Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 2

5.5K 323 5
                                        

Pagi ini aku sedang sibuk menimbang ikan segar pesanan salah satu restoran di kedai Jhon saat panggilan masuk ke ponselku. Sayang sekali panggilan itu tidak terjawab. Baru setelah aku menyelesaikan pekerjaanku dan membersihkan diri setelah jam kerjaku berakhir aku menghubungi nomor telepon yang tertera di layar dengan keterangan panggilan tak terjawab.

"Hallo." Seorang pria dengan suara bertimbre berat mengangkat teleponnya.

"Em . . . maaf, nomor ini menghubungi saya tadi." Kataku.

"Oh . . . anda nona Samatha?"

"Ya benar Sir . . ."

"Saya Sean Dexter."

"Oh . . . Mr. Dexter."

"Anda melamar melalui surel sebagai asisten rumah tangga sekitar seminggu yang lalu. Apakah anda masih available untuk posisi itu?" Tanyanya.

"Oh tentu saja . . . Kapan saya bisa datang untuk interview?" Tanyaku.

"Besok pagi mungkin."

"Tentu Sir Dexter."

"Ok nona Samantha, sampai bertemu besok."

"Terimakasih."

Panggilan kami terputus dan Jhon yang sudah berdiri di belakangku entah berapa lama bertanya.

"Kenapa kau tampak bahagia"

"Aku mendapat pekerjaan Jhon . . ." Aku berlari ke arahnya dan memberinya pelukan tanpa mempedulikan bau amis di antara kami.

"Benarkah?" Tanyanya.

"Em . . . panggilan interview lebih tepatnya."

Meskipun belum pasti mendapat pekerjaan setidaknya usahaku membuahkan hasil.

"Pulanglah, persiapkanlah dirimu sebaik mungkin." Kata Jhon sambil kembali memberiku pelukan.

"Thanks Jhon." Kataku kemudian. Air mataku hampir jatuh ketika pria berkulit hitam itu memelukku. Bagaimana tidak, dia adalah orang yang selalu ada jika aku dalam kesulitan, meski tidak berlaku sebaliknya. Banyak kejadian buruk yang dialami Jhon dan dia simpan sendiri karena tidak ingin menggangguku, tapi begitu aku datang padanya dan butuh banSir, dia selalu siap untukku.

Aku kembali ke apartment dengan sepotong dress berwarna biru tua yang kubeli dengan upahku minggu ini dari Jhon, bukan baju baru, ini preloved seseorang yang sudah bosan menjualnya dengan harga second. Dan ini juga karena Jhon yang menyarankanku untuk datang pada bibi Lili, dia tinggal di belakang kedai tempat kami berjualan.

Saat aku kembali ke rumah Arabelle tampak sedang menonton tv di ruang tengah.

"Hai . . ." Sapaku.

"Hai . . .kau pulang cepat hari ini." Katanya sambil menoleh padaku.

"Em . . . ya. Besok aku ada panggilan wawancara." Kataku malu. Panggilan wawancara seolah aku adalah calon karyawan sebuah perusahaan, padahal aku hanya melamar bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Dimana?" Arabelle tampak sangat antusias.

"Em . . . bukan sesuatu yang luar biasa." Kataku dengan kecut hati.

"Hei . . . pekerjaan kita, apapun itu akan menjadi luar biasa tergantung kita yang menjalaninya." Bell berusaha membesarkan hatiku.

"Aku melamar bekerja sebagai pembantu rumahtangga."

"Itu keren. . . Dimana?" Tanya Bell.

"Ini alamat yang harus kudatangi besok." Aku menunjukan ponselku pada Bell dan dia melihat alamat itu, alisnya mengrenyit.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang