Lelaki itu menghampiri seorang bocah yang sedang duduk di ayunan. Bukan manusia, melainkan sosok hantu yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Dia berdiri di depan bocah itu kemudian berdehem pelan sehingga hantu itu mendongak menatapnya.
"Ada apa, Rion?" tanya bocah dengan kulit gelap dan rambut hitam itu. Matanya yang memerah menatap Orion dengan malas.
Orion menghela napas, hey kenapa hantu cilik ini tidak tahu sopan santun?
"Kau tahu bukan nomor berapa apartemenku?" tanya Orion kepada hantu itu.
"Kau lupa ingatan atau kenapa?" Hantu itu justru balik bertanya lantas menatap sekelilingnya yang sepi. Hanya ada beberapa hantu yang lewat namun tak singgah untuk menemaninya mengobrol.
Rion menepuk dahinya kesal. Astaga mengapa berurusan dengan Daksa selalu membuat kepalanya cenat-cenut. Hantu cilik itu lebih menjengkelkan dibandingkan Rita. "Tidak tolol. Aku mau bertanya apa kau tau tentang penghuni Unit 63?"
Hantu bernama Daksa itu nampak menepuk-nepuk pahanya sendiri yang hanya tertutupi celana warna putih. "Ah perempuan yang wajahnya mirip boneka, bukan?"
Orion mengernyit, kemudian mengingat wajah perempuan aneh itu lantas mengangguk setuju. "Ya, cepat beritahu aku tentang dia!" desak Orion.
"Hanya sedikit yang kutahu. Dia ramah terhadap orang lain. Kurasa itu saja yang aku ketahui dari dia. Aku tak tahu namanya. Memangnya kenapa?" Daksa menggerakkan ayunan itu sendiri seraya menatap apartemen yang tinggi itu.
Lelaki tinggi itu berdecih mendengar ucapan Daksa barusan. Kenapa begitu sedikit informasi tentang perempuan itu? Apakah tidak ada info tentang siapa nama gadis aneh itu?
"Bisakah kau menyusup apartemen 63 dan memberitahukan apa yang dilakukan gadis itu di sana?"
Daksa menggeleng pelan. "Aku tidak berani. Mama bisa memarahiku." Bocah kecil itu kemudian menunduk.
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Kalau kau bisa memberikan informasi tentang nama dia atau apa pun yang kau lihat di sana, aku akan memberikan salah satu mainan mobil-mobilan milikku?" tawar Orion. Mata lelaki itu menatap Daksa yang perlahan mulai mendongak.
"Tentu saja! Janji ya kau akan memberikanku satu mobil-mobilan milikmu!" seru Daksa senang. Hantu cilik itu kemudian menghilang dari sana.
Yang Orion harapkan saat ini adalah Daksa langsung menyusup di unit 63 dan nanti akan memberinya informasi yang bisa membuat rasa penasaran terungkap. Ia sangat membenci rasa penasarannya ini.
Lelaki itu kemudian berjalan kembali memasuki lobi apartement. Ia memasuki lift dan kebetulan sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri karena ada sesosok hantu perempuan dengan mata bolong. Orion tersenyum menyapa hantu itu kemudian mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda. Dia sungguh menyukai menggoda hantu daripada menggoda manusia.
"Hai Nona," sapa Orion ramah ketika hantu itu tampak tersipu malu.
Hantu bermata bolong itu tersenyum manis pada Orion. "Hai."
Setelah hantu itu membalas sapaan Orion, Orion langsung turun karena sudah sampai di lantai 7. Ia menoleh sebentar kemudian melambaikan tangan saat pintu lift tertutup.
Dia memasuki apartemennya dengan langkah santai walau beberapa detik ia berdiri di depan pintu sambil menatap apartemen sebelah. Lelaki itu kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur kemudian menatap langit-langit kamar. Meraih ponsel dan memainkan game online yang ia punya daripada mati kebosanan menunggu Daksa.
Suara ketukan membuat Orion mendengus kesal lantas beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu. Setelah dia membuka pintu, nampaklah Ruya yang membawa satu kantong plastik warna putih. Lelaki berambut acak-acakan itu nyengir ketika melihat wajah kesal kakaknya.
"Ayolah aku sangat merindukanmu, Kakakku tercinta." Nada suara Ruya terdengar begitu menyebalkan bagi Orion hingga lelaki itu menjitak kepala adiknya itu.
"Bilang saja kau bosan di rumah." Orion membuka kantong plastik warna putih yang dibawa adiknya. Mudah ditebak memang, Ruya membelikan berbagai camilan untuknya serta beberapa minuman instan.
"Apa kau tidak bosan di sini sendirian?" Ruya menatap apartemen kakaknya yang rapi. Well, daripada dirinya, Orion memang lebih cinta kebersihan.
Orion yang tengah membuka keripik kentang pedas menoleh. "Tidak. Lagipula di sini banyak hantu cantik," ujarnya kalem.
Memang benar sih di apartemen tempatnya tinggal, banyak terdapat hantu yang cantik.
"Menyimpang sekali," desis Ruya dengan nada mengejek. Dari dulu kakaknya itu memang sangat senang menggoda hantu wanita. Ia sendiri sampai benar-benar heran dengan keanehan kakak kandungnya itu.
"Cih lagipula aku malas menggoda manusia."
Ruya menaikkan alisnya heran. "Dasar aneh. Aku tahu keanehan ini karena Ayah sering mengajakmu menemui mantan-mantannya yang merupakan hantu."
Orion terkekeh pelan. Karena ayah mereka, ia jadi ikutan suka menggoda hantu. Yah walau sekarang ayahnya sudah berhenti menggoda hantu sih karena ibu mereka. "Daripada kau yang tiap hari membayangkan karakter game."
"Mereka sangat seksi, Bung!"
"Halo!" Seruan sesosok bocah yang tiba-tiba muncul di depannya membuat Orion membulatkan matanya karena terkejut.
"Kau sudah mendapatkan informasi tentang dia? Kenapa cepat sekali?"
Daksa mengangguk yakin kemudian duduk di meja yang berada di depan Orion dan Ruya. "Aku tidak tahu namanya. Yang jelas dia berbicara sendiri dan membuat video. Aku juga tidak paham. Selain itu di sana ada hantu menyeramkan yang membuatku tidak betah."
"Kenapa sulit sekali mendapatkan informasi tentang gadis itu?" desis Orion kesal.
"Kau tertarik dengan seseorang? Tumben sekali," cibir Ruya setelah mengurutkan daftar mantan Orion yang kebanyakan adalah hantu.
Lelaki berkacamata itu mengabaikan cibiran Ruya. "Hanya itu saja? Apa tidak ada yang lainnya?"
Hantu cilik itu tampak menatap langit-langit, seolah dengan cara itu dia bisa mengingat beberapa hal. Daksa kemudian menjentikkan jarinya dan berujar, "Aku melihat dia menangis setelah tertawa."
Orion berdecak sebal. Rasa penasarannya semakin menjadi.
Semua itu gara-gara gadis aneh itu.
Anehnya, Ruya yang berada di sana justru terkekeh melihat kakaknya yang tampak kesal sekali.
•••
Update lagi dong hohohoo. Btw males banget nulis astaga yok hujat aku biar semangat nulis:')
Pada penasaran kaga ama cewe aneh itu? Ehe iya Orion gilanya kek bapaknya emang. Ruya mah kalem bae orangnya (awto dijajanin ama tuh bocah karena muji)

KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Unit 63
RandomCOMPLETED Semenjak kuliah, Orion jadi tinggal di apartemen yang dekat dengan kampusnya. Karena tinggal di sana, Orion dibuat penasaran dengan penghuni unit 63 yang bersebelahan dengan apartemennya. Bagaimana tidak? Dia beberapa kali memergoki perem...