan temen gue."

"Tapi dia suka lo Tha!"

"Terus kenapa kalo dia suka gue? Gue gasuka dia! Gue suka lo!"

Upss. Thalitha menutup mulutnya. Untuk kedua Kalinya, dia tidak percaya apa yang barusan dikatakannya tepat di depan Reyhan. Diambang pintu, Stefani dan Selly tengah memperhatikan Thalitha dan Reyhan. Mereka berdua membulatkan matanya tidak percaya.

"Jadi bener nih lo suka gue?" goda Reyhan.

"Gue jadi gaperlu takut ditolak lo lagi." kekehnya.

"Apaansi." Thalitha membuang mukanya karena malu.

REYTHACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang