Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 17

3.5K 319 32
                                        


(Sean POV)

Rasanya seperti tersambar petir ketika Samantha menyebut nama Catherina. Gadis itu menghilang tanpa jejak setelah peristiwa pencurian berlian Granny. Seperti ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul di hati, sorot mata gadis polo situ kembali terkenang. Dia yang tidak pernah menangis meski terus dihujani tuduhan bahkan Rou sempat berlaku kasar dengan memukul gadis itu dengan tas miliknya hingga keningnya terluka.

Aku sadar betul Samantha mempertanyakan perasaanku padanya. Aku sedikit goyah ketika tatapan Samantha padaku sama persis dengan tatapan Catherina saat terakhir kali sebelum dia meninggalkan rumah ini.

Tapi aku benar-benar mencintai Samantha, meski jujur perasaanku pada Samantha sama dengan perasaanku pada Catherina ketika pertama kali aku melihatnya. Melihat Samantha masuk kedalam rumahku dengan mata, bibir, dan senyum yang mirip dengan Catherina membuat hatiku tergetar. Kemudian aku tertarik untuk menyelidiki latar belakang gadis itu sampai aku menemukan fakta yang mencengangkan. Dia adalah gadis yang mengalami hal buruk, mirip dengan apa yang terjadi pada Catherina. Bedanya Catherina menceritakan itu sendiri padaku sementara Samantha datang dengan kondisi baik-baik saja tanpa mengesankan bahwa dia sudah mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya.

Rasa penasaran, iba dan empaty bercampur menjadi satu. Seperti pada Catherina, aku juga ingin melindungi gadis bernama Samantha itu. Tapi kemudian aku menemukan fakta baru tentang dirinya, soal gangguan psikologisnya yang menurutku sangat mengenaskan. Di usianya yang sudah cukup matang dia belum pernah bersentuhan dengan seorang priapun didunia ini.

Semua masih tentang rasa iba bahkan sampai Granny memintaku menikahinya. Mungkin Granny merasakan hal yang sama, ada kemiripan antara Samantha dengan Catherina. Mereka sama-sama pandai mencuri hati.

Tapi semua berubah menjadi lebih jelas ketika Samantha membohongiku, dia bilang dia ingin menemui temannya Bell dan ternyata menemui pria bernama Jhon. Aku menjadi marah, gelisah, kesal dan merasa menjadi pecundang. Mulai saat itu aku menemukan diriku tidak bisa membagi Samantha dengan orang lain. Aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya.

Dan semuanya menjadi semacam gelombang besar dalam diriku yang menghantam kesadaranku soal perasaanku yang selama ini tidak pernah kugunakan, kusimpan entah dimana.

Ok, jujur aku adalah orang yang sangat mudah iba dengan kesusahan orang lain. Dan itu bukan kelebihan, itu kekuranganku. Aku bahkan kadang sulit membedakan mana orang yang benar-benar membutuhkan bantuanku dan mana yang hanya ingin memanfaatkanku. Aku hanya senang bisa membantu orang dan justru rishi ketika mereka dengan seluruh perasaan datang padaku dan berterimakasih. Aku bahkan tidak pernah ingin menerima ucapan terimakasih dari siapapun.

Dan Samantha datang sebagai satu-satunya orang yang menolak kebaikanku. Dia sangat unik, menarik dan berbeda. Dia rapuh, lemah, dan mengenaskan tapi dia selalu tidak ingin dikasihani. Bagiku dia istimewa. Disaat begitu banyak orang yang merongrong rasa ibaku dan meminta uluran tangan, dia justru menolakku. Disaat semua gadis berpikir bisa tidur denganku dan memenuhi rekening mereka dengan uangku, dia menolak untuk kusentuh.

Yang menjadi PR bagiku sekarang adalah bagaimana aku menjelaskan pada Samantha bahwa Catherina sangat berbeda dengan dirinya. Ok mereka pernah berada di posisi yang sama di rumahku, tapi tidak di hatiku. Catherina berakhir sebagai seorang pekerja di rumahku yang pada saat aku melepasnya hatiku hancur karena aku tidak bisa mempertahankannya di rumah karena Rouwina, gadis yang kukencani tanpa melibatkan perasaanku itu. Aku hanya tidak ingin Rou nekat menyakiti Catherina suatu saat. Itu sebabnya aku melepas Catherina dan membiarkannya pergi dari rumahku.  Tapi Samantha, bahkan jika aku harus melawan seluruh dunia demi memilikinya, akan kulakukan.

Aku menarik nafas dalam, lalu segera keluar dari kamarku menuju kamar tamu di lantai satu. Rumah sudah sepi, kurasa Granny sudah tidur, perawat dan dokter sudah tidak berjaga duapuluh empat jam karena kondisi Granny semakin baik. Gloria juga tidur di kamar Granny dengan ranjang kecil di sisi lain kamar Granny untuk bisa mengawasi jika Granny butuh apa-apa. Jadi di lantai satu hanya ada kamar tamu yang mungkin penghuninya belum bisa terpejam, Samantha.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang