Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 9

4.3K 287 30
                                        

Tiga hari sudah Granny kembali dalam keadaan koma. Dan selama tiga hari itu juga praktis Mr. Dexter tidak beranjak dari rumahsakit. Dia tidak pernah keluar dari ruangan Granny kecuali jika sekretarisnya datang dengan setumpuk dokumen untuk di tandatangani.

“Anda harus makan Sir.” Kataku sambil menyodorkan makanan dalam kotak makanan yang sengaja kubawa ketika aku kembali dari rumah besar itu.

“Letakan saja di situ.” Katanya.

“Anda harus menjaga kesehatan anda.” Kataku tetap menyodorkan kotak makanan itu dan dia mendongak menatapku.

“Aku tidak ingin makan.”

Aku mengulurkan tanganku, “Ikutlah denganku sebentar, Gloria akan menggantikan anda menjaga Granny.” Kataku dan saat menoleh ke luar kaca dia melihat Gloria di luar akhirnya dia membalas uluran tanganku dan bangkit. Kami berjalan keluar ruangan dan Gloria masuk tanpa di minta. Dia bahkan tahu apa yang harus dilakukan tanpa perintah apapun.

Kami berjalan sampai ke balkon dan duduk di sebuah kursi.

“Makanlah.” Kataku sekali lagi dan dia menarik nafas dalam.

“Aku tidak lapar.”

“Aku melihat anda makan terakhir kali kemarin siang. Jangan biarkan lambung anda kosong terlalu lama.” Kataku sambil membuka kotak berisi tumisan daging dan salad. Aku mengambil dalam sendok dan menyodorkannya ke depan mulutnya. Dia menoleh padaku, dan aku tetap bersikeras untuk bisa memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Kulihat rahangnya sekilas mengeras, setelah itu dia membuka mulut dan mengunyah makanan yang disiapkan Mr. Mendez ini.

“Granny sering melakukannya untukku jika aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan.” Katanya dengan mata yang menerawang jauh, mengenang hal-hal tentang Granny memang bukan perkara mudah mengingat kondisi Granny saat ini.

“Aku hanya menggantikan tugas Granny sementara, jika Granny sudah pulih, dia yang akan melakukannya untuk anda.” Kataku sambil menyodorkan suapan kedua dan dia membuka mulutnya lagi.

“Kadang Gran datang ke ruang kerjaku dengan semangkuk daging dan salad, sementara aku sibuk, dia duduk di sampingku dan menyuapiku.” Katanya sambil menatapku. “Itu kekanak-kanakan, tapi Gran pernah bilang bahwa dia akan merasa bahagia jika aku tidak banyak protes.” Senyum sekilas mengembang di wajahnya.

“Dia juga sering tiba-tiba datang dan memijat kepalaku, atau memasangkan dasiku.” Imbuhnya.

“Entahlah . . . aku merasa tidak akan pernah siap kehilangan Granny.” Katanya.

“Aku tahu.”

Kami terdiam setelah itu dan dia berhenti di suapan ke tiga. Meski itu jauh dari kata cukup, tapi setidaknya dia sudah memakan sesuatu  pagi ini.

“Aku akan turun dan membawakan kopi untuk anda.” Kataku.

“Istirahatlah.” Katanya.

Aku tersenyum. “Akan kulakukan jika aku memerlukannya.”

Memang begitu Granny kembali koma, praktis aku tidak pernah benar-benar istirahat. Malam hari aku akan menemani Mr. Dexter berjaga. Karena kami bergantian jaga jika malam tiba. Setelah itu aku akan pulang sebentar untuk mengambilkan pakaian bersih untuknya juga makanan dari rumah. Karena alerginya, Mr. Dexter tidak terbiasa memakan makanan sembarangan di luar. Setelah itu sepanjang hari aku akan berada di rumahsakit, begitu seterusnya hingga hari ini.

Saat aku bangkit dan berniat meninggalkannya dia meraih tanganku, membuatku terkejut dan menoleh ke arahnya yang masih duduk.

“Terimakasih.” Katanya lembut dan entah mengapa rasanya seluruh tubuhku merasakan getaran haru saat mata itu menatapku dalam.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang