Hari berganti, entah mengapa hampir semalam aku menjadi sulit tidur. Rasa gugup menggangguku sepanjang malam, mendengar bahwa aku mungkin akan bekerja di rumah seorang konglomerat.
Aku bahkan belum pernah membayangkannya. Akan serumit dan seprotokoler apa berada di rumah mewah itu.
Aku sudah bersiap dengan rambut ekorkuda dan gaun biruku. Meski dengan peralatan seadanya, aku merias wajahku.
Saat aku keluar rumah, Bell bahkan belum bangun. Aku hanya meninggalkan tulisan di meja makan dengan sepiring spageti yang kumasak untuknya sarapan pagi ini.
Aku sedang menunggu taksi yang kupesan saat kendaraan Jhon melintas dan tiba-tiba berhenti.
“Hai nona muda.”
“Jhon . . .”
“Aku baru saja mengantar pesanan, dan ikan segar baru akan datang nanti siang. Bagaimana kalau ku antar untuk interviewmu hari ini.”
“Apa kau serius?”
“Tentu saja.” Katanya dengan senyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih.
Aku naik ke mobol tua milik Jhon yang membawaku ke sebuah kawasan perumahan elite di New York, tepatnya di Brooklyn.
Kami menuju sebuah penthouse super besar.
“Apa kau yakin ini alamat yang kita tuju?” Tanya Jhon khawatir, dan entah mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Mungkin kita salah alamat.” Kataku panik.
“Kita coba dulu.” Jhon meraih tanganku dan meyakinkanku, aku menarik nafas dan mengangguk. Kami turun dari mobil dan menekan tombol di dinding sisi kanan, pagar besar itu terbuka secara otomatis. Akhirnya kami kembali ke dalam mobil dan masuk ke area rumah. Di sisi kanan kiri tampak seperti taman yang sangat terawat dengan pohon palm di sisi kanan kiri jalan yang kami lalui. Cukup jauh kami berkendara hingga kami tiba di depan sebuah rumah besar yang tampak mewah.
“Jhon . . . aku tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan.” Kataku begitu kami berada di depan pintu besar rumah itu.
“Tenanglah . . . kau pasti bisa melaluinya.”
Pintu tiba-tiba terbuka dan seorang wanita tua dengan pakaian formal berdiri di balik pintu.
“Selamat pagi nona muda.” Katanya ramah.
“Selamat pagi, aku Samantha.” Kataku memperkenalkan diri, tanpa nama belakang.
“Oh . . . aku Susan Dexter.” Kata wanita tua itu mengulurkan tangannya. “Silahkan masuk.” Katanya.
“Terimakasih nyonya Dexter.” Jawabku ragu, sementara Jhon mengangguk.
“Hubungi aku jika kau butuh tumpangan pulang.” Bisiknya.
“Tentu.”
“Oh . . . kekasihmu tidak menunggumu?” Tanya Mrs. Dexter menoleh ke arah Jhon yang berjalan menuju mobilnya.
“Tidak . . . em . . . dia temanku nyonya Dexter.”
“Oh, semua pria pasti ingin berteman denganmu nona muda. Kau sangat menawan.” Senyumnya dan jantungku kembali berdegup kencang.
“Duduklah.” Katanya begitu kami sampai di sebuah ruangan besar, seperitnya ini ruang tengah dari rumah ini, entahlah, rumah ini sangat luas, aku bahkan tidak bisa membedakan mana tepi mana tengah, semua terlihat seperti di tengah, karena untuk mencapai ruangan ini kami harus melewati banyak ruangan.
Tak lama setelah kami duduk, seorang wanita setengah baya muncul dengan dua cangkir teh yang masih mengepul.
“Aku suka teh hijau.” Kata Mrs. Dexter sambil mengambil cangkir dari atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomanceJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
