Siuman

52.5K 3.6K 217
                                    

Oiii oii oiii..
Update nihh ya😂😂

Cuss kuy mampir ke lapak baru aku.. Ramaikan juga disana...

Vote & coment yang buanyakk ya😂😂

Happy reading all😍
Koreksi typo😳😳

Love you😆😆

Secha berjalan lambat kembali keruangan Seto, dalam hatinya masih bertanya-tanya apakah telah terjadi sesuatu pada Wisnu(?) mengapa lekaki itu tiba-tiba berpamitan(?)

Dalam benak Secha terus bertanya-tanya, hingga pandangannya teralihkan pada gerombolan dokter dan suster berlari memasuki kamar inap Seto.

Tanpa banyak berpikir, Secha menerobos masuk ke kamar inap Seto. Tanpa mempedulikan ibu mertuanya yang sedang terisak diluar kamar Seto.

Seorang suster menghalangi jalan Secha untuk semakin mendekat, "Bu silahkan tunggu diluar." kata Suster itu mendorong Secha perlahan.

"Suami saya kenapa?!!", teriak Secha histeris, ia benar-benar khawatir.

"Mohon tenang ibu, dokter sedang berusaha menangani pak Seto, maka dari itu jangan mengganggu!", jelas suster itu menutup kamar inap Seto.

Secha memeluk mertuanya yang menangis sesenggukan.

"Kenapa tiba-tiba mas Seto begini buk?"

(Aku lupa nama emaknya Seto) Ratih menggeleng.

Air mata Secha kembali berlinang, ia tak siap kehilangan Seto, demi apapun ia tak siap dan ia tak rela.

****

Lama menunggu, Secha mulai tak tenang, berbagai macam spekulasi sudah ia tarik dan simpulkan, membuat hatinya semakin gundah.

Begitupun Ratih yang nampak melamun sambil sesekali meneteskan air mata, Joko menggenggam tangan istrinya seolah memberi kekuatan.

Syukurlah tak berselang lama seorang dokter paruh baya tanpa rambut keluar dari ruang inap Seto.

"Ibu Secha betul?", serobot dokter itu sebelum Secha bicara.

Secha cepat mengangguk. "Saya dok. Saya istrinya."

Dokter itu tersenyum ramah, "silahkan ibu boleh menemui pak Seto, beliau sudah siuman, dan sejak tadi hanya memanggil nama ibu."

"Terimakasih dokter.", Secha segera berjalan cepat masuk ke ruang inap Seto.

Lega luar biasa hati Secha saat melihat Seto membuka kembali matanya, setelah sebulan lamanya ia merindukan manik mata itu.

"Mas..", ucap Secha serak menahan air matanya. Air mata bahagia bercampur rasa lega.

Seto tersenyum tipis menatap Secha, senyum yang seribu kali lebih indah dari biasanya menurut Secha.

Seorang suster dan dua orang dokter disana nampak telah selesai mencopoti alat yang menempel pada ditubuh Seto.

"Silahkan ibu, kami permisi. Kalau ada sesuatu bisa langsung memencet tombol disana.", pamit sang dokter, Secha tersenyum mengangguk.

Tinggalah Secha dan Seto berdua di dalam ruangan ini, Secha seolah mematung, ia terlalu bingung dan sulit mengungkapkan kebahagiannya pada saat ini.

Berlari dan memeluk?

Haruskah?

Tanya dewi batin Secha.

Iya harus! Karena Seto merentangkan kedua tangannya, berharap dapat memeluk wanitanya, istrinya, ibu dari calon anaknya.

Secha menghambur dalam dekapan Seto, tumpah sudah air mata Secha.

Wanita itu memeluk suaminya yang masih dalam kondisi lemas dengan erat seolah takut kehilangan.

"Sudah, jangan menangis... Yang penting mas sudah siuman.", Secha mengangguk cepat mengiyakan ucapan Seto.

Secha melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Seto dengan begitu lekat dan teliti.

Air matanya kembali berlinang, "Ak-aku seneng banget mas akhirnya mas siuman.. Aku tadi takut banget.. Ak-aku takut mas---"

Secha tak melanjutkan kata-katanya, ia kembali sesenggukan, membuat Seto hampir saja terkekeh. Namun ia tahan, ia tak mungkin menertawakan istrinya yang sedang khawatir pada dirinya.

"Sttttt... dengerin mas!" tegas Seto.

Secha mencoba meredam isakannya meski sulit.

Kedua tangan lemas Seto menangkup pipi Secha.

"Mana mungkin mas tega meninggalkan kamu dan anak kita, mas selalu berdoa pada Allah agar kita selalu dipersatukan dalam keadaan apapun, sampai kita menua, memiliki banyak anak, bahkan hingga kita memiliki banyak cucu."

Secha tersentuh, Seto bukanlah tipikal penggombal, namun ucapan lelaki itu kali ini benar-benar membuat hatinya adem dan bahagia bukan main.

Cup

Secha mencium bibir Seto. Membuat mpunya sangat terkejut namun bahagia.

Sedangkan si Pelaku nampak malu-malu kucing.

"Oh iya, apakah Seto junior sudah bisa menendang?", tanya Seto mencoba mengalihkan rasa malu istrinya.

Benar. Secha mengangguk antusias, ia membawa tangan Seto ke perutnya  yang mulai tampak membuncit.

"Ajak dia ngobrol mas... Dia suka sekali diajak ngobrol."

Seto nampak menautkan alisnya, ia benar-benar kaku, tak tau harus mengatakan apa pada anaknya.

"Hai lil one.. Ini Ayah..", ucap Seto kaku dan ragu, membuat Secha terkekeh.

Duk

Senyum sumringah Seto terukir saat bayi yang ada di perut Secha memberikan respon tendangan. Tidak terlalu kuat, namun cukup terasa hingga ke telapak tangan Seto.

Tangan besar Seto begitu telaten membelai perut Secha dengan sayang.

Lelaki itu tersenyum ceria, meski dalam batinnya ia begitu tersiksa dan terluka.

Kenyataan pahit harus ia telan mentah-mentah saat dokter memberitahu bahwa ia lumpuh. Dan mungkin memerlukan waktu beberapa tahun untuk kembali normal.

****

Secha mengusap-usap dada Seto sambil sesekali mencuri aroma yang menguar dari tubuh suaminya itu.

Ya, Secha tidur disamping Seto, memang brankar Seto cukup besar hingga mampu menampung dirinya dan Seto.

Seto masih nampak betah mengusap perut buncit Secha.

"Cha.."

Secha bedehem.

"Kamu tau mas.. Ekhm..", lidah Seto mendadak kelu hanya untuk sekedar menyampaikan apa yang ada diotaknya.

Tanpa ia duga Secha mengangguk, "aku tau dan aku nggak peduli.."

"Aku nggak peduli bagaimana pun kondisi mas, aku akan tetap disamping mas..", Secha menatap lekat manik mata Seto.

"Kita harus sama-sama berjuang demi kesembuhan mas, kalaupun nantinya mas akan tetap lumpuh, aku siap menjadi kaki mas. Selama Allah masih mengizinkan, aku akan selalu menjadi pelengkap kekurangan mas,  dan aku pun berhadap demikian pada mas."

Mata Seto berkaca-kaca, ia begitu terharu mendengar penuturan istrinya.

"Mas janji akan sembuh sayang.."

Cut cut cut😂

(un)Loved Wife [END/COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang