USG

54.7K 3.5K 163
                                    

Hai
Hai
Haii

Update sore2 nih.. Buat yang lagi pulang kerjahh.. Atau pulang sekolah😂😉

Yuk cuss eksesusi😂
Koreksi typo ya😍

I lop yu all😋😋

Seto tak henti-hentinya memandangi Secha yang nampak sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

Daster berwarna biru laut, dengan tali spageti nampak membungkus apik tubuh proposional Secha, kulit putih mulus tanpa noda nampak kontrad dengan warna biru dari daster yang ia kenakan.

Kamu memang sempurna Cha___ selalu sempurna___kamu istri dan calon ibu yang begitu sempurna untukku dan anak kita nanti. Aku berjanji akan membawamu pulang kembali dengan suka rela, membangun kembali puing-puing rumah tangga kita yang sempat aku hancurkan. Merajut cinta yang bahkan belum kita mulai.

"Mas... Makanan.", ucap Secha dengan singkat dan sedikit menekan setiap katanya.

Seto tergelak, "eh?!-iya Cha__makasih"

Seto menatap piring yang tersaji di depannya, menu sederhana namun terlihat sangat istimewa, karena ada Secha disampingnya.

Seto memasukan sesuap nasi dan telur dadar serta sayur kecambah ke mulutnya, sesekali mencuri pandang pada Secha yang nampak anteng menikmati makanannya.

Lelaki itu tertegun, hatinnya mendadak ngilu, mengingat betapa ia dulu sangat anti pati hanya untuk sekedar duduk bersisihan dengan Secha, dan kini seolah hatinya meraung, tak ingin momen ini berakhir, tai ingin ada kata pisah dalam bahtera rumah tangga mereka, yang sudah diambang batas kehancuran.

Pikirannya terus saja terfokus pada permintaan Secha agar, Seto secepatnya mengurus perceraian mereka.

Sungguh, hanya satu hal yang ingin Seto lakukan saat ini, ia ingin memeluk, bersujud dan meminta Secha agar memberinya kesempatan kedua. Dan ia bersumpah tidak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, ia berjanji untuk menjadikan Secha satu-satunya wanita dalam hidupnya, satu-satunya wanita yang akan mengandung dan melahirkan darah daging Seto.

"Cha__"

Secha menoleh melirik Seto sekilas.

"Berapa usia anak kita?", tanya Seto mencoba mencari topik untuk mengobrol dengan Secha.

"Limabelas jalan enambelas minggu.", jawab Secha tanpa menatap Seto.

Seto tak gentar,"kita USG ya nanti sore___pliss jangan nolak, aku juga pengen liat anak kita."

Secha mengangguk acuh, hal itu tidak terlalu buruk untuk Seto, selama Secha tidak menolaknya, Seto akan tetap berusaha, meski ekspresi datar dan ketus Secha kerap kali mampir.

****

Seharian ini Secha sibuk dengan pekerjaannya membuat pesanan kue. Tak ada percakapan apapun antara dirinya dan Seto.

Seto yang pada dasarnya pendiam, mulai kehabisan ide untuk memulai obrolan dengan Secha, karena setiap pertanyaannya selalu dijawab dengan singkat, jelas dan padat oleh Secha.

Kini Seto fokus pada ponselnya, Berselancar di aplilasi online shop, sesekali matanya nampak meneliti, barang-barang apalagi yang harus ia beli untuk menunjang kebutuhan Secha selama disini.

'Mesin cuci, OKE
Kulkas, Beres
Sofa, udah
Karpet bulu, udah
Kitchen set aja kali ya?
Oke deh! Sip. Beres.'

Batin Seto tersenyum, sore nanti saat dirinya dan Secha pergi kerumah sakit untuk USG, barang-barang pesanan Seto datang, ia akan meminta Bagas untuk menunggu disini, Sedang dirinya dan Secha hanya pergi berdua, itung-itung kencan, kegiatan yang selama ini tidak pernah dilakukan keduanya.

****

"Eh... Ini toh suaminya mbak Echa?", Secha yang hendak naik ke mobil Seto, dikagetkan dengan suara Bu RT yang baru saja muncul.

Seto dan Secha tersenyum, meski sama-sama tersenyum, namun pancaraj keduanya sangatlah berbeda, Secha dengan senyum kikuknya, sementara Seto dengan senyum jumawanya, "Nggih buk, saya Seto, suaminya Secha."

Bu RT kembali menyunggingkan senyumannya, "Ganteng yo? Bojone mbak Echa.."

Secha mengangguk tersenyum.

"Nggih pun buk, ngrumiyini nggih."
(Ya Sudah bu, duluan ya)

Pamit Seto, ia melihat Secha nampak tak nyaman.

"Nggih mas. Ati-ati"

****

Seto dan Secha tiba disalah satu rumah sakit besar di kota Solo, sebelumnya, Seto sudah membuat janji dengan dokter kandungan terbaik disana, sehingga mereka pun tak perlu mengantri.

****

Seto tersenyum haru memandang layar monitor alat USG yang menunjukan gambar berupa gumpalan kecil yang belum terbentuk sempurna. Hatinya menghangat dibuatnya.

"Janinnya sehat ya pak, bu.. Yang penting vitaminnya rutin diminum, jangan terlalu lelah."

Secha dan Seto mengangguk bersama, entahlah hati Secha meleleh, dulu sekali saat awal-awal menikah dengan Seto, situasi inilah yang menjadi angannya. Hamil, Pergi ke dokter bersama, Seto yang menggenggam hangat tangannya penuh getar cinta, tatapan Seto yang memancarkan kehangatan, dan ungkapan-ungkapan perhatian yang selalu terlontar dari mulut Seto.

Benar-benar Secha kini merasa sebagai seorang istri yang beruntung. Namun ia tentu tak ingin terbang tinggi terlalu jauh, karena ia tak siap untuk jatuh kembali, jatuh sedalam-dalamnya pada harapan semu yang mungkin akan semakin menyiksanya.

"Biar saya saja dok yang membersihkannya.", sergah Seto, saat dokter wanita setengah baya itu hendak membersihkan perut Secha dari bekas gel USG.

Secha terkejut, nampak ingin protes, namun ia pun masih memiliki akal sehat, ia tak akan membuat Seto malu, debgan menolaknya.

Dokter itu tersenyum kecil, sambil menyerahkan tissue itu pada Seto.

"Saya cetak dulu foto USGnya pak.", Seto mengangguk.

Secha menatap Seto ragu, hingga tatapan mereka bertemu. Teduh.. Sungguh teduh pedar mata Seto, bahkan Secha tak pernah melihatnya.

Dengan perlahan, Seto mengelap gel pada perut Secha yang mulai terlihat sedikit membuncit.

"Hai anak ayah.. Sehat selalu ya nak.. Ayah loves you so much.", ucap Seto dengan tangan yang masih sibuk mengusap perut Secha, meski gel itu sudah bersih tak bersisa.

Ahh.. Ya tuhan, hormon kehamilan ini?!?, Entah mengapa membuat Secha menitikan air matanya tiba-tiba. Perasaannya begitu sensitif, hanya kata-kata sederhana demikian dapat membuatnya hendak menangis karena terharu, meski tau, semua ini nampak semu.

Cut!

(un)Loved Wife [END/COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang