Sean keluar dari kamar tamu dan dia mendengar keributan yang terjadi di kamar Granny. Dia segera berlari ke sana dan mendapati Granny tengah berkacak pinggang berdiri di dekat tempat tidurnya.
“Aku tidak sudi kau tinggal di sini.” Kata Granny dengan tubuh gemetaran.
“Mama . . .” Mr. Dexter tampak berusaha meraih wanita tua yang berdiri saja dia sangat kesulitan, tapi karena amarah dia sanggup melakukannya bahkan mungkin berjam-jam.
“Gran . . .” Sean berjalan mendekati wanita itu, dan meraihnya dalam dekapan.
“Apa yang terjadi di sini?!” Bentak Sean. “Keluar kalian semua dari kamar ini!” Bentaknya lagi. Dan entah mengapa jika Sean sudah ikut turut andil dengan kemarahannya semua ketakutan dan pergi dari tempat itu, menyisakan Gloria, Granny dan Sean di dalam kamar. Sementara Mr. Dexter keluar dengan perasaan bersalah dan isterinya dengan bersungut-sungut.
“Apa yang terjadi?” Kata Sean setelah membopong neneknya kembali ke ranjang.
“Ular betina itu ingin tinggal di rumah ini.”
Sean menarik nafas dalam.”Kalau begitu kita akan pergi ke rumahku.”
“Enak saja, aku tidak sudi dia menikmati semua fasilitas yang ada di sini.” Kata Granny kesal.
“Granny, jangan pikirkan itu semua. Bagiku kesehatan Granny yang paling utama.”
“Apa . . . kenapa mereka harus datang jika tujuannya adalah mengusirku atau membuatku mati kesal.”
“Gran . . .” Sean memohon.
“Usir mereka dari sini, aku tidak ingin melihat mereka di rumahku.”
Sean menarik nafas dalam.”Mereka tidak akan punya kesempatan datang jika Granny tidak menghubunginya.”
“Aku menghubungi puteraku, lalu mengapa ular betina itu ikut datang dengannya.”
“Ular itu . . . ah, siapapun namanya, dia adalah isteri puteramu, jadi wajar jika dia datang bersama puteramu.” Sean mulai terlihat frustasi, dia merasa masalah menjadi semakin berat karena seluruh kesadarannya terkuras untuk memikirkan Samantha.
“Ok . . . fine. Gloria, katakana pada mereka untuk segera angkat kaki dari sini.” Kata Granny geram. “Kau juga, jangan berada di sini jika kau menentangku.” Kata Granny pada Sean kesal.
“Gran . . .”
“Lepaskan tanganmu.” Granny menarik tangan keriputnya dan Sean melepaskannya. Bukan karena Sean benar-benar ingin lepas, dia hanya tidak ingin tangan Granny terluka jika Sean memaksa mengenggamnya.
“Ok.” Sean berjalan keluar dari kamar itu, dan begitu sampai di ambang pintu dia segera menghubungi dokter keluarda dan perawat untuk datang ke rumah Granny dan menjaganya. Sean sendiri memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah melihat ayah dan isteri ayahnya pergi dari rumah itu.
Ada perasaan campur aduk ketika ayahnya berniat memeluknya dan Sean mengangkat satu tangannya, memberikan batas dan jarak yang sangat jelas.
Sean segera menuju mobilnya dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan sekretarisnya coba menghubungi tapi tak satupun panggilan yang dia angkat. Baru sampai di rumah dia langsung masuk ke ruang kerja, membanting dirinya di kursi kerjanya dan segera menelepon balik sekretarisnya.
“Kosongkan semua jadwalku hari ini.”
“Tapi direktur perusahaan rekanan sudah ada di kantor untuk bertemu anda Sir.”
“Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakana barusan?” Tanya Sean dengan nada rendah dan dingin.
“Saya mengerti Sir.”
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomanceJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
