Hampir sepanjang sisa hari setelah keluar dari kamar Sean, Sam memikirkan soal pilihannya. Pukul tiga adalah garis finish dari semua yang terjadi antara dirinya dan Sean. Ada dua pilihan, dia berhenti di tengah jalan dan tidak menyelesaikan pertandingan atau berlari hingga garis finish dan melihat apa yang ada setelah garis itu?
"Bell . . , kumohon katakana sesuatu." Sam menunggu respon Arabelle setelah semua ceritanya tentang Sean Dexter dan hubungan mereka sementara bagi Bell, cerita itu seperti ledakan tabung gas duapuluh lima kilo yang menghancurkan kesadarannya hingga ke sel terkecil.
"Bell . . . kau masuh mendengarku?" Tanya Sam memastikan.
"Ya . . . aku masih mendengarmu, aku hanya tidak tahu harus bicara apa soal ini." Kata Bell.
"Aku tidak punya waktu, aku hanya memiliki sisa waktu satu jam dari sekarang. Apakah aku harus mengiyakan ajakannya atau menolaknya."
"Sam . . . ini akan menjadi sejarah baru bagi kehidupanmu menikahi seorang miliarder."
"Aku tidak berpikir soal itu Bell, aku hanya tidak yakin bahwa dia akan menerimaku apa adanya."
"Kalaupun pada akhirnya dia meninggalkanmu setidaknya kau sempat menikmati kehidupan super mewah." Seloroh Bell kemudian.
"Aku serius Bell . . ."
"Dan kurasa kau bertanya pada orang yang salah Sam, karena jika itu aku maka aku akang mengiyakan pada kesempatan pertama, menikahi seorang miliarder, kapan lagi."
"Bell . . ." Sam mulai lelah. Yang dia inginkan sebenarnya adalah dukungan yang serius karena bagi Sam ini bagaikan hidup dan mati, sementara bagi Bell, ini semacam permainan judi.
"Ok, akan ku tutup teleponnya." Kata Sam lirih, jelas sekali raut wajah kekecewaan yang terpancar dari dirinya ketika memutus sambungan telepon dengan Bell. Sam meraih gagang pel dan mulai mengepel lantai. Mungkin dengan menyibukan diri dengan pekerjaan, dia bisa melupakan segala sesuatu termasuk soal jam tiga sore.
Sam baru saja menyelesaikan pekerjaan mengepelnya saat tiba-tiba Sarah datang tepat pukul dua tigapuluh menit dan membawakan setumpukan kain kotor lagi.
"Aku baru saja mengganti semua sprei dan gorden." Sam tampak bingung melihat tumpukan kotor sprei dan gorden lagi.
"Ya, tapi ini harus dibawa ke binatu sekarang." Kata Sarah.
"Bisakah aku membawanya ke binatu besok?" Tanya Sam, lebih terlihat seperti sedang memohon.
"Tidak, kau harus membawanya sekarang, karena aku sudah berjanji dengan Nyonya Silverster untuk mengantarnya hari ini." Kata Sarah ketus sambil meninggalkan Sam tanpa pilihan.
Sam membawa keranjang itu keluar dari rumah, dan entah mengapa Sean yang sedang berada di balkon melihat gadis itu keluar dari rumah dengan keranjang penuh cucian. Sean hanya mengamatinya pergi, dia sudah tahu jawaban dari Sam untuk ajakannya bertemu Granny pukul tiga sore.
Sepanjang jalan Sam melihat ke jam tangannya, jam tiga kurang lima belas menit. Dia bergegas kembali ke rumah begitu selesai menyerahkan semua sprei dan gorden kotor itu pada binatu yang sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Dexter.
Sean tengah turun dari tangga dan menuju ke garsi mobilnya. Setelah menemukan kunci mobil di sakunya dia segera masuk kedalam mobil. Dan entah mengapa, beberapa detik setelah mesin mobil menyala Sam muncul di depan mobilnya dengan nafas terengah-engah, rambut berantakan. Dia bahkan tidak bisa bicara, hanya terus terengah dan hanya memegangi dada sambil membungkuk dengan tangan bertumpu pada body mobil Sean. Sean mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobil, kemudian menghampiri Sam.
"Apa yang kau lakukan di situ?" Tanya Sean, sementara Sam masih belum bisa menjawab, dia masih mengatur nafas.
"Aku . . ." Sam menelan ludah. "Aku ingin ikut." Katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco Publisher
RomanceJangan Lupa Follow Akun saya ya 🤗 --------------- Telat nikah . . . Masih perawan diusiaku yang ke dua puluh enam tahun, dianggap sebagai kutukan yang harus ku tanggung seumur hidupku. Semua orang mentertawakanku termasuk Arabelle, orang yang sudah...
