Samantha tampak terduduk di ranjang, di dalam kamar hotel. Sementara pria itu entah dimana, setelah pernikahan pagi tadi berjalan mulus dan pesta jamuan makan malam dihelat di sebuah hotel berbintang di kota itu.
Sean masuk ke kamar setelah Sam selesai merapikan dirinya dan siap untuk tidur. Tapi dia sepertinya tidak akan bisa tidur malam ini begitu Sean masuk kedalam kamar.
"Hei." Sapa Sean ringan sembari masuk kedalam kamar dan melepas tuxedonya.
"Hei." Balas Sam lirih.
"Tidurlah jika kau lelah." Kata Sean sembari berjalan ke arah kamar mandi. "Aku akan mandi." Imbuhnya dan Sam mengangguk. Di benaknya dia masih tidak percaya bahwa pagi ini Sean akan datang setelah semua orang dibuat cemas karena harus menunggu lebih dari satu jam di gereja. Bahkan Granny hampir pingsan karena tidak siap jika cucu kesayangannya itu pada akhirnya tidak datang ke pernikahan yang sudah dia rancang susah payah untuknya dan Samantha.
Sementara Sam, awalnya dia cemas, tapi kemudian pasrah dan ketika Sean datang dengan tuxedo dan menyetir sendiri mobil mewah kesayangannya dan berhenti di halaman Gereja tepat di depan pintu masuk, saat itu seolah jutaan kupu-kupu terbang di dadanya. Sean turun dari mobilnya masih dengan kacamata hitam, berjalan percayadiri masuk kedalam gereja. Melepas kacamatanya dan menyelipkannya di balik tuxedo lalu berjalan ke depan altar dengan didampingi Granny.
Tidak banyak yang datang, hanya teman-teman dari keluarga Dexter, dan juga beberapa kolega keluarga Dexter dan beberapa juga kolega Sean. Sean mengucapkan janjinya dengan mantab, sementara Sam justru sebaliknya, dia terbata.
Dan sekarang, kenyataannya mereka adalah sepasang suami isteri di dalam kamar hotel ini. Samantha meringkuk, membungkus dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya meski isi kepalanya liar berlarian entah kemana. Dia memikirkan bagaimana jika Sean meminta haknya mala mini? Bagaimana jika dia tidak menepati janjinya soal menunggu Samantha hingga dia siap menerima Sean seutuhnya. Atau bagaimana jika karena keterbatasan Sam, Sean bahkan tidak berniat menyentuhnya sama sekali?
Samantha terkejut begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dia segera menutup matanya lebih rapat, sementara Sean sedang keluar dari kamar mandi dengan piyama mandi sembari mengeringkan rambutnya. Sean baru naik ke atas ranjang begitu selesai mengganti pakaiannya dengan piyama tidur berwarna biru tua.
Dia berbaring di ranjang dengan satu tangannya menyangga kepala sementara satu tangannya terlipat di atas perut, matanya tertutup. Dia sengaja memejamkan matanya, karena hari ini begitu melelahkan baginya.
***
Kenangan tentang tadi pagi kembali menyeruak begitu dia menutup matanya. Sean sedang bersiap untuk pergi ke gereja tempat dia dan Sam akan melangsungkan pernikahan ketika seorang wanita datang padanya. Wanita itu tampak sudah menunggu di ruang tamu, dan saat Sean meminta diri karena sedang terburu-buru wanita itu memanggilnya dengan sebutan "Son."
Seluruh dunia Sean hancur seketika melihat wanita itu, dia terlihat tidak terlalu baik karena dia datang dengan wajah pucat. Sean mengurungkan niatnya untuk pergi, dan entah mengapa, meski selama ini dia membenci ibu yang meninggalkannya, begitu menatap mata biru milik wanita itu hatinya luluh. Sean memberinya pelukan pada akhirnya setelah wanita itu memohon. "Give me a hug Son." Katanya, dan setelah memberikan pelukan, wanita itu sempat menangis histeris selama beberapa saat sebelum akhirnya bisa mengendalikan diri dan menceritakan semua yang terjadi padanya selama ini.
"Aku Amanda Carl. Aku yakin ini kali pertama kau mendengar namaku nak." Kata wanita itu dan Sean terus mengamati ekspresi wanita itu, tidak ada yang lain selain ketulusan.
"Aku menunggu selama tigapuluh tahun untuk akhirnya menemukan keberanian menentang dunia untuk menemukanmu." Katanya lagi.
"Katakan kenapa kau meninggalkanku?" Tanya Sean.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomanceJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
