Malam semakin larut, sementara Sean masih bergelayut di pelukan Sam dalam kondisi pikiran yang tak menentu.
“Kau tidak bisa tidur?” Tanya Sam dan Sean menggeleng.
“Lepaskan aku, tidurlah.”Kata Sean.
“Tidak jika kau nyaman.” Kata Sam, dan Sean mendongak menatap wanita itu. Entahlah, mungkin karena mereka sudah resmi menjadi suami isteri, Sean merasa bahwa intim tidak harus soal berstubuh. Sam menelan ludah, begitu juga Sean, seolah mereka haus satu sama lainnya.
“Bolehkah aku menciummu?”
Sam mengangguk pelan dan Sean beringsut, membuat dirinya cukup tinggi untuk menjangkau bibir Sam. Tubuh Sam menegang sedikit, tapi Sean meraih lehernya dan menyusupkan tangannya di tengkuk Sam.
Perlahan posisi Sam melunak, dia lebih relax menerima Sean. Semakin dalam dan baik Sean maupun Sam menikmatinya. Ciuman mereka manis tanpa saling memaksa, Sean berusaha masuk semakin dalam secara perlahan dan Sam menerimanya dengan senang hati tanpa harus terkejut apalagi menolak.
Sean bangun perlahan, hasratnya meninggi sedikit demi sedikit sampai mencapai titik tertentu yang membuatnya tidak bisa menerima jika malam ini hanya berakhir dengan ciuman. Sean menyusupkan jarinya di sela piyama tidur Sam dan membuat Sam melepaskan ciumannya seketika.
“Don’t move.” Kata Sean pelan dan Sam berusaha mengafirmasi dirinya untuk mengikuti kata-kata Sean.
Sean mengulangi ciumannya sementara jarinya menyentuh tali piyama dengan model kimono milik Sam lalu menariknya, membuat piyama berbahan sutera itu tidak lagi terikat kencang. Masih terus mencium, Sean menyusupkan satu tangannya di balik piyama Sam dan menemukan pakaian dalam Sam. Sam menahan nafas, dan Sean merasakannya, tubuh Sam kembali mengeras.
“Percaya padaku.” Sean melepaskan ciumannya dan berbisik pada Sam sambil menatapnya dalam. Sam mengangguk dan Sean menyibakkan piyama itu hingga jatuh sebatas pinggang Sam. Membuat Samantha terlihat seperti mermaid karena pinggang kebawah tertutup selimut.
“What a wonderful you are.” Tatapan nakal Sean diterima Sam dengan rona merah di pipinya. Dan setelah itu, Sean tahu betul bagaimana membuat Sam bertekuk lutut tanpa perlawanan juga tidak dalam kondisi terpaksa untuk menerima dirinya masuk. Hanya saat proses awal, saat Sean masuk melalui pintu utama, Sam menghela nafas dalam. Sean sedikit kejam karena dia tidak bertanya apakah Sam baik-baik saja, karena bahasa tubuh Sam sudah mengatakan semuanya. Ketika dia terlihat sangat relax dan tidak memotong irama pergerakan yang dia lakukan, Sean menganggap Sam bisa mengikuti step itu. Hingga akhirnya Sean melakukan gerakan dengan irama semakin cepat dan Sam mulai meliuk-liuk dengan suara-suara yang selama ini hanya dia dengar, dia mampu mengeluarkan suara-suara itu, bahkan lebih dramatis. Dan tentu saja mendengar suara erangan Sam, adrenalin Sean menanjak drastic. Sean menemukan puncaknya tepat setelah Sam tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Sean terhuyung dan jatuh ke pelukan Sam. Dan entah mengapa dia menemukan Sam menangis setelah mereka menemukan pelepasan mereka masing-masing dengan jarak waktu hampir bersamaan.
“Kenapa kau menangis?” Sam berbisik lirih sambil mengusap air mata Sam, dan wanita itu menggeleng, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Apa itu menyakitkan?” Tanya Sean khawatir, dan Sam menggeleng.
“Lalu apa?”
“Entahlah.” Jawab Sam. “Aku hanya tidak menyangka bisa melewati semuanya.”
“So . . . ini air mata bahagia?” Alis Sean bertaut, dia sedang mengukur ekspresi Sam yang sebenarnya sama sekali tidak terlihat dibalik telapak tangannya, tapi kemudian Sam membukanya dan merangkul Sean.
“Thank you.” Kata Sam, Sean tidak menyangka isterinya akan bereaksi semacam itu. Sekilas masalahnya terlupakan, melihat Samantha merasakan kebahagiaan karena bisa melawan traumanya tentu bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan perkara lainnya.
***
Sam meringkuk dalam pelukan Sean, kali ini pria itu masih terjaga sementara Sam sudah sangat kantuk.
“Tidurlah jika sudah mengantuk.” Kata Sean, dan Sam tak lagi bisa bersuara, dia hanya menjawab dengan “hem . . .” lirih. Beberapa saat kemudian dia jatuh tertidur, sementara pikrian Sean kembali pada persoalan masalalu antara Granny dan ibunya, juga ayah dan isteri mudanya. Ada apa dibalik semua drama keluarga ini? Apakah Granny adalah wanita yang kejam?
Sean beringsut turun dari ranjang setelah meletakan kepala Samantha di bantal yang nyaman juga menyelimuti tubuh telanjang isterinya itu. Dia turun, berpakaian kemudian menemukan ponselnya.
“Jim, . . . tolong cari tahu soal wanita ini.” Tulis Sean menggunakan aplikasi berbalas pesan, dia mengirim pula foto lembaran kertas lusuh bertuliskan nama wanita yang tadi pagi datang dan mengaku sebagai ibunya.
“Akan segera ku kabari.” Balas Jimy Hudson, seorang temannya yang berprofesi sebagai polisi.
Sean menunggu dengan gelisah, dia bahkan hampir frustasi dan mencari nama wanita itu di mesin pencari google. Tapi siapa yang akan mencatat sejarah tentang seorang pelayan di kota newyork yang menikahi keluarga pengusaha, lagipula usaha keluarga Dexter tiga puluh tahun lalu belum seluarbiasa sekarang.
Jika dia mengetik namanya sendiri yang keluar adalah berita tentang prestasinya dan bisnisnya. Beberapa skandal tentang hubungannya dengan seorang model yang tidak lain adalah Rou, dan itu sudah cerita lama. Tapi tidak ada yang menyebut nama wanita itu.
Sean menghela nafas dalam. Dia bahkan belum cerita pada Samantha isterinya perihal ibu kandungnya yang tiba-tiba datang menemuinya. Seperti apa yang selalu dia katakana, Sean hanya akan berbagi hal-hal manis dengan Samantha dan bukan sebaliknya.
Tidak bisa menemukan apapun dalam waktu singkat, kerna Jim juga butuh waktu paling tidak dua sampai tiga jam untuk menemukan data tentang wanita itu, jadi Sean memutuskan untuk kembali ke ranjang.
Dia duduk di tepi ranjang dan menatap Samantha, dia terlelap, begitu polos, jernih. Dia bahkan lebih mirip malaikat ketika tertidur dengan posisi seperti itu dimanta Sean.
“Jika Granny mengusir ibuku karena dia adalah seorang pelayan yang kemudian dinikahi puteranya, lalu mengapa dia malah memintaku menikahi Samantha? Bukankah Granny sedang mengulangi sejarah?” Batin Sean, tapi dia masih belum bisa menemukan benang merah diantara semuanya itu.
“Apa yang sebenarnya kau rahasiakan Gran.” Gumam Sean dalam hati. Tangannya menyentuh helaian rambut Samantha dan menyibakkannya, membuat wajah Sam begitu jelas meski lampu kamar itu cukup redup.
“Jangan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi.” Kata Sean, meski dia juga sadar bahwa kemungkinannya sangat kecil untuk Sam mendengarkannya.
----------
Wajib banget vote dan komen krn hari ini mak thor lagi rajiiinnn update lhooo
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomanceJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
