Pagi ini aku sudah bersama dengan Pablo dalam perjalanan menuju rumah Mr. Sean Dexter. Kami berangkat sangat pagi, karena aku harus sampai di sana sebelum Mr. Sean bangun pagi.
Pablo adalah orang yang tidak banyak bicara, mungkin orang-orang yang tinggal di rumah itu memang tidak banyak bicara kecuali Mrs. Susan Dexter. Bahkan Mr. Sean Dexter pun tidak.
Marry dan Sarah tidak tahu jika semalam dia minta aku memijit kepalanya. Entahlah, akan seperti apa nasibku jika mereka tahu hal itu. Merry mungkin tidak bermasalah, tapi Sarah . . . dia bisa saja menelanku bulat-bulat.
Begitu tiba di rumah besar itu aku segera ke ruangan belakang tempat Merry berada. Dia segera menunjukan kamar yang akan kutempati dan setelah itu aku bersiap mengenakan seragamku.
Aku bergegas ke pantry untuk mengambil kopi buatan Sarah dan mengantarnya pada Mr. Sean.
Tok Tok
Aku berdiri di ambang pintu dalam keheningan, entah mengapa bulu kudukku tiba-tiba berdiri mengingat kejadian tadi malam. Itu kali pertama seorang pria berada begitu dekat.
Em . . . sepertinya aku melupakan sesuatu, pagi hari aku tidak harus menunggu jawaban karena Mr. Sean pasti sedang mandi.
Aku terlonjak karena ketika aku masuk dia tampak sedang mengancingkan kemejanya di hadapan sebuah cermin besar.
“Maaf Sir.” Aku berbalik. “Maaf saya terlambat.” Kataku berniat untuk keluar lagi dari kamar itu.
“Letakkan kopi itu di meja dan ambil dasi di laci lalu ikatkan padaku.”
Aku terdiam beberapa saat, dengan gemetaran kuletakkan cangkir kopi itu di meja kecil sebelah tempat tidur lalu berjalan ke arahnya. Aku tidak yakin laci mana yang ia maksudkan.
“Laci di sebelah kirimu.” Katanya dan aku menurut, ku buka laci itu perlahan, dan karena dia mengenakan kemeja berwarna putih, aku memilih dasi abu-abu tua, karena aku tidak melihat warna lain yang cocok dengannya.
“Ini?” Aku bertanya ragu dan dia meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.
“Pasangkan.” Katanya.
Aku berjinjit untuk mengalungkan juntaian dasi ke balik kerahnya, menaikkan kerahnya lalu mulai mengikat. Untung saja aku dulu sering mengikat dasi untuk pak tua di yayasan tempatku dirawat setelah ibuku meninggal. Aku memanggilnya Opa, kami sama-sama berwajah asia, dan dia satu-satunya orang yang bisa menjadi tempatku mencurahkan segala isi hatiku.
“Terimakasih.” Katanya setelah aku selesai mengikat dasi untuknya.
“Mulai besok lakukan itu setiap hari.” Katanya dan aku melongo menatapnya.
“Kenapa? Kau keberatan?” Tanyanyan dan aku tersadar.
“Tentu tidak Sir. “
“Ok. Kau boleh keluar.”
Aku mengangguk dan keluar dari kamarnya, naas memang di depan pintu kamarnya aku bertemu dengan Mrs. Susan Dexter. Dia tersenyum menatapku.
“Kau terlambat memberinya kopi?” Tanyanya
“Tidak nyonya.” Aku menggeleng.
“Sudah lebih sepuluh menit, kenapa kau baru keluar dari kamar Sean? Apa dia memarahimu?” Tanyanya dengan wajah cemas.
“Tidak nyonya, Mr. Dexter memintaku memasangkan dasi.” Kataku dan alis Mrs. Susan Dexter berkerut dalam.
“Coba katakana sekali lagi.” Katanya dan belum sempat aku menjawab, pintu dibelakangku terbuka dan Mr. Dexter tampak membuka pintunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomantikJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
