"Irene, tunggu!" Seungwoo berhasil menggapai lengan Irene.
Ditariknya gadis itu agar menghadap padanya, "Kamu mau kemana?"
Irene menghempaskan tangan Seungwoo dan berbalik membelakangi laki-laki itu.
"Rene, jangan seperti ini," Seungwoo berucap sambil menatap punggung rapuh Irene. Kalau bisa, ia ingin sekali merengkuh Irene. Tapi gadis itu pasti akan berontak di keadaannya yang seperti sekarang ini.
"Jangan ganggu aku!"
"Saya ada untuk kamu, Rene."
"Bullshit! Semua bohong!"
"Saya tidak pernah membohongi kamu," tegas Seungwoo.
"Aku sudah mulai mempercayakan hatiku," Lirih Irene, "kenapa malah berakhir dengan rasa sakit ini lagi?"
"Apa yang sebenarnya kamu takutkan?"
"Dia selalu merebut apa-apa yang aku suka! Ayah, Ibu, kalian semua tidak tau, dia benar-benar merebut semua milikku. Aku membencinya!"
"Kamu mau berbagi semuanya dengan saya?"
Irene berbalik menghadap Seungwoo, menatap Seungwoo yang tampak sempurna di bawah remang-remang lampu malam.
"Kamu boleh dengan dia," kata Irene lirih. Memandang penuh kesakitan ke arah Seungwoo, "Ayah sangat jahat, Seungwoo-ya," Irene menangis tergugu.
Seungwoo mematung di tempatnya.
Irene, gadis cuek itu, setelah sebulan akhirnya memanggil nama Seungwoo, padahal Irene tidak pernah memanggil nama Seungwoo secara langsung.
Seungwoo merengkuh tubuh Irene kedalam dekapannya, ia merasa hatinya tercubit, mengetahui Irene yang menangis terisak.
"A-aku takut ..."
"Sssttt," Salah satu tangan Seungwoo bergerak mengelus pelan kepala Irene.
"D-dia selalu mengambil apa yang aku punya, mereka semua selalu berbalik padanya d-dan a-aku selalu ditinggalkan," isak Irene.
"Kamu takut saya pergi, Rene?"
Irene terdiam, tapi responnya yang balas memeluk Seungwoo erat sudah cukup membuat Seungwoo mengerti.
"Kamu harus tau, perasaan saya bukan barang yang bisa dipindah-pindah seenaknya, Rene," Bisik Seungwoo, "Saya selalu menunggu kamu untuk terbuka pada saya, menceritakan dengan jelas hal-hal apa saja yang membuatmu kalut. Tidakkah kamu percaya saya, Rene?"
Irene terdiam. Menyandarkan kepalanya yang berat ke dada Seungwoo. Mendengarkan bagaimana detak jantung Seungwoo yang berdetak terdengar begitu menyenangkan.
"Aku malu," Itu kalimat yang Irene ucapkan setelah sepuluh menit berada dalam keheningan dengan posisi berpelukan.
"Kenapa harus malu?"
"Aku pasti jelek, sekarang."
Seungwoo terkekeh. Tangannya makin mengelus kepala Irene dengan sayang.
"Aku butuh waktu. Pikiranku kacau."
"Tentu. Ayo saya antar."
"Aku mau sendiri, please ngerti," Kata Irene sambil menunduk.
"Baik, boleh saya tau kamu mau kemana?"
Irene menggeleng, "Yang jelas aku butuh waktu."
"Saya harap kamu tidak mencoba untuk membahayakan dirimu sendiri. Saya percaya kamu, Rene."
Irene mengangguk lalu berbalik berjalan meninggalkan Seungwoo.
"Irene," panggil Seungwoo.
"Kalau kamu masih berkeinginan membuat saya benar-benar menjadi milikmu, saya harap saya bisa menemukanmu di rumah Dongpyo,"
Irene memang diam. Tapi wajah gadis itu yang awalnya memerah karena menangis tadu jadi semakin merah mendengar Seungwoo berkata demikian.
Setelah memastikan Irene sudah masuk ke dalam taxi, Seungwoo berbalik ke arah rumah Irene.
"Maaf, Ayah?"
"Ada apa Seungwoo?"
"Bisa Ayah ceritakan tentang Irene?"
° to be continued °
Bae Irene

Han Seungwoo

KAMU SEDANG MEMBACA
CALON [completed]
Fanfiction"Bagus. Kalau begitu ayo buktikan." "Apa?" "Satu bulan ini kita jalan. Setelahnya terserah kamu, saya tidak akan memaksa." . Irene and her pretty goddes. Seungwoo and his daddy vibes. . (3 Juli 2019 - 17 November 2019)
![CALON [completed]](https://img.wattpad.com/cover/192799232-64-k739371.jpg)